Jumat, 27 Februari 2026

Maman Badruzzaman dan Kisah tentang Sama-Sama Berutang, Sama-Sama Belum Dibayar, Sama dengan Impas

Pak Maman bersama murid-muridnya
 (Foto: FB Anie Apriyanie) 
Untuk Pak Maman Badruzzaman

Memasuki kelas tiga, saya pastikan diri masuk jurusan bahasa. Tidak ada pertimbangan khusus sebelumnya, kecuali menghindari pelajaran hitungan dan lumayan senang pelajaran bahasa Indonesia. Tak ada selain itu. 

Namun celakanya, mesti berhadapan dengan tiga bahasa asing; Jepang, Inggris dan Arab. Masing-masing 10 jam pelajaran tiap minggu. Hanya bahasa Arab, kalau tidak salah, berkisar antara 4-6 jam. 

Perempuan yang Sukarela Disebut Kekasih, Earphone, dan Selera Musik yang Deadlock

Saya dengan perempuan yang disebut kekasih
(Foto: penumpang tak dikenal)
Untuk Nelly Korabe

Saya berusaha memiliki earphone tiada lain adalah agar bisa mendengarkan lagu bersama seseorang, seseorang yang dengan sukarela dipanggil kekasih. Dengan earphone itu, saat bersama dalam suatu perjalanan, kami akan mendengarkan musik bersama: satu ke telinga saya, yang lainnya ke telinga seseorang yang dengan sukarela disebut kekasih tersebut. 

Tak ada pihak lain yang berkepentingan atau tidak, yang turut serta mendengarkan lagu tersebut, bahkan penyanyi dan pengiring musiknya. Mutlak kami berdua.

Kamis, 26 Februari 2026

Tentang Pertemuan Tak Terduga denganmu

Gandeng tangan (Foto: indonesiana.id)
Kita –lebih tepatnya aku dan kamu- sudah lama tidak bertemu. Aku tidak tahu bagaimana kabarmu sekarang. Kamu pun mungkin tidak tahu keadaanku. Aku berharap apa yang kaugumuli sekarang baik adanya. Tapi aku pernah punya keyakinan bahwa aku akan bertemu lagi denganmu dalam keadaan dan suasana berbeda. Dengan kedudukan dan status yang berbeda. Dengan kesan dan perasaan yang tak bisa kuduga. Seperti pertama kali kita bertemu tanpa diduga-duga. Seperti hidup itu sendiri yang sulit diduga. 

Tiba-Tiba Aku dan Kamu

(Foto: https://www.hipwee.com/)
Aku berjalan-jalan, ke mana saja mengikuti keinginanku. Bukan sedang menikmati hari, atau pemandangan, mencari angin, atau sedang mencari sesuatu atau seseorang. Tidak. Aku berjalan-jalan karena memang aku ingin berjalan-jalan. Dan itu kebiasaanku. Berjalan-jalan ke mana? Sudah kubilang aku tidak punya tujuan. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Cukup! Dan jika aku menemukan sesuatu, bukan salahku. Itu kebetulan saja. Dan jika tidak menemukan sesuatu, itu juga bukan salahku. Niatku cuma berjalan-jalan, tak bermaksud mencari atau menemukan.

Tak Tahan dengan Masjid Tanpa Al

Masjid Cilulumpang yang sekarang
jadi Al-Mubarokah (Foto: Dok. Pribadi) 
Masjid kampung saya didirikan pada tahun 50-an. Semula hanya masjid panggung saja; berdinding bilik beratap rumbia. Tak ada bedug, kentongan, apalagi pengeras suara yang biasa digunakan untuk memanggil sambeang atau netepan.

Masjid tanpa bedug, ibarat biola tak berdawai, sayur tanpa garam atau wartawan tanpa koran. Lebih tepat juga perokok tanpa korek api. Atau dalang tanpa wayang, akun FB tanpa status. Mohon maaf satu lagi, negara tanpa fungsi presiden.

Komik Tatang S. dan Riwayat Berkenalan dengan Tsb

Tatang S. sebelah kanan
dan salah satu karyanya (Foto: fimela.com) 

Tukang cilok, tukang bakso, tukang bandros, tukang mainan, dan tukang-tukang lain, setiap tahun akan datang ke halaman madrasah Miftahul Aulad. Mereka mengais rezeki saat pesta kenaikan kelas atau samenan. 

Gadis-gadis berrok maksi, berbaju panjang, dan kerudung longgar menutup kepala. Sesekali menggelesot, terjuntai di pundak hingga rambut hitam dan lehernya terkuak sekilas. Kerudung mereka memang bebas terjun, khas tahun 90-an.

Rabu, 25 Februari 2026

Nostalgia 90 (4): Inka Christie dan Amy Search tentang Bulan Madu di Awan Biru

Inka Christie dan Amy Search 
(Foto: Thumbnail YouTube
TITIKTERANG CHANEL musik jadul 90an)
 
Bulan madu di awan biru

tiada yang mengganggu

Bulan madu di atas pelangi

Hanya kita berdua

Pertama kali saya dengar lagu ini justru bukan dari mulut primer, tapi sekunder, seorang gadis tetangga, ketika saya belum masuk SD. Dia begitu menikmati lagu ini sambil menanak nasi di rumahnya.

Saya Pernah Kentut dalam Sumur, Bagaimana dengan Saudara?

Bukan sumur ini
yang saya kentuti (Foto: Tribun Flores) 
Saudara-saudara sekalian, perlu diketahui, begini-begini saya pernah menggali sumur. Lebih tepatnya memperdalam sumur karena memang sumurnya sudah ada. Tapi airnya tidak bisa sedot sanyo merk apa pun karena lumpur bertahun-tahun tidak dikeduk menyumbatnya. Jadi, Jumat beberapa minggu lalu, saya mengeduknya.

Saudara, saya masuk ke perut bumi sejauh 10 meter. Kaki gemetar saat menginjak sengkedan licin berlumut. Keringat dingin langsung membasahi tengkuk. Rawan sekali. Seandainya terpeleset, lalu jatuh, mungkin tulang-tulang ini terkilir. Urusan jadi berabe.

Jejak Cinta yang Berliku atawa Curhat pada Selembar Uang

Padahal hari menjelang sore dengan suasana tak seindah dalam cerita Seno Gumira Ajidarma. Di langit awan bergumpal-gumpal. Di barat, matahari redup kehilangan bahan bakar. Orang-orang hampir mengakhiri pesta kerja, menuju pulang. Sementara di kamar suntuk ini, saya mencangkung berjam-jam di bibir jendela. Tak ada yang dilakukan selain mengasapi paru-paru dengan berbatang-batang rokok. Tapi kurang afdol, belum ngopi seteguk pun. Wah, bagaimana hukumnya, hampir malam kok belum ngopi?

Supaya afdol, saya ngeloyor ke warung kopi 24 jam yang ternyata lengang. Saya memesan kopi pahit dan sebungkus rokok kretek. Setelah di tangan, saya pun merogoh saku celana. Uang yang kudapti telah bergulung-gulung ringsek. Saya merapihkannya. Ketika hendak menyerahkannya, sudat mata saya melihat kejanggalan pada selembar uang itu. Saya pun menariknya. Ketika diperhatikan, ternyata ada tulisan tangan dengan tinta warna biru.

Celana yang Tergantung Bertahun-tahun di Toilet Itu

”Astaga….,” pekikku dalam hati ketika melihat benda yang tergantung di cantelan daun pintu toilet ini. Aku mengusap muka beberapa kali, menarik napas panjang; antara percaya dan tidak akan pandangan mataku. Ingatan tiba-tiba bekerja: celana itu membawaku pada peristiwa nahas beberapa tahun silam ketika aku masih muda belia.

Waktu itu aku menumpangi bus. Sesampai di terminal, aku langsung berlari seperti dikejar setan. Tujuanku: toilet di pojok terminal. Seumur hidup baru merasakan: kebelet BAB menyiksa selama perjalanan. Beruntung toilet sepi. Aku langsung masuk ruangan pertama. Membuka celana tergesa. Kemudian ambil posisi, hendak melepaskan segalanya beban sepanjang perjalanan.

Ketika Musik sebagai Arena Saling Memaki

Adalah lazim satu karya ditanggapi karya lain. Bisa dengan bantahan, makian, mengamini atau memperjelas. Polemik bisa berlarut-larut di surat kabar, televisi atau media lain; melibatkan berbagai pihak. 

Tahun 70-an misalnya, pernah terjadi polemik atas karya Ki Pandji Kusmin berjudul Langit Semakin Mendung. Berbagai kalangan merasa terpanggil angkat bicara. Ujungnya, yang duduga sebagai pelaku, dipenjara. Tahun 80-an juga terjadi polemik sastera konstekstual; apakah “sastera untuk santera” atau “sastera yang berpihak” (untuk rakyat).

Iwan Fals (1): Ulang Tahun Sahabat dan Warkop

Buat Makki, Ahfadl, Wahyu, dan Idham

Apa artinya ulang tahun bagi seseorang? Apa yang dilakukan seseorang untuk merayakan ulang tahunnya? Apa yang dilakukan seseorang terhadap sahabatnya yang berulang tahun? Jawaban pasti berderet-deret. Dan, saya tak mau mengabsennya satu per satu. Buat apa? Tapi setidaknya mengucapkan selamat ulang tahun lewat FB, pesan singkat, atau langsung ketemu orangnya, minta ditraktir.

Ketika sahabat saya ulang tahun 18 Agustus lalu, saya mengirim pesan singkat demikian: 18082010. Hanya itu. Tak ada yang lain. Bukans aya sedang hemat kalimat atau apa pun. Tapi itulah yang ingin saya sampaikan.

Masyitoh, Kami Menyanyikanmu...

Saya bersama lima teman masa kecil menyanyikan lagu itu berjudul Masyitoh. Kami berdiri di hadapan hadirin saat perayaan muludan atau barangkali rajaban. Lupa juga waktunya. Itu tidak terlalu penting, justru bernyanyinya itulah.

Siti Masyitoh, puteri Islam yang mulia

Imannya teguh kepada Allah Ta’ala

Fir’aun tahu dia marah kepadanya

Dia disiksa dengan kejam tak terhingga

Masyitoh soleh diberi hukumaan yang mengerikan Ia disiksa dengan api besar

Bertanya kepada Rumput yang Bergoyang, Jawabannya di Angin Lalu

Barangkali di sana ada jawabnya

Mengapa di tanahku terjadi bencana

Dalam sebait lirik lagu yang berjudul Berita Kepada Kawan buah karya Ebiet G. Ade ini bercerita tentang bencana. Lagu ini menjadi seolah-olah soundtrack ketika terjadi bencana di negeri ini. Misalnya, ketika terjadi tsunami di Nagggroe Aceh Darusalam, tv-tv swasta menurunkan berita diiringi lagu ini.

Sebenarnya banyak lagu bercerita tentang bencana. Tapi hingga kini, sependek pengetahuan saya, (sepertinya) belum ada yang menandingi lagu ini.

Kisah Priyambodo dan Mustokoweni atawa Jatuh Cinta Saat Meregang Nyawa

Cinta itu tumbuh antara Priyambodo dan Mustokoweni. Cinta yang hadir seketika. Seketika! Dan rupanya cinta itu berbalas. Mustokoweni mencintainya pula seketika. Seketika!

Padahal beberapa detik sebelumnya, keduanya adalah seteru; bertempur habis-habisan bersabung nyawa. Hingga kemudian Priyambodo melolos satu anak panah. Tepat sasaran di tubuh Mustokoweni. Tapi anehnya, panah itu tidak merenggut nyawa, melainkan menelanjangi. Segenap busana Mustokoweni tanggal.

Munggahan: Ibu kepada Ayah dan Istri kepadaku, Lemparkan Saja Sebait Lagu Rindu

“Entar munggahan bagaimana?” tanya ibu kepada ayah dengan nada sedikit menggugat. Kata-katanya nyaris vonis hakim yang ditunggu. Tapi ditunggu beberapa saat, tak berkata juga dia. Seolah menimang-nimang keputusan mana yang dipilih.

Mahbub Djunaidi: Menulis Itu Harus Matang Sejak dalam Pikiran!

H. Mahbub Djunaidi (Foto:Ngopibareng.id)
Pada 27 Juli lalu, sekelompok mahasiswa di Ciputat merayakan ulang tahun ke-78 sang pendekar pena, H. Mahbub Djunadi, penulis kenamaan pada zamannya. Profesor Chotibul Umam, sebagai sahabat Mahbub di di harian Duta Masjarakat meniup lilin dan memotong kue ulang tahun.

Pak Chotib yang sudah renta menghadiri acara tersebut meski dihubungi beberapa jam sebelum acara menimbang kedekatannya dengan Mahbub Djunaidi. Kehadirannya sebagai bentuk kecintaannya kepada sahabat, sebagaimana ia mencintai Zamroni, sahabatnya, yang juga sahabat Mahbub Djunaidi.

Rasa Malu dan Bintang Jasa

Screenshot unggahan di blog Pamanah Rasa
Alkisah, ada seorang raja di negeri antah-berantah. Pada suatu hari, dikabarkan ia diserang penyakit aneh yang ganas. Ia mendekati ajal, tapi sempat ditemui tiga anaknya. Berwasiatlah dia dengan menyuruh masing-masing anaknya untuk mengajukan permohonan.

Selasa, 24 Februari 2026

Tokek, Semut, dan Aku

"Tek…tek..tek …tekek, tekek, tekek…"

Aku menghitung suara tokek itu. Hingga tujuh kali berbunyi. Suara seolah mengatakan aku “ada disini.”

Dulu, ketika aku kecil sering menghitungnya pula. Bahkan lebih dari itu, sebagai patokan waktu. Jika ia berbunyi tujuh kali, berarti jam tujuh. Jika berbeda, maka jamlah yang salah.

Kemudian makhluk berwarna gading bertotol kemerahan yang menempel di pojok langit-langit kamar itu terdiam. Dan kemudian sepi. Sepi!

Pertemuan A Plus dengan Guru Legendaris

Pak Uyen Hs (kiri) dan saya (Foto: Hilman)
Saya beberapa kali kapok jika merencanakan pertemuan dengan seseorang. Saya yang tak jadi datang atau dia yang urung. Bahkan kurang ajarnya, saya atau dia, tak jadi ketemu sonder mengumumkan pembatalan di muka. 

Karenanya saya lebih suka pertemuan mendadak. Pertemuan jenis ini nilainya A plus. Tentu saja Z min jika  pertemuan mendadak itu dengan makhluk yang tak ingin saya temui. Jurig jarian atau manusia yang bersifat semacam itu, misalnya.   

Minggu, 22 Februari 2026

Percakapan Tak Terduga di Tempat Kencing

Pria di tempat kencing (lifestyle.kompas.com)
Kebetulan saya berada di belakang orang yang sepertinya bertujuan sama menuju toilet. Hanya beberapa langkah di depan. Sumpah, saya tak bermaksud membuntututinya karena tak ada untungnya dari sudut apa pun. Ini benar-benar kebetulan. Sepertinya dia ingin kencing yang sama sebangun dengan keinginan saya. 

Entah bagaimana ceritanya dia dan saya punya hasrat yang bersamaan? Apakah dia dan saya lahir di waktu yang sama sehingga intensitas kencingnya sama? Itu merupakan misteri. 

Bertemu Lisong di Tempat Paling Gelap di Dunia

Muhammad Mukhlisin, warga negara yang baik
Namanya Muhamamd Mukhlisin asal Pati Jawa Tengah. Dia meminta dipanggil Klisin atau Lisin saat memperkenalkan diri. Sungguh suatu panggilan yang muskil bagi saya. 

Karena itu, saya keluar dari keingainannya. Saya berijtihad dan lebih senang memanggilnya Lisong saja. Bukankah itu lebih keren sedikit, daripada Lisin yang kampungan. Setidaknya, lisong disebut dalam sajak W.S. Rendra. 

Meskipun tak jadi panggilan resmi, satu dua teman mengikuti saya, memanggilnya Lisong.

Lisong. Dia adik angkatan dua tahun semasa di Ciputat. Tepatnya di Piramida Circle. Mula bertemu pada pada 2005. Mungkin ngekos bareng sampai 2006-2007 atau lebih.  

Rhoma Irama (3) Selamatkan Muka 40 Juta Jiwa Orang Sunda

Rhoma Irama (Foto: youtube Indosiar)
Apakah menyaksikan Rhoma Irama tanpa Soneta dan zonder menyanyi bisa menggunakan kata menonton? Mungkin kurang tepat, tapi tetap saya akan menggunakannya karena dia merupakan tontonan.  

Nostalgia 90 (3): Silit Bolong Dilas Ace of Base - All That She Wants


Ace of Base (Gambar: https://mabesliriklagu.blogspot.com)
Lagu All That She Wants milik Ace of Base mengingatkan saya pada kosan masa-masa di Ciputat. Lagu itu selalu menjadi andalan salah seorang sahabat saat dia berada di depan komputer milik bersama. Tidak hanya saat bikin makalah, tapi kadang ya diputar saja.