Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Dalam sebait lirik lagu yang berjudul Berita Kepada Kawan buah karya Ebiet G. Ade ini bercerita tentang bencana. Lagu ini menjadi seolah-olah soundtrack ketika terjadi bencana di negeri ini. Misalnya, ketika terjadi tsunami di Nagggroe Aceh Darusalam, tv-tv swasta menurunkan berita diiringi lagu ini.
Sebenarnya banyak lagu bercerita tentang bencana. Tapi hingga kini, sependek pengetahuan saya, (sepertinya) belum ada yang menandingi lagu ini.
Tapi yang menarik (mungkin juga biasa saja) di akhir lagu ini, Ebiet bertanya, mengapa di tanahku terjadi bencana? Dia menjawab dengan kemungkinan-kemungkinan. Sepertinya dia tidak berniat untuk menjawabnya. Atau barangkali ini sejenis jawaban juga? Coba perhatikan lirik ini:
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Sebelum menentukan apakah ini jawaban atau bukan, kita “tamasya” dulu barang sebentar.
Dalam lirik ini, sebagai kemungkinan pertama, Ebiet mengaitkan bencana dengan tuhan yang bosan melihat tingkah laku manusia. Manusia yang mana? Manusia yang berdosa!
Timbul pertanyaan iseng, apakah tuhan senang dengan manusia yang tidak berdosa (beribadah)? Kalau menggunakan logika biner, berarti tuhan senang. Artinya, tuhan itu terpengaruh sama makhluknya. Ada aksi dan reaksi, begitu kalau memijam istilah fisika. Dia bisa senang, bosan, sekali waktu juga benci, kangen, galau atau gundah-gulana seperti di Twitter begitulah; tak jauh beda dengan manusia yang melata di mayapada ini.
Kalau merujuk ilmu kalam, paham semacam ini disebut mujassimah. Silakan buka-buka kembali buku teologi!
Tentu saja ini pikiran saya yang serampangan bin ngawur. Jelas, lirik tersebut adalah metafora. Tujuannya barangkali untuk lebih akrab dengan penikmat lagu ini. Amir Hamzah pun menggambarkan tuhan demikian.
Engkau ganas
Engkau cemburu
Mangsa aku dalam cakarMu
Kembali lagi ke lirik Berita Kepada Kawan. Kemungkinan kedua (dari adanya bencana) itu adalah karena alam yang tidak bersahabat dengan kita. Pertanyaannya kemudian, kenapa alam tidak mau lagi bersahabat?
Pertanyaan ini sekaligus menyiratkan “akibat”. Setiap akibat, membutuhkan “sebab”. Untuk memperolehnya, kita bisa menimba dari Iwan Fals, misalnya di lirik Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi.
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Dengan HPH berbuat semaunya
Suara meraung di hutan, bukan aum harimau. Tapi buldozer menumbangkan pohon-pohon. Isi rimba raya pun menjerit. Burung-burung terbang meninggalkan anak-anaknya di sarang. Pelanduk berlari ke semak-semak. Ular menggelesot ke rumpun bambu. Kunyuk tak jadi melempar buah. Singa geleng-geleng kepala di kejauhan, kerajannya dijarah semena-semena. Sementara ada makhluk yang tertawa sambil kelakar.
Sebenarnya, pohon boleh saja ditumbangkan. Tapi masalahnya, “badut-badut” itu serakah. Sudah tanpa HPH, mereka berbuat semaunya. Mereka tak berniat menanam kembali pepohonan dan mengabaikan kelangsungan hidup penghuninya. Pada titik tertentu, mereka tak ingat rezeki generasi nanti. Intinya: alam raya dan segala isinya, tak cukup untuk seorang serakah! Percayalah!
Dari lirik ini, kita mendapat penjelasan bahwa alam yang tidak lagi mau bersahabat dengan kita (manusia) karena manusianya sendiri tak mau menyahabatinya.
Tentu saja tidak setiap manusia pelakunya, ya itu tadi: badut-badut (brengsek) serakah. Siapa badut serakah ini? Dalam Balada Orang-Orang Pedalaman Iwan Fals menjelaskan.
Manusia yang datang dari kota
Pertanyaan baru segera menyusul, manusia yang datang dari kota mana? Iwan tidak menjawabnya. Tapi saya yakin, setiap kota yang di dalamnya ada perselingkuhan antara kekuasaan dan pemilik uang yang “tangan-tangannya” bisa menjangkau laut, hutan, gunung dan isi perut bumi.
Korban pertama dari badut-badut serakah yang dibosani tuhan ini adalah orang-orang pedalaman. Simak lirik Balada Orang-Orang Pedalaman selanjutnya:
Dimana lagi cari hewan buruan
Yang pergi karena senapan
Dimana mencari ranting pohon
Kalau sang pohon tak ada lagi . . . . . .
Pada siapa mereka tanyakan hewannya
Ya . . . . . pada siapa tanyakan pohonnya
Dalam lagu ini, Iwan Fals menjelaskan, (efek tidak langsungnya) adalah tanah kering kerontang dan banjir siap datang dikala musim hujan.
Jelaslah sudah. Tuhan bosan kepada badut-badut serakah yang berbuat semaunya ini. Tapi, atas nama saya pribadi, saya memohon kepada tuhan, janganlah hanya membosani dong. Tapi ambil tindakan dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hukumlah mereka sesuai dengan tindakan mereka. Jangan hanya di nereka, tapi tunjukkan di sini, didi mana pun bumi di pijaknya dan langit di junjungnya.
Kutunggu campur tanganmu, tuhan! Tolong diperhatikan, ya!
Kembali lagi ke lagu Berita kepada Kawan. Tadi sudah dijelaskan bahwa Ebiet bertanya kenapa bencana terjadi di tanah ini. Kemudian dia mengajukan kemungkinan-kemungkinan yang barangkali jawaban, yaitu tuhan yang bosan dan tak bersahabanya alam.
Kalau boleh saya menyimpulkan (emang siapa yang tidak membolehkan?), Ebiet tidak yakin kemungkinan-kemungkinan yang diajukannya itu sebagai jawaban. Buktinya dia malah mengajak bertanya kepada pihak lain, yaitu “rumput yang sedang bergoyang”.
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
Tapi ternyata, Ebiet hanya mengajak. Belum sempat rumput itu menjawab, ia sudah kembali kepada lirik sebelumnya. Jawaban rumput itu sendiri masih misterius seperti kasus hukum para koruptor.
Akhirnya, saya mencari sendiri. Tapi susah dan hampir putus asa. Sampai sempat berpikir bahwa tanya ini terbawa hingga tutup usia.
Suatu waktu, saya bertemu dengan ujung lirik lagu Melati dari Jayagiri buah karya Iwan Abdurahman yang dipopulerkan Bimbo. Begini bunyinya:
Jawabnya tertiup di angin lalu
Saya melonjak kegirangan seolah Archimedes menemukan hukum berat di perut air. Barangkali inilah jawaban dari rumput yang bergoyang itu.
Tapi setelah saya pikir-pikir, menimbang-nimbang, ternyata bukan jawaban juga, karena lirik ini hanya memberi tahu siapa yang menjawab. Tapi jawabannya itu sendiri masih tak terjelaskan!
Ciputat, 14 Desember 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar