![]() |
| Salah satu novel karya Marina S. |
Saya punya kecemburuan tersendiri kepada sahabat satu ini. Dia selesai kuliah S1 dengan baik. Dalam arti ia tidak ngaret sebagaimana umumnya mahasiswa sezamannya yang bahkan ada yang tak bisa meloloskan diri. Kemudian melanjutkan S2 dengan normal pula.
Di usia 25, ia hampir mendapat gelar magister bidang komunikasi. Jika melanjutkan studi, dua atau tiga tahun ke depan ia akan mengantongi doktor. Sebelum usia 30, siap-siap saja saya membaca profil doktor muda terkemuka di media massa. Layak disimak analisisnya di tivi dan radio. Untuk jadi dosen juga ia menempuh jalan lurus. Mungkin nanti saya akan mendengar dia sebagai dosen teladan bagi mahasiswi-mahasiswanya. Tulisannya juga akan mewarnai jurnal-jurnal illmiah.
Di S1, jika rektornya jeli, ia jelas bisa dikata mahasiswa idaman dan teladan. Supaya tidak dikatakan isapan jempol belaka, baiklah, saya bikin penjelasan penunjang berikut ini.
Ia ikut berorganisasi dan sempat jadi ketua. Aktif berdiskusi di seminar-seminar, baik yang tersangkut dengan jurusannya, maupun tidak. Mendirikan semacam forum studi dan menerbitkan buletin sastra. Makan teratur, tidurnya normal. Ya, sesekali begadang memang, tapi tak sampai pada tingkat dimarahi Haji Rhoma Irama. Juga bukan perokok dan penenggak bir.
Jarang sekali mahasiswa seperti itu, bukan?
Aktivitasnya tak mengganggu taat ibadah. Ia tak pernah meleset dalam urusan sembahyang. Soal ini saya harus menggarisbawahinya dengan tebal.
Begini, berdasarkan pengamatan serampangan saya berkatian sembahyang, bisa dikategorikan beberapa golongan. Pertama, sebagai rutinitas sepanjang hayat. Dalam kondisi apa pun, selama tidak tidur dan dalam perjalanan, golongan ini tetap melakukannya.
Kedua, sembahyang situasional. Ia melakukannya pada saat-saat tertentu saja. Misalnya ketika di rumahnya sendiri karena ingin terlihat orang tuanya atau di rumah temannya yang kebetulan orang tuanya pemuka agama. Juga di rumah calon mertuanya. Atau ketika ia tak punya uang dan banyak utang dan berharap selepas awe salam, di bawah sajadahnya, menumpuk lembaran Soekarno-Hatta. Orang semacam itu biasanya bershalawat dan istighfar hanya ketika dibonceng pengemudi motor senewen.
Ketiga, sama sekali tidak melakukannya dalam kondisi apa pun. Jika disuruh sembahyang sekarang, ia lupa cara berwudlu dan lafal ushalinya. Jika shalat sendirian, tertukar urutan i’tidal dan sujud. Bacaan tahiyat akhir malah Fatihah.
![]() |
| Sahabat saya: Abraham Zakky Zulhazmi. Foto ditemukan di sebuah web para akademikus |
Yang kedua, tidak melakukan sembahyang karena memang tidak melakukannya. Ini lebih pada faktor kemalasan. Ia tak punya alasan dan tak mau mencari alasan tidak melakukannya. Tidak melakukan ya tidak saja. Bahkan di hatinya masih terpercik sedikit penyesalan dan rasa berdosa.
Di kalangan mahasiswa sezamannya, sahabat saya ini dikenal sebagai penulis dan tentunya pembaca buku. Sebagai penulis, ia tunjukkan dengan beberapa karyanya terbit di media massa daerah dan nasional. Menulis buku juga, baik yang fiksi maupun nonfiksi seperti biografi seorang tokoh. Dan menjadi editor buku penting di awal tahun 2014 lalu.
Tidak aneh memang menulis dan membaca bagi mahasiswa karena memang dunianya berkaitan dengan itu. Kalau tidak begitu, justru aneh dan layak dipentung kepalanya 70 kali.
Perlu saya tegaskan di sini sebagai kesimpulan, sahabat saya ini suka membaca, terampil menulis, pandai berbicara, dan taat ibadah. Lengkap sudah. Ada sahabat yang pintar menulis, tapi tak bisa bicara di forum. Ada yang aktivis, pandai membaca dan menulis, tapi urusan ibadah dan cintanya berantakan, plus urusan dompetnya kere.
Oleh karena itu, perlu ditegaskan kembali di sini, sahabat saya satu ini selain senang membaca, terampil menulis, pandai menyampaikan gagasannya dalam bentul lisan, taat ibadah, plus urusan cintanya mulus dan tertib. Malah, dalam usia muda siap menuju pelaminan dengan kekasihnya yang sudah terjalin sejak usia belasan. Kekasih yang dua kali sudah saya pergoki mengantarnya belanja buku dalam partai besar. Sahabat saya ini jelas bukan mahasiswa kere.
Kecemburuan saya lengkap sudah karena nasib berbanding terbalik dengannya.
Perlu juga saya tambahkan sedikit di sini, ia pandai mengendarai motor sehingga menjemput dan mengantar kekasihnya tidak dengan bus atau kereta api. Perlu ditegaskan hal itu karena waktu itu, saya dan beberapa teman termasuk ke dalam Serikat Takut Mengendarai Motor. Jumlahnya lebih dari 6 orang.
Saya menduga, ketika SD ia mengisi kolom cita-cita dengan kalimat “berguna untuk nusa, bangsa, dan agama”. Jalan untuk ke situ, lempang sudah. Dengan gelar yang siap di pundaknya ia bisa melakukan sesuatu di negeri ini. Dan sejauh ini, ia tidak bergabung dengan kelompok separatis, baik yang lunak maupun ektrem.
![]() |
| Saya dan Zakky kebetulan bertemu di Bandung pada sebuah acara pada Desember 2019. Betul saja dia kini jadi akademisi andalan kampusnya |
Namun, itu tak mengurangi wibawanya sama sekali. Memaki adalah hak semua orang. Bahkan semut rangrang yang palih salih sekalipun pernah memaki pemimpinnya. Diam-diam sih.
Terlepas dari semua itu, saya kaget bukan main calon magister kita ini adalah orang satu-satunya yang mengirim kado ulang tahun saya pada Maret ini. Sejauh ini, tak pernah ada sahabat, apalagi perempuan yang rela disebut kekasih, mengirimi saya kado.
Suatu pagi, pada 2014 saya dapati bungkusan coklat. Saya termenung lama memandangi tulisan si pengirim. Jelas itu nama sahabat saya. Ia mencantumkan nomor kontak yang ketika diperiksa, juga tak keliru dengan namanya di ponsel saya.
Karena kado itu benar-benar untuk saya, penasaran juga membukanya. Ketika saya buka, sungguh masya Allah, beberapa perempuan setengah telanjang menatap saya. Benar-benar setengah telanjang.
Saya kaget. Kenapa hanya setengahnya?
Ketika saya timang, ternyata perempuan setengah telanjang itu adalah jilid novel dengan judul-judul yang aduhai. Tak tanggung-tanggung di kulit mukanya tertera Rayuan Wanita Simpanan, Racun Cinta Kembang Malam, Gadis Bibir Sensual, Bercumbu dalam Remang, Jatuh dalam Pelukan Nafsu, Perempuan Nakal, Pergaulan Bebas, Perempuan di Simpang Jalan, dan Wanita Binal.
Marina S. penulisnya, diterbitkan TB Agency, Senen, Jakarta. Si penulis barangkali kekasihnya Freddy S. Bisa jadi ada garis keturunan dengan Tatang S. yang komikus Petruk itu.
Kendati merasa terhormat, saya merenung panjang-panjang atas bungkusan itu. Kenapa isinya novel-novel seperti itu? Kenapa yang demikian tidak salah kirim saja ke markas Petamburan? Itu belum saya pecahkan, persoalan selanjutnya, ada secarik kertas dengan dengan kalimat:
“Bang, selamat ulang tahun. Hidup walikukun!”
Coba, selamat ulang tahun gaya apa itu? Saya muntah-muntah memikirkannya sampai susah buang hajat berhari-hari.
Yang jadi pokok permasalahan kemudian adalah, kado yang saya tunggu dari Syahrini yang mengirim “sesuatu” tak kunjug tiba. Dari Cinta Citata yang kirim goyang dumang entah nyangkut dimana. Dan dari Zaskia Gotik itu goyang itiknya dihambat siapa.
Di situ kadang saya merasa sedih.
Jakarta, 10 Maret 2014
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar