Buat Makki, Ahfadl, Wahyu, dan Idham
Apa artinya ulang tahun bagi seseorang? Apa yang dilakukan seseorang untuk merayakan ulang tahunnya? Apa yang dilakukan seseorang terhadap sahabatnya yang berulang tahun? Jawaban pasti berderet-deret. Dan, saya tak mau mengabsennya satu per satu. Buat apa? Tapi setidaknya mengucapkan selamat ulang tahun lewat FB, pesan singkat, atau langsung ketemu orangnya, minta ditraktir.
Ketika sahabat saya ulang tahun 18 Agustus lalu, saya mengirim pesan singkat demikian: 18082010. Hanya itu. Tak ada yang lain. Bukans aya sedang hemat kalimat atau apa pun. Tapi itulah yang ingin saya sampaikan.
Beberapa menit kemudian terjadi balas membalas antara saya dan dia:
Dia: baik anak muda,kuterima laporanmu.
Saya: semoga kaubenar
Dia: pahlawanmu kurang tangkas
Saya: Tak bosan kauminta itu
Dia: apa memang harus layu
Saya : Ujungnya daging haris dipenggal
Dia tidak membalas lagi. Tapi, menjelang buka, satu pesan singkat diterima. "Bung kita di warkop".
Dia tidak menyuruh atau mengajak. Tapi menceritakan sedang di warkop. Warkop adalah warung kopi. Sebenarnya tidak hanya kopi yang dijajakan, tapi bubur kacang ijo, mie rebus/goreng, roti bakar, minuman dingin dan panas, dll. Dan yang berkumpul di situ pun tidak hanya untuk sekadar minum kopi, tapi kongkow. Bicara tentang apa saja. Dari yang paling remeh-temeh hingga yang paling gawat.
Saya ke warkop sehabis buka puasa. Sendirian! Gerimis memang, tapi apa artinya gerimis?
Di warkop, saya mendapatinya sedang dikelilingi tiga orang:Idham, Wahyu, dan Ahfadl. Mereka berpisah dari ramai warkop, yang riuh-rendah ceracau obrolan. Di hadapan kami, dua gelas kopi hitam dan teh manis. Beberapa bungkus rokok kretek kempes dan mild. Saya tidak mengucapkan selamat uang tahun. Buat apa?
Perbincangan dimulai dari Agustusan yang sepi. Sepi sekali. Padahal proklamasi pertama juga bulan Ramadan. Tapi tetap hiruk-pikuk.Barangkali semangat zaman sudah berlainan. Tapi ya sudahlah. Entar dibilang sok! Sok inilah! Sok itulah!
Masing-masing dengan rokok di tangan. Sahabat saya mengisap rokok kretek dalam-dalam. Wajahnya tertunduk. Jemari memetik senar. Lagu Indonesia Pusaka. Kami ikut menyanyi. Terasa merinding bulu kuduk. Kemudian lagu Himne pahlawan
Dengar seluruh
Angkasa raya memuji
Pahlawan negara
Nan gugur remaja
Di ribaan bendera
Bela nusa bangsa
Kau kukenang
Kemudian beralih ke Iwan Fals Bangunlah Putera-puter Pertiwi:Garuda bukanlah burung perkutut, sang saka bukan sandang pembalut, dan coba dengarlah, pancasila bukanlah kode buntut
Kemudian Jangan Bicara: Jangan bicara, soal idealisme, mari bicara berapa banyakuang di kantong kita/Jangan bicara soal nasionalisme, mari bicara tentang kitayang lupa warna bendera sendiri/Jangan bicara soal keadilan, sebab keadilan bukan untukdiperdebatkan/Jangan bicara soal kemakmuran, sebab kemakmuran untukanjing si tuan polan.
"Saya bukan musisi sekolahan. Kumpul bersama untuk mencariharmoni saja tujuannya. Saya tahu komposisi dan aransemen saya adalahkehidupan" (lihat Iwan Fals di majalah RollingStone, Juli 2009)
Kemudian lagu "Mereka Ada di Jalan, "Aku Disini, "Ambulan Zigzag", "Ujung Aspal Pondok Gede", "Kawanku Punya Kawan". Tapi kami buntu ketika akan menyanyi lagu "Kuda Lumping", kawan saya memetik gitar sambil mengingat liriknya. Tetap mogok.
Diam-diam saya mengirim pesan singkat ke Mawardi. Dia penikmat Fals. Menurutnya, di Indonesia, penyanyi itu cuma ada dua. Pertama,Iwan Fals. Kedua, selain Iwan Fals. Penggemarnya pun ada dua. OI dan selainnya.OI terbagi dua: yang struktural dan kultural. Menurutnya, dia adalah kultural.Penggolongan ini, pernah ditolak olah sahabat saya, Ibor Pondok Pinang, yang ketika kenalan mengaku bernama Joko.
Pesan singkat yang saya kirimkan "heh, pak tua, apa lirik awal lagu Kuda Lumping?"
Dia : "Elu sinting. Elu sinting"
Saya: "Elu Badut serakah"
Dia : "Dasar bromocorah"
Saya: "Dasar Pengobral dosa"
Karena buntu, saya telepon Hafiz. Saya paksa dia menyanyisatu bait. Setelah itu, saya matikan tanpa pamit. Buat apa? tapi sahabat saya sudah tidak berminat menyanyikan lagu itu lagi.
Di sela-sela jeda, sambil nyetem gitar, sahabat saya mengapresiasi Balada Orang-orang pedalaman. Menururtnya, Iwan bercerita tentang kepedihan orang pedaalaman tanpa keluar kata "sedih", tapi cukup dengan tak tajam lagi tombak dan parang, dan tak ampuh lagi mantera dari sang pawang.
(Apresiasi lain, dia pernah melakukan pembabakaan atas karya Iwan Fals. Lihat http://kacajendela.wordpress.com/2009/02/11/periodisasi-dalam-karya-iwan-fals-bagian-1/ dan http://kacajendela.wordpress.com/2009/02/11/periodisasi-dalam-karya-iwan-fals-bagian-2/) Kemudian tentang ketertarikan pada "moralitas pinggiran" Iwan. Misalnya, Lonteku, Pengobral Dosa, Perepuan Malam. Bahkan, pada lagu Azan Subuh Masih di Telinga, Iwan mendeskrpsikan azan dan seorang pelacur. Dia mempertautkan dua identitas yang bertolak belakang. Tapi sayang Iwan sudah tidak mau menyanyikan lagu semacam itu.
Saya ada ke keinginan untuk kembali ke jalanan. Kumpulbersama kaki lima. Bergaul dengan pelacur. Mabuk di jalanan. Sudah nggakmungkin. Syaraf saya sudah nggak kuat. Nggak mungkin. Ada hal lain lagidaripadaromantisme seperti itu yang lebih utama. Seperti mensyukuri masa lalu. (lihat IwanFals di majalah RollingStone, Juli 2009)
Malam bertambah malam. Kami hampiri satu per satu Puing,Columbia, Celoteh Camar Tolol, Terminal, Orang Pinggiran, Aku Sayang Kamu,Nona, Setangkai Kembang Pete, Bung Hatta, Sugali, Gali Gongli, Orang Gila, Brandal Malam di Bangku terminal, Libur Kecil Kaum Kusam, Panggilan dari Gunung... Tapisatu hal, kami tidak pernah menyanyikan Sarjana Muda.
Menjelang sahur, saya pulang. Tapi minta dinyanyikan BelumAda Judul. Menurut Anas lagu ini cara Iwan mengabadikan sahabatnya, FrankySahilatua. Terlepas dari benar dan tidak, saya ingin mengabadikansahabat-sahabat saya juga dengan lagu ini.
Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong....
18082010,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar