Selasa, 24 Februari 2026

Pertemuan A Plus dengan Guru Legendaris

Pak Uyen Hs (kiri) dan saya (Foto: Hilman)
Saya beberapa kali kapok jika merencanakan pertemuan dengan seseorang. Saya yang tak jadi datang atau dia yang urung. Bahkan kurang ajarnya, saya atau dia, tak jadi ketemu sonder mengumumkan pembatalan di muka. 

Karenanya saya lebih suka pertemuan mendadak. Pertemuan jenis ini nilainya A plus. Tentu saja Z min jika  pertemuan mendadak itu dengan makhluk yang tak ingin saya temui. Jurig jarian atau manusia yang bersifat semacam itu, misalnya.   

Kedua pertemuan A tanpa plus. Jenis ini merupakan pertemuan yang direncanakan, tapi mendadak atau seketika. Dalam waktu yang singkat dilaksanakan tanpa menunggu kejadian-kejadian lain yang mungkin bisa jadi aral melintang.  

Nah, pada grade pertemuan A plus inilah saya ketemu dengan salah seorang guru legendaris di MAN Cibadak. Pendahuluannya begini. Beberapa waktu lalu, adik saya meminta untuk mengantarkan helm milik temannya. Meski tidak asyik sama sekali dititipi benda begituan, saya lakukan juga. Mengirim dia jalan-jalan ke Venesia saat ini belum mampu, saya niatkan saja mengantarkan helm sebagai sarana menyenangkannya dalam skala kecil-kecilan. Bukankah niat sangat diperhitungkan tuhan?    

Teman adik saya adalah teman saya juga. Paling tidak, sama-sama kenal. Ritual mengembalikan helm dirayakan di warung kopi. Tentu saja tidak saling membisu seperti batu ketemu batako. Kita memungsikan mulut dengan baik. Di situlah kami mendadak berpikir untuk menemui legenda sekolah kami. Setelah tanya alamat dia ke sana ke mari, kami jalan selepas maghrib. 

Kami masuk pada sebuah gang di jalan Kadudampit. Teman saya memelankan laju motor karena jalanan licin dan sempit. Tiba-tiba ketika di samping kanan mendapati masjid besar, teman saya mengajak berhenti. Dia memberi isyarat untuk memeriksa masjid. Firasatnya mengatakan beliau ada di situ. 

Saya celingukan di balik jendela masjid meneliti bagian belakang orang-orang. Bagi yang melihat di kejauhan, saya pasti disangka oanggota sindikat pencuri kotak amal. 

Di bagian tengah jajaran paling belakang, mata saya berhenti pada satu sosok dengan tinggi tak kurang 166 cm. Perawakannya kurus dengan bahu agak miring ke kanan. Cara berdiri dan menyedekapkan tangan saat sembahyang orang berbaju batik panjang hitam, kopiah hitam dan sarung bergaris-garis, itu mengingatkan saya ke abu-abu putih 2000-2003.   

Meski 12 tahun tidak ketemu, mata saya tak bisa dibohongi. Makanya langsung berwudlu dan ikut sembahyang bersama mereka. Karena isya, saya tak berlebihan dan sok-sokan ingin pahala lebih, saya cukup empat rakaat saja. 

***

Husiani di belakang nama Uyen adalah berawal kekeliruan, entah disengaja atau tidak, oleh petugas pencatat dokumen resmi. Tertukar posisi antara huruf "a" dan "i". Celakanya kekeliruan itu jadi patokan dokumen-dokumen resmi di belakangnya hingga sekarang. Husiani yang seharusnya Husaini menjadi bayang-bayang di belakang Uyen sepanjang hayat. 

Tak hanya itu, kekeliruan tukang catat tertera juga di tahun kelahiran. Seharusnya 1940 menjadi 1945. Fatal sekali karena selisihnya 5 tahun. Tapi ya sudahlah.  

Pak Uyen dan Hilman 

Ketika bersilaturahim ke rumahnya malam itu, sejam saya kami ngobrol dengannya. Di antara topik pembicaraan adalah riwayat pendidikannya. Saya ceritakan singkatnya saja di sini. 

Ia lulusan Pendidikan Guru Agama di Bogor. Karena waktu itu guru masih defisit, selepas lulus, panggilan datang dari pemerintah untuk mengajar. Tak hanya sekali, melainkan sampai 3 kali. Tapi ia menolaknya karena merasa tak mampu menjadi seorang guru. 

Akhirnya ia mau setelah kepala sekolahnya yang datang. Kemudian ia mulai mengajar pertama kali di SD milik PGA tersebut. Tak lama kemudian, diangkat jadi pegawai negeri tanpa uang pelicin sepeser pun. Sepeser pun!

Di usianya yang 75 tahun ini, dia masih mengajar di MAN Cibadak sebagai pengampu pelajaran bahasa Indonesia. Dia sudah pensiun pegawai negeri sebetulnya, tapi mengajar tetap dilakukakannya. Padahal teman-teman seangkatannya sudah berada di pangkuan ilahi. 

Jarak rumah dan tempat mengajarnya tidak dekat. Mungkin ada 30 km. Untuk sampai ke sekolah, dia harus jalan kaki ke gang, naik angkot sampai Cisaat. Naik Cisaat-Cibadak. Lalu Cibadak-Cicurug. Dan sebagaimana pengalaman saya ketika menjadi muridnya, jarang sekali dia telat. 

Di awal tulisan ini saya sebut dia legendaris. Siapa pun boleh setuju atau tidak. Jika tak setuju, biarlah saya sendirian saja. Tak masalah. Paling tidak, dia legendaris bagi pikiran saya yang telah menanamkan pengetahuan sastra Indonesia. Dia yang menceritakan Aki-nya Idrus yang berpenyakit paru-paru itu. Karena Pak Uyen juga kurus, dalam bayangan saya Aki itu ya perawakannya Pak Uyen sendiri. Dia juga yang menceritakan Guru Isa dan Hazil Mochtar Lubis dalam Jalan Tak Ada Ujung

Dan yang paling penting pembabakan sastra Indonesia berdasar HB Jassin. Salah satu cara mengingat Angkatan 45, kata dia, di prosa dipelopori Idrus dengan Aki sementara pelopor puisi Chairil Anwar dengan Aku. Aki dan Aku untuk 45, betapa enaknya diingat.  

Meski tidak sampai pada apresiasi sastra, dia telah membuat saya ingat nama-nama sastrawan dan beberapa karyanya. Pengetahuan ini mungkin tak akan berguna untuk ditawarkan kepada Presiden sebagai modal jadi Menteri Pemuda dan Olahraga tahun 2019, tapi saya tidak merasa rugi sama sekali. Bahkan beruntung. 

Letak keuntungannya di mana? Entar saya ceritakan kalau sudah tak bisa mengingat lagi.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar