![]() |
| (Ilustrasi: sawitplus.co) |
“Katakan kepada junjunganmu, Anoman. Kalau benar-benar ia menganggap aku kekasihnya, datanglah ke Alengka. Dialah yang harus menjemputku, orang yang dicintainya,” terang Sinta.
![]() |
| (Ilustrasi: sawitplus.co) |
“Katakan kepada junjunganmu, Anoman. Kalau benar-benar ia menganggap aku kekasihnya, datanglah ke Alengka. Dialah yang harus menjemputku, orang yang dicintainya,” terang Sinta.
Tak diduga-duga masuklah guru BP. Guru yang paling ditakuti oleh seantero MTs. Wali kelas (kelas tiga). Lalu Beliau berkata ”Bapak dari dulu selalu bawel kepada kalian supaya selalu merapikan diri” sambil mengeluarkan dua buah benda: gunting dan penggaris. Jumsih.
Tempurung kepala langsung mumet jika menghadapi rimba angka. Saya pernah berpikir, kenapa ada pelajaran yang membuat orang susah. Makanya, kalau ada orang menikmati pelajaran itu, saya haturkan salam salut seraya menjura 45 derajat.
![]() |
| Ilustrasi: https://id.pngtree.com |
Antasarah, bagiku mengungkap cinta kepada seseorang tak semudah membalikan telapak tangan. Sungguh memerlukan keberanian; menawarkan rasa malu yang entah datang dari mana, keengganan, dan entah rasa apa lagi yang menumpuk berlapis-lapis, menggumpal dalam ketakutan. Mungkin itulah sebab terciptanya mantera sugesti untuk mengungkapkan cinta.
![]() |
| Saya menyalami Pak Mumu BA |
Namanya hanya Mumu dan BA di belakangnya, mungkin sebuah gelar akademik. Saya tidak tahu gelar dalam bidang apa. Seingat saya, hanya Pak Mumu yang BA di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak pada 2000-2003.
Hari: Senin, Tanggal: 7-9, Tahun: 99
Pelajaran ketiga, 2 kali sudah bermasalah. Sejarah saat itu. Memang bersejarah. Bu ARR saat itu tidak masuk. Sebagai badal, seorang Pak EJ yang rambutnya sedikit kribo, berkumis tebal, ditumbuhi bulu-bulu halus di lengannya, dan tatapan mata yang tajam. Pak EJ memberi mandat pada seorang murid kls II A untuk menuliskan pelajaran sejarah. Lalu ia pun keluar entah kemana.
“Doel ini yang tidak jelas,” katanya, “saya yang paling tidak menyadari itu justru nama Doel berasal dari mana, dari mulut siapa pertama. Itu saya sampai sekarang teu kalacak (tidak terlacak), ngan (tapi) tiba-tiba nama itu nempel, udah we kitu,” kisahnya saat ia menjadi bintang tamu Guar Budaya, sebuah program kerja sama Lesbumi NU dan Media Center PWNU Jawa Barat yang tayang Jumat (12/3), pukul 19.30.
![]() |
| Salah satu novel karya Marina S. |
Saya punya kecemburuan tersendiri kepada sahabat satu ini. Dia selesai kuliah S1 dengan baik. Dalam arti ia tidak ngaret sebagaimana umumnya mahasiswa sezamannya yang bahkan ada yang tak bisa meloloskan diri. Kemudian melanjutkan S2 dengan normal pula.
Di usia 25, ia hampir mendapat gelar magister bidang komunikasi. Jika melanjutkan studi, dua atau tiga tahun ke depan ia akan mengantongi doktor. Sebelum usia 30, siap-siap saja saya membaca profil doktor muda terkemuka di media massa. Layak disimak analisisnya di tivi dan radio. Untuk jadi dosen juga ia menempuh jalan lurus. Mungkin nanti saya akan mendengar dia sebagai dosen teladan bagi mahasiswi-mahasiswanya. Tulisannya juga akan mewarnai jurnal-jurnal illmiah.
Akhir pekan lalu saya bertemu dengan ajengan muda kita ini selama dua hari. Dalam satu sesi, dia membawa plastik putih ukuran seperempat liter, berisi cairan coklat. Kopi sasetan yang sudah diseduh.
![]() |
| Pak Syair di kediamannya |
Jika menyimak perjalanan hidupnya, menurut saya, dia adalah penyair, tapi bukan dengan kata-kata, melainkan dengan amal perbuatannya, terutama dalam dunia pendidikan, lebih khusus lagi dalam pendidikan di Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang.
![]() |
| Luqman yang kini berbaju besi (Foto: Facebook) |
Tujuh tahun tidak ketemu, hampir saja saya lupa beberapa hal yang berkaitan dengannya. Maklum, hampir sewindu lebih digilas kaki sang waktu, meminjam istilah Iwan Fals, yang sombong.
Saat saya kelas 2.2, dia mengampu pelajaran Biologi dan sebagai wali kelas. Namun, saya tak terlalu banyak berkomunikasi dengannya di luar urusan pelajaran karena itu wilayah KM, Ujang Rahmat Hidayat asal Selajambe, di samping bukanlah murid yang menonjol di Biologi. Ujang Abdul Muhyi asal Gudang, murid yang mendapatkan nilai tertinggi pelajaran itu. Sementara saya hanya tahu klorofil saja. Yang lainnya tidak sama sekali.
Namun karena hadiah dari istri, tentu saya senang menerimanya. Sayangnya, dia hanya menamakannya jasket. Itu terlalu sederhana sebagai hadiah. Oleh karena itu, saya berinisiatif menambahkannya menjadi Jasket Cinta Antimasuk Angin.