Tampilkan postingan dengan label Racau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Racau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2026

Penyakit Saya Belakangan Ini

Belakangan, saya mengidap sifat ingin mengabadikan pertemuan dengan difoto bersama dengan, katakanlah tokoh; baik agama, seni, pendekar pencak, atau orang-orang tua yang tak lama lagi dijemput Izrail.

Kecuali dengan tokoh partai politik, setinggi apa pun jabatannya, saya tak pernah berminat. Lagi pula saya tak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan tokoh demikian di toilet umum, di kios barang loak, atau di tepi kuburan.  

Soekarno di Mata Tukang Pecel Lele

1

Ketika bertandang ke Pulau Tidung, saya sempat mampir ke rumah lelaki berusia 80 tahun. Kemudian ngobrol banyak hal. Dari mulai sejarah, budaya setempat, perubahannya; laut dan nelayan, pandangannya terhadap pesatnya pariwisata daerah itu, hingga urusan cinta masa mudanya.

Dalam hitungan jam kami bisa dikatakan akrab; hingga dia sempat mengajak saya memasuki kamar, tempat paling pribadinya. Ada lemari tua dengan buku-buku tua dan lampu teplok. Di salah satu dinding, tertempel gambar seseorang berpakaian rapi dengan sederet bintang di pundak. Raut muka gagah, klimis, tak satu bulu pun dibiarkan tumbuh. Sementara di kepalanya bertengger kopiah hitam: Soekarno!

Jumat, 22 Mei 2026

Menipu Tuhan dan Setan

Soal tipu-menipu dengan ragam modusnya yang dilakukan pejabat kepada rakyat adalah hal yang biasa saja. Misalnya dengan mengoplos pertamax dengan pertalite yang merugikan negara sekian triliun. Sudah bukan isu lagi. Sungguh hal yang demikian terlalu sering sehingga semua orang menganggap angin lalu sambil mengutuk sih. 

Namun, sebagaimana lumrahnya kasus tipu-menipu yang lain, beberapa minggu kemudian lenyap informasinya. Sebab apa? Ada tipu-menipu yang baru oleh pejabat lain. Rakyat mengutuknya pula, kemudian melupakannya.

Tuhan Maha Jomblo

Sebagaimana tertera di dalam kitab suci yang sering dibaca sebagian umat di malam Jumat, “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36].

Tidak cukup sekali rupanya Tuhan mengatakannya. Cek saja di ayat lain, “Dan Dia telah menurunkan dari langit air, maka Kami keluarkan dengannya berpasang-pasangan dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam (warna dan rasa) (Thaahaa: 53). Saya temukan juga di ayat-ayat lain di surat berbeda. Tapi tak perlulah diseret semuanya ke sini, bukan?

Jumat, 10 April 2026

Tagline Blog Pamanah Rasa: Tidak Untuk, Bukan Karena

Kini, tagline blog Pamanah Rasa milik saya adalah "tidak untuk, bukan karena" menggantikan “di kiwari ngancik bihari seja ayeuna pikeun jaga”. Tidak ada alasan khusus perihal pergantian ini. 

Tagline dimulai ketika saya mencoba menulis sebuah cerita. Entah kenapa, pada sebuah paragraf saya tiba-tiba menulis kalimat: tidak untuk, bukan karena; untuk menegaskan kalimat sebelumnya.

Selasa, 31 Maret 2026

Saat Sinta Berseru: Kutunggu Kau di Alengka!

(Ilustrasi: sawitplus.co)
“Dewi, ikutlah bersamaku ke Maliawan. Aku akan mempertemukanmu dengan junjunganku, kekasihmu, Ramawijaya. Dia sudah lama merindumu,” kata Anoman, selepas membakar Alengka.

“Katakan kepada junjunganmu, Anoman. Kalau benar-benar ia menganggap aku kekasihnya, datanglah ke Alengka. Dialah yang harus menjemputku, orang yang dicintainya,” terang Sinta.

Cinta Itu Anugerah, Maka Menderitalah

Ilustrasi: https://id.pngtree.com
buat nyai antasarah

Antasarah, bagiku mengungkap cinta kepada seseorang tak semudah membalikan telapak tangan. Sungguh memerlukan keberanian; menawarkan rasa malu yang entah datang dari mana, keengganan, dan entah rasa apa lagi yang menumpuk berlapis-lapis, menggumpal dalam ketakutan. Mungkin itulah sebab terciptanya mantera sugesti untuk mengungkapkan cinta.

Rabu, 25 Februari 2026

Rasa Malu dan Bintang Jasa

Screenshot unggahan di blog Pamanah Rasa
Alkisah, ada seorang raja di negeri antah-berantah. Pada suatu hari, dikabarkan ia diserang penyakit aneh yang ganas. Ia mendekati ajal, tapi sempat ditemui tiga anaknya. Berwasiatlah dia dengan menyuruh masing-masing anaknya untuk mengajukan permohonan.

Selasa, 03 Juni 2025

Sore dan Anjing yang Bernyanyi Rindu Seraya Bertanya Apa Kabar

Foto: stock.adobe.com
Jalan sore-sore. Jalan-jalan kemana? Kemana saja yang penting jalan-jalan untuk menunjukkan saya masih bisa berjalan kaki sebagaimana umumnya orang-orang yang masih hidup yang mampu berjalan kaki. 

Berapa lama saya tak jalan sore-sore? Itulah. Saya tak ingat, mungkin tiga bulan atau setahun yang lalu. 

Senin, 26 Mei 2025

Saya Orangnya Jadi Pendengar Musik Jabariyah Sekarang

Mulai sekarang saya akan berusaha mengadopsi jabariyah dalam menikmati musik. 

Begini, akhir-akhir ini saya orangnya dilanda kebosanan luar bisa mendengar musik. Padahal ini bagian yang harus dinikmati, sebagai tata cara merayakan kehidupan.

Kebosanan itu muncul entah dari liang pori-pori mana. Tiba-tiba saja bertakhta, dan susah mengusirnya, seperti kemalasan. Misalkan kuputar satu lagu bermuatan kenangan, tak nikmat. Diputar lagu baru, apalagi. Diputar lagu lawas hingga terbaru, tak jauh beda. Dari genre satu ke genre lain. Mulai dari yang dipahami bahasanya hingga tak  dimengerti, juga seperti itu.

Selasa, 02 Mei 2017

Analisis Kekalahan Ahok

Teman saya membuat status berisi komentar atas kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada 19 April lalu. Mungkin teman-teman saya yang lain membuat status juga. Tapi tak perlu saya ceritakan semua.

Selasa, 18 April 2017

Jika Ahok Kalah di Pilkada Jakarta, Ini yang Akan Terjadi

Telah banyak berita tentang pendapat pengamat, survei, obrolan warung kopi dan entah apa namanya yang membahas Pilkada DKI Jakarta. Orang luar Jakarta pun ikut nimbrung. Saya rasa semua penduduk Indonesia merasa berhak berbicara Pilkada Jakarta. Hanya Soeharto dan para almarhum yang tak membahasnya. Atau jangan-jangan juga mereka nimbrung. Cuma kita tidak tahu saja.

Senin, 17 April 2017

Zakir Naik ke Bekasi, Teman Saya Malah ke Ciputat

Apa atau siapa Zakir Naik? Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Kalau manusia, dia sama saja dengan saya, ciptaan Allah, bukan? Sepanjang apa pun jenggotnya, dia tetap makhluk Allah. Makan, minum, berkeringat, dan boker tentunya. Apa bedanya dengan tetangga saya, Bang Nasir, tukang angkut galon isi ulang itu, bukan?

Jumat, 10 Februari 2017

Setiap Orang Ikut Pilkada DKI Jakarta

Seorang kawan mengeluh karena tak bisa menghindari dinamika Pilkada DKI Jakarta. Karena, dinamika itu ada di tangannya. Sementara menurut pengakuannya, sampai saat ini, tak pernah mampu menunda tangan di laci atau lemari rumahnya dalam beberapa hari.

Jumat, 09 Desember 2016

Korek Api

Besarnya tidak seberapa. Panjangnya tak sampai sejengkal. Tapi sering jadi persoalan ketika lupa. Kerap jadi sengketa dengan sesama. Geretan! Atau kita sepakati saja korek api. Hal ini untuk memudahkan dalam akronim curanrek, pencurian korek. Sepakat tidak sepakat terserah Saudara, saya tak ambil pusing.

Jumat, 18 November 2016

Ahok dan Buni Yani Ternyata Bersaudara

Allah menciptakan Ahok. Allah juga menciptakan Buni Yani. Jadi, Buni Yani dan Ahok sama-sama ciptaan Allah. Sama-sama ciptaan yang kemudian disebut manusia. Sebagaimana manusia-manusia lain, berdasarkan kitab suci, mereka diciptakan dari tanah. Soal apakah tanah sengketa atau bukan, kita tak mendapat kabar dari siapa pun.

Minggu, 04 September 2016

Aku Tak Ingin...

Aku tak ingin memintanya untuk menjelaskan apa pun. Karena dari mimik muka, intonasi, kerjap mata, gerak bibir, helai rambutnya, detak nadinya, embus napasnya, sekujur tubuhnya, susunan kalimat dan pilihan katanya, serentak menjelaskan segalanya.

Neraka, Aliran Kalam dan Perbuatan Manusia

Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya? Atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan sorga? Jika sorga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud pada-Nya? Ini petikan syair yang dinyanyikan Ahmad Dahni dan Crisye.

Sabtu, 03 September 2016

Kebebasan Berbahasa atau Salah Lafal?

Waktu menjadi murid SD, terasa menyebalkan jika menghadapi hari Senin. Seolah memulai hidup baru berojol dari liang garba ibu, liburan, lalu harus menghadapi hal yang serius bukan main. Biasa, ritual hari Senin! Upacara bendera! Amanat pembina upacara! Disiplin. Terus diputar berlang-ulang oleh kepala sekolah atau dewan guru. Kadang dengan bahasa berbeda, tapi dengan isi yang persis sama.

Wali, Indomie dan Iklan

Dik...aku pinta/Kau akan selalu setia/Dik...aku mohon/Kau selalu menemani/Saatku tengah terluka/Kalaku tengah gundah...

Begitulah suara seoarang anak jalanan yang ngamen pada sebuah angkot. Tak hanya anak itu, di antara teman saya sesekali menyanyikannya. Juga, kalau Anda berjalan-jalan di kaki lima, akan mendengar nyanyian serupa dari penjaja CD baik. Soal CD-nya bajakan atau orisinal, itu bukan urusan saya. Mereka demam Wali! Siapa Wali? Wali Songo yang terkenal dengan gelar sunan-sunan itu?