Jumat, 27 Februari 2026

Maman Badruzzaman dan Kisah tentang Sama-Sama Berutang, Sama-Sama Belum Dibayar, Sama dengan Impas

Pak Maman bersama murid-muridnya
 (Foto: FB Anie Apriyanie) 
Untuk Pak Maman Baruzzaman

Memasuki kelas tiga, saya pastikan diri masuk jurusan bahasa. Tidak ada pertimbangan khusus sebelumnya, kecuali menghindari pelajaran hitungan dan lumayan senang pelajaran bahasa Indonesia. Tak ada selain itu. 

Namun celakanya, mesti berhadapan dengan tiga bahasa asing; Jepang, Inggris dan Arab. Masing-masing 10 jam pelajaran tiap minggu. Hanya bahasa Arab, kalau tidak salah, berkisar antara 4-6 jam. 

Dan, sebetulnya di kelas bahasa tak benar-benar suci dari hitungan karena masih ada pelajaran fiqih perihal mawaris. Buah simalakama memang. Kadang manusia terjebak pada kondisi “mau tidak mau” dan “apa boleh buat.” Tapi hadapi saja karena tak ada jurusan lain selain itu, misalnya jurusan jalan-jalan atau nongkrong-nongkrong atau ngaliwet-ngaliwet. 

Hampir setiap hari, di kelas berdebu, dinding kusam, bangku dan meja reyot terdengar gemeremang watashi, sensei, moshi moshi. Sebagian ada yang asyik belajar Katakana atau Hiragana. Ada juga yang coba-coba mengukir Kanji. Sepertinya teman-teman langsung menikmati nihon go karena memang tujuan sedari awal. Di pojok lain terdengar how are you sementara dijawab temannya i am fine. Tapi jarang yang belajar hiwar bahasa Arab. Tidak tahu kenapa.

Namun, aktivitas semacam itu tak berlangsung lama. Sebulan kemudian, mereka lupa sebagai murid bahasa. Hanya beberapa orang saja yang serius. 

Meski demikian, dan ini patut disyukuri, sungguh beruntung anak bahasa diajari guru-guru mumpuni; dua guru bahasa Jepang, dua guru bahasa Ingris dan satu bahasa Arab. 

Ada satu iseng teman-teman (di antara iseng lainnya). Salah satu guru bahasa Jepang masih gadis. Jika masuk kelas, teman-teman dengan sengaja sering menerlambatkan diri karena ingin bersalaman dengan guru tersebut. Bahkan tidak biasanya, sehabis istirahat pun teman-teman tetap ingin bersalaman. Perlu diketahui, saya bagian dari sindikat keisengan tersebut. Tapi memang bukan aktor intelektualnya. Tanyakan saja pada yang terhormat, Chicko dan Ence cs.

Kembali pada bahasa Indonesia. Apakah saya menyenanginya berarti mahir dan menguasainya? Tentu saja tidak. Sama sekali tidak! Sekali lagi, tidak! Nilai saya tidak lebih tinggi di antara teman-teman. Dan tidak lebih rendah. Saya senang, ya senang saja. Selesai! Tidak ada sangkut-pautnya dengan kemahiran. Titik!

Jika ditarik mundur, bintik-bintik kesenangan itu tumbuh subur ketika duduk di kelas 1.3. Waktu itu, pelajaran tersebut diampu Pak Uyen Hs. (Ada cerita khusus tentang nama belakangnya ini. Konon, asalnya Husaini, tapi karena salah penulisan, jadi Husiani. Repotnya, tertera di dokumen resmi, makanya muskil diubah. Kesalahan itu menjadi bayang-bayang abadi di belakang namanya.)

Sebagai guru gaek, beliau sangat menguasai segala tetek-bengek pelajaran ini; mulai dari tata bahasa, apresiasi sastra, hingga wacana, dll. Maklum sudah puluhan tahun menekuninya. Dia terampil menjelaskan apakah partikel lah, kah, dan tah dipisah atau disatukan? Bagaimana menulis di imbuhan dan di kata depan? Abdul Muiz dan Marah Rusli termasuk angkatan yang mana? Di tahu karya-karya Amir Hamzah. Siapa pengarang Harimau! Harimau!, Pada Sebuah Kapal, Atheis? Siapa anak muda yang pandai bermain biola dalam Jalan Tak ada Ujung? Penyakit apa yang diderita Hasan dalam Atheis? Kenapa Lasiyah sering dipanggil Lasipang sama teman-temannya? Apakah tokoh cerpen mesti mengalami perubahan nasib? Apa perbedaan novel dan roman? Siapa penulis Senja di Pelabuhan Kecil? Dia hafal di luar kepala hal-hal seperti itu.

Satu hal yang diingat dari penyampainnya adalah cara menghafal angkatan 45. Menurutnya, pelopor sastera angkatan 45 adalah Chairil Anwar dengan puisi Aku. Sementara di prosa dipelopori Idrus dengan judul Aki. Aku dan Aki. Sungguh cara mengingat yang efektif. 

Rasa senang kepada bahasa Indonesia makin berkecambah ketika kelas 3 ternyata bertemu dengan guru bahasa dan sastra Indonesia Pak Maman Badruzzaman. Dia jebolan sastera Indonesia di ibu kota.

Pertama kali melihat sepak terjang wakamad bidang kurikulum ini ketika pelepasan kepala sekolah legendaris Pak Mahmud Effendy (alm.) Dia membaca puisi yang memukau seluruh pasang mata aula. Termasuk saya. Selepas pembacaan itu, saya pun memungut puisi yang ternyata karyanya sendiri.

Guru yang satu ini bertubuh tambun, pendek, rambutnya selalu dicukur hampir plontos, (mungkin dendam atas aturan PNS yang mesti berambut rapi. Sementara dia ingin gondrong seperti saya. Maaf, ini cuma penafsiran serampangan). 

Dia kadang terlihat sendirian di bawah rindangnya beringin dekat gerbang, dengan kepala tertekur seperti seorang petapa berusaha meraih pencerahan. 

Dan jika kita mendatangi mejanya, akan didapati setumpuk majalah Horison dan antologi cerpen, puisi, dan novel.

Ketika saya berada di jurusan bahasa, ternyata, beliau jarang masuk. Usut punya usut, dia mengidap penyakit reumatik yang akut hingga jalannya tertatih-tatih, hingga mengajar bersandal jepit. Barangkali, dari Sabang sampai Merauke tak satu guru pun mengajar beralas sandal jepit. 

Dia cuma hadir tertatih-tatih ke kelas sebentar, menyuruh mencatat, berdiskusi. Kemudian pergi dengan kesibukannya yang lain, yang entah. Tapi kelas bahasa II ini tak bisa menghindar penyakit kutukan leluhur mereka. Tak ada guru, tak ada belajar. Ada guru, menyebalkan. Maka lahirlah aktivitas mendadak di luar prosedur. Misalnya penyakit mengasyikan: ngobrol, nongkrong, ngeluyur. Ketika jurusan lain mengepulkan asap dari kepalanya, berkutat dengan soal-soal, kami asyik-asyik melemparkan sebutir kelapa di ruangan kelas. Ini perbuatan Chiko, Ence Efe Dian, dkk. (Semoga kalian diampuni).

Waktu begitu cepat begulir. Berbagai peristiwa terlampaui, hampir tanpa refleksi. Seperti kita menghirup udara saja. Ya demikianlah. Hidup berjalan begitu saja. Sementara UAN di depan mata. Standar kelulusan dengan nilai minimal 3, 01 menjelma genderuwo. Tapi begitu cepat terlupakan jika asyik kongkow dengan teman-teman. Ketawa-ketiwi dan bermain-main. Hidup terasa lepas, mengggelegak, dan gemerincing. Padahal kotoba bahasa Jepang menumpuk, vocabulary bahasa Inggis menggunung, mufradat bahasa Arab minta ampun. Sementara bahasa Indonesia jarang masuk.

Sekali waktu, sang guru bahasa Indonesia tersebut hadir juga di depan kelas. Dia mengajar aksara Melayu lama. Waktu itu dia menjelaskan tentang konteks kalimat untuk mendeteksi apakah kalimat itu dibaca kumbang, kambing, kembang. Di sela penjelasannya terselip ungkapan Huruf Arab Pegon. Karena saya ngantuk, (katanya senang, tapi ngantuk. Aneh bukan?) di telinga saya terdengar Arab Bego. Maskun, teman sebangku saya terkekeh-kekeh ketika saya ceritakan perihal ini. Kemudian kembali dia hanya memberi tugas.

Intensitas pertemuan anak bahasa dengan beliau sangat kurang. Saya mencari siasat lain secara pribadi untuk bertemu dengannnya, yaitu mencoba meminjam buku-bukunya. Soal dibaca atau tidak, urusan belakang. Dan berhasil, sehingga saya pernah membaca karya Emha Ainun Nadjib, Seribu Masjid, Satu Jumlahnya. Seolah mendapat angin, saya pinjam lagi buku-buku lain; Cara Membaca Cepat, lalu Kitab Cerpen yang isinya cepen-cerpen populer Indonesia mulai dari cerpen pertama M. Kasim “Teman Duduk” sampai yang terakhir diterbitkan Horison, kalau tidak salah “Area X”.

Kemudian saya foto copy beberapa cerpen yang memang sering disebutkan dalam bahasa Indonesia, misalnya “Anjing-anjing Menggali Kuburan”, “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” karya Kuntowijoyo, “Menjadi Batu" Taufik Ikram Jamil, “Lampor” Jony Ariadinata, “Pemahat Abad” Oka Rusmini. Tapi yang paling mengesankan bagi alam pikiran saya waktu itu adalah “Sentimentalisme Calon Mayat” karya Sony Karsono, sastrawan yang tak pernah saya dengar sama sekali, tapi saya tiba-tiba kepincut ceritanya. Cerpen ini bercerita bahwa maut itu nyaris seperti harmoni jazz Nate King Cole. Cerpen ini melanjutkan kegemaran saya kepada Danarto setelah membaca "Toh Mereka Tak Mampu Menjaring Malaikat" dan nove Ziarahnya Iwan Simatupang. Suatu pertemuan dengan bacaan yang membuat pikiran ini rawan di usia remaja. Cerita-cerita itu menjadi gerbang saya untuk membuat cerpen “Sentimentalisme Orang Kalah”. Tapi ya sudahlah!

Kemudian pinjaman itu dihentikan total setelah buku Sayap-sayap Patah Kahlil Gibran lenyap di tangan saya. Jadi, buku sepertinya ada yang mencuri atau meminjam tak berniat mengembalikan. Padahal saya belum membacanya. (Perlu diketahui, hingga menulis ini buku itu belum saya ganti). 

Suatu ketika, saya bertanya bagaimana memahami cepen Danarto Toh Mereka Tak Mampu Menjaring Malaikat yang dimuat di Horison. Kemudian dia menjelaskan. Tapi saya tidak paham. Sungguh tidak paham hingga saya tak bisa menuliskannya lagi. Saya cuma manggut-manggut yang pada hakikatnya geleng-geleng.

“Saya juga menulis cerpen,” katanya.

“Wah, saya ingin membacanya, Pak. Boleh?”

“Tapi belum selesai.”

“Apa judulnya, Pak?”

“Renjana.”

Saya tertegun sebentar. Renjana makhluk jenis apa itu? Apa nama makanan atau sejenis ulat bulu? Dia sepertinya paham akan pikiran saya.

“Tahu artinya?”

“Tidak, Pak.”

“Rindu.”

“Oh...”

Hingga saya lulus, tak satu paragraf pun cerpen itu saya dapatkan.

Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengannya. Syukur rheumatik sudah pensiun dari kakinya. Tapi potongan rambutnya seperti dulu-dulu juga. Dendam tak terlampiaskan pada rambut gondrong...hehehe

Setelah bertanya kabar dan kesehatan, saya tanya kabar Renjana. Cerita yang selalu bikin penasaran. Seperti para kritikus sastera menanti terbitnya buku kedua William Forrester.

Dia terdiam sambil meyungging senyum. Entah apa maknanya. Tapi kemudian dia menanyakan Sayap-Sayap Patah. 

"Bujug dah... dia ternyata masih ingat buku itu," pekik saya dalam hati.

Saya langsung terdiam seperti petinju diuppercut di pojok ring. Tapi berusaha mengulum senyum juga. Entah senyum jenis apa. Saya pun bilang begini,

“Baiklah, Pak, saya berutang buku Sayap-sayap Patah, sementara Bapak berutang Renjana. Artinya, kita sama-sama berutang kan? Kita sama-sama berutang dan sama-sama belum membayarnya. Saya akan kembalikan buku itu, apabila saya mendapat cerpen tersebut. Impas, bukan!”


Ciputat, Mei 2011

Pada 20 Desember 2014, saya mendapatkan informasi yang menyesakkan. Saya sampaikan informasi tersebut melalui update status di Facebook:

Pagi ini, setelah jalan-jalan menyusuri kali Krukut, sarapan lontong sayur, saya ditelepon teman sekelas yang mengabarkan guru kami, Maman Badruzzaman telah wafat. Dia guru bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Negeri Cibadak, Sukabumi. 

Saya diajarinya 10 jam per minggu ketika kelas 3. Berbeda dengan guru lain, dia sering bersandal jepit kala mengajar. 

Kepada dialah saya meminjam majalah "Horison", "Sayap-Sayap Patah",  "Kitab Cerpen", dan buku-buku lain. Di sela istirahat, sering saya dapatkan dia sendirian di bawah pohon beringin.

Sekali waktu, dia pernah mengatakan akan menunjukkan cerpennya yang berjudul "Renjana". Tapi sayang, hingga kini saya tak sempat membacanya. 

Innalilahi wainna ilaihi roji'un.., Al-Fatihah...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar