![]() |
| Pak Indrakila |
Ada juga Indrakila dalam cerita pewayangan yang merujuk pada gunung suci dalam mitologi Hindu (Mahabharata). Gunung itu, konon, tempat Arjuna bertapa untuk memperoleh senjata Pasupati.
Namun, ini lain dari keduanya. Indrakila satu ini adalah nama guru saya yang memperkenalkan nama-nama Latin tumbuhan. Entah berapa banyak yang disampaikannya. Namun, yang masih nyangkut dalam benak adalah oryza sativa. Nama itu melekat erat, mungkin karena diucapkan berulang kali di depan kelas.
Saat mengajar kelas 1.3 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak tahun ajaran 2000-2001, usianya mendekati 40 tahun, tapi masih berstatus perjaka. Saat awal kelas 3 atau mungkin akhir kelas 2, dia kemudian menikah. Saya bersama teman-teman OSIS yang dipimpin Ujang Abdul Muhyi asal Gudang, menghadiri pernikahannya.
Perawakannya tinggi besar. Mungkin tak jauh dari 175 cm. Tegap karena masa muda hobi bermain basket. Rambutnya agak ikal bergulung. Kulitnya sawo matang. Sering mengenakan baju lengan panjang digulung sampai siku. Sosoknya memberikan kesan wibawa yang cukup untuk membuat seisi kelas terdiam hanya dengan kehadirannya di ambang pintu.
Saat saya kelas 1.3, ia merupakan guru BP yang seperti biasanya banyak ditakuti murid pelanggar. Ia dikenal tak pilih-pilih menghukum siapa pun. Saya termasuk pernah dihajar karena melanggar. Termasuk teman sebangku sebelah kanan saya, Mulyadi Aripin asal Papisangan. Begitu juga teman sebangku sebelah kiri saya, Supandi asal Parigi.
Pada suatu Jumat entah di bulan ke berapa, Pak Indrakila masuk. Sebetulnya tak ada jadwal pelajarannya, tapi karena jam pelajaran kosong, ia masuk kelas. Sontak murid-murid yang merasa melanggar aturan, langsung ciut nyalinya. Namun, tak ada lagi tempat bersembunyi. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak beku, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak menipis.
Ia memeriksa satu per satu murid. Satu pelanggaran, satu tamparan. Saya termasuk melanggar hari itu. Baju Pramuka saya tak memiliki papan nama dan tak mengenakan kaus kaki. Sebuah keteledoran yang harus dibayar tunai di tempat.
Satu tamparan di pipi kiri dan kanan. Entah bagaimana muka saya sebelum dan sesudah ditampar Pak Indrakila. Dan entah bagaimana mata murid-murid lain yang menyaksikan eksekusi itu dari bangku mereka. Saya hanya tertunduk. Namun, tiba-tiba tersenyum, dan hampir tak kuat menahan tawa. Tapi sekuat tenaga menahannya karena bisa jadi tertawa akan menambah tamparan.
Jadi, tepat setelah tamparan Pak Indrakila mendarat, ingatan saya mendadak terlempar pada sebuah anekdot tentang penjual salak yang tersesat ke daerah terlarang. Alkisah, di wilayah tersebut, Tuan Kota yang bertangan besi dan cenderung senewen tak segan menghukum pendatang dengan cara yang keji.
Si tukang salak tertangkap petugas, lalu dihadapkan pada Tuan Kota di hadapan khalayak. Tanpa ampun, Tuan Kota memerintahkan hukuman yang tak masuk akal: tiga butir salak yang masih bersisik tajam harus dilesakkan ke dalam perut melalui lubang anus si penjual.
Pada eksekusi pertama, raungan memekakkan telinga pecah saat salak kasar itu dipaksa masuk. Keringat dingin, air mata, hingga tetesan darah bercampur di antara kerutan anus yang koyak. Begitu pula saat salak kedua dipaksakan masuk; rasa sakitnya seolah tak tertanggungkan.
Namun, keanehan terjadi saat petugas hendak melesakkan salak ketiga. Alih-alih merintih atau pingsan, si tukang salak justru meledak dalam tawa.
Tuan Kota yang kebingungan membentak, "Kenapa kamu malah tertawa?!"
Sambil terengah, si tukang salak melirik ke arah petugas yang sedang menyeret seorang tukang durian ke hadapan mereka. Ia membayangkan bagaimana nasib si tukang durian jika menerima hukuman yang sama. Imajinasi tentang penderitaan orang lain yang jauh lebih kolosal itu mendadak menjadi penawar mujarab bagi rasa sakitnya sendiri.
Begitulah saya tersenyum dan hampir tertawa karena Pak Indrakila kemudian melirik Dadi Slamet. Entah berapa tamparan yang akan diterimanya. Pertama, ia memakai seragam putih-abu di hari Jumat. Satu tamparan untuk baju putih. Satu tamparan untuk celana abu-abu. Ia juga tak mengenakan sabuk. Tak mengenakan kaus kaki. Tak ada lokasi dan atribut lainnya. Hanya OSIS di sakunya.
Demikianlah selepas ditampar pipi kiri dan kanan, lalu melihat Dadi Slamet, saya seperti tukang salak yang membayangkan hukuman untuk tukang durian. Pipi kiri dan kanan saya memang panas, tapi batin saya mendadak riang dan lega yang aneh, membayangkan Dadi yang tak mungkin Slamet lagi dari tamparan.
***
Pada Januari 2024, saya mendengar Pak Indrakila wafat. Sayang sekali saya tak bertakziah. Namun, mendoakan dengan mengirim Alfatihah. Semoga husnul khatimah... Amin...
Pacet, 3 April 2026
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar