Saya bersama lima teman masa kecil menyanyikan lagu itu berjudul Masyitoh. Kami berdiri di hadapan hadirin saat perayaan muludan atau barangkali rajaban. Lupa juga waktunya. Itu tidak terlalu penting, justru bernyanyinya itulah.
Siti Masyitoh, puteri Islam yang mulia
Imannya teguh kepada Allah Ta’ala
Fir’aun tahu dia marah kepadanya
Dia disiksa dengan kejam tak terhingga
Masyitoh soleh diberi hukumaan yang mengerikan Ia disiksa dengan api besar
Ketabahan
Ketabahan
Ketabahan…
Waktu itu kami memakai peci hitam, mengenakan sarung dan berbaju panjang putih.Tak ada panggung. Maklum acara anak-anak. Tapi tetap banyak yang hadir karena para orang tua ingin melihat anaknya genggam mikropon, mengangkat jari telunjuk, urat leher tegang.
Kalau teman saya bersemangat, seperti menyanyikan Indonesia Raya tiap Senin pagi, suara saya rendahkan karena merasa paling tidak berbakat dalam urusan tarik suara. Saya menekurkan muka, menatap ibu jari. Itu tak lain karena hadirin, menatap atau atau tidak, begitu mengerikan. Mereka seolah siap tertawa jika ada kesalahan. Dan yang duduk agak belakang itu siap melempar sandal jepit, seperti Kruschev di majelis PBB.
Waktu itu, saya merasa fungsi hadirin dalam perayaan apa pun, tak lain dari itu. Ini teror yang kejam; kehadiran yang melumpuhkan! Padahal, mama ajengan selalu memberi resep; anggap saja hadirin itu tunggul atau embe. Terus baca Robbis rohli shodri…Tapi bagi saya, tak manjur sama sekali.Perihal saya dan sahabat-sahabat menyanyi, itu di luar kebiasaan. Biasanya yang nyanyi itu perempuan. Entahlah waktu itu seperti itu. Tapi kami mendobrak kebiasaan itu. Luar biasa, bukan? Saya bangga jadi salah seorang dari rengrengan pendobrak. Bagaimana dengan Saudara? Sudah mendobrak apa?
Nah, ini lain lagi. Barangkali, kalau menyanyi kami terus diasah, kami adalah boy band. Tapi terbetik di benak Saudara pertanyaan seperti ini, kenapa belum pernah melihatnya di TV? Itu tidak aneh karena bernyanyi di hadapan hadirin, adalah pertama dan belum pernah lagi.
Di lain waktu, saya bertemu dengan entah apa judulnya, tapi isinya berkisah Masyitoh. Bukunya berwarna gading. Pinggirnya kribo karena seringnya pindah tangan. Di dalamnya terdapat ilustrasi sehingga disukai anak-anak seperti saya. Gambar Fir’aun itu adalah raja bermahkota, bermuka sangar, berjanggaot lancip dan tebal. Di halaman lain, Masyitoh mengambil ancang-ancang loncat sambil memeluk anaknya. Yang lain tak ingat!
Waktu itu, saya buta huruf karena belum dimakan TK atau SD. Tapi beruntung bibi saya mau membacakan buku itu. Terima kasih, Bibi!
Betapa mengharukan kisah ini. Tak terasa air mata menetes seperti ketika dibacakan kisah Purbasari dan Guruminda dari kerajaan Pasir Batang dalam lakon Lutung Kasarung. Tak kuasa menahan sesenggukan ketika Purbasari diasingkan ke hutan sendirian hanya ditemani lutung.
Di lain waktu, untuk perayaan entah muludan atau rajaban, anak-anak dewasa berencana membikin drama Masyitoh. Ini penting dicatat, karena menandakan kampung saya beradab. Buktinya mengenal drama. Sebenarnya tak heran, dalam tradisi Sunda sendiri, khususnya Sukabumi, ada bentuk drama yang bernama uyeg.
Dalam drama ini, menurut Anis Djatisunda, selalu dihadirkan Sang Hyang Uyeg. Siapakah dia? Makhluk jenis apakah? Hingga kini, saya tidak tahu. Dan, tak pernah sekali pun menontonnya. Konon, drama tradisional berasal dari Cisolok, Pelabuanratu, Sukabumi, ini telah berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wainna ilahi ra’jiun…
Ya, barangkali harus legowo, ada sesuatu yang hadir, dan hilang. Kebudayaan memang seperti manusia itu sendiri; lahir, berkembang, mundur, mati! Persoalan waktu saja. Tapi kenapa ya, orang Jepang, China, India masih bisa mempertahankan aksara kunonya? Ada apa? Sekali waktu, barangkali harus berziarah kepada Sutan Takdir Alisjahbana. Seusai berdoa, bertanya perihal itu kepadanya.
Tapi sayang seribu kali sayang, pentas drama itu urung. Padahal kami, anak-anak, ingin sekali menontonnya. Usut punya usut, tak ada yang bersedia jadi Fir’aun. Persoalannya adalah dua hal. Pertama, berperan sebagai Fir’aun pasti ada percakapan mengaku sebagai tuhan. Pemerannya bisa musyrik! Status pendosa tak terampuni ini, jelas sangat dihindari. Apalagi dalam perayaan muludan atau rajaban.
Kedua, peran jelek akan dimusuhi tidak hanya di pentas drama, tapi dalam kehidupan sehari-hari. Latihan baru beberapa kali, pemeran Fir’aun, disapa Fir’aun dimana pun ia berada. Bayangkan pemeran Fir'aun kemudian disapa Fir'aun tiap hari oleh teman-temannya.
Pantas saja dia tidak mau. Seperti enggannya anak-anak seusia kami saat itu disebut Advent Bangun atau Yoseph Hungan. Maunya Barry Prima atau George Rudy.
Tentang riwayat Masyitoh ini, selintas, diceritakan juga dalam kitab Dardir 'Ala Qishotil Isra' wal Mi'roj. Ketika saya dan sahabat melek aksara latin dan Arab, ajengan menyuruh kami menyalin ulang kitab itu di buku tulis masing-masing. Tapi antara baris satu dengan lainnya diberi jarak untuk terjemahan. Inilah ngalogat.
Mulai saat itu, saya belajar utawi, iki, iku, sopo, maring, kangden. Akan terdengarlah ajengan bertutur misalnya, Alkalamu, utawi arane kalam. Dan kata-kata itu memiliki kode-kode tersendiri supaya memperpendek kalimat. Sedangkan anak dewasa, ngalogat langsung di kitab berwana kuning yang kalau jatuh bisa berpencar-pencar. Alat tulisnya bernama pena, dan tintanya disebut mangsi yang baunya tak sedap.
Bagaimana bahasa Jawa bisa sampai ke kampung saya di bawah kaki gunung Bongkok, yang menurut sahabat saya, jauh ka bedug anggang ka dulag? Betapa rumitnya, kalimatnya bahasa Arab, diterjemahin dengan bahasa Jawa. Ini butuh penjelasan tentang silsilah keilmuan seperti sanad hadits.
Beberapa minggu lalu, saya ketemu buku Masyitoh yang disunting Ajip Rosidi. Buku ini berbeda dengan yang saya temukan ketika kecil. Buku ini diklaim sebagai drama, tapi bentuk penulisannnya seperti novel saja. Saya habiskan semalam karena bukunya tipis, bahasanya ringan.
Sambil melayang ke masa kecil, saya putar kacapi suling Kembang Tanjung. Satu lagu saja. Segelas kopi hitam pahit, rokok kretek bersanding. Rasanya barangkali, ini barangkali, sekali lagi barangkali, seperti saat Rafilus menunggangi kuda cameo!
Kenari, 20 November 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar