Adalah lazim satu karya ditanggapi karya lain. Bisa dengan bantahan, makian, mengamini atau memperjelas. Polemik bisa berlarut-larut di surat kabar, televisi atau media lain; melibatkan berbagai pihak.
Tahun 70-an misalnya, pernah terjadi polemik atas karya Ki Pandji Kusmin berjudul Langit Semakin Mendung. Berbagai kalangan merasa terpanggil angkat bicara. Ujungnya, yang duduga sebagai pelaku, dipenjara. Tahun 80-an juga terjadi polemik sastera konstekstual; apakah “sastera untuk santera” atau “sastera yang berpihak” (untuk rakyat).
Begitu pula dalam musik. Satu aliran musik kadang membenci jenis musik lain. Itu bisa disimak dari lirik-lirik lagunya. Bisa disampaikan dengan vulgar, sebaliknya ada juga yang halus. Coba perhatikan potongan lirik berjudul “Pop Band” karya The Law:
Ian Kasela elu pake kacamata
Gue kiirain elu tukang pijit tunanetra
Tapi ternyata elu vokalisnya Radja
Ngeliat gaya elu gua jadi mau muntah
Elu banyak gaya dan kayak rajasinga
Dalam lagu ini, Ariel Peterpan, Pasya Ungu, Krispatih, Didi Elemen, Bams Samson, juga menjadi sasaran sumpah-serapahnya. Tapi The Law memaki karena memang benci, tidak dijelaskan letak kebenciannya. Yang penting fuck pop band.Begitu pula kelompok hip hop Ball yang menghina Kangen Band habis-habisan. Tapi anehnya, Segitiga Bermuda yang sama-sama hip hop membela Kangen Band dan mencaci balik Ball. Simak lirik berikut.
Ini bukan pembelaan
Ini lagu perlawanan
Yang nggak seneng gua tantang
Jangan cuma main belakang
Heh Ball dengerin
Satu band celaka
Emang mereka beda
Tampang cemen
Elu bilang kayak pengamen
Gue pikir lagu lu keren
Terus pengennya ngetrend
Tapi elu nggak bisa nandingin pamornya kangen band
Orang-orang suka kangen band urusan mereka
Mungkin sekarang zamannya sudah beda
Bukannya harus dengerin lagunya Dewa
Berbeda dengan Mati Anjing memaki d’Masiv. Ia memaki dengan kebencian beralasan; d’ Masiv diduga melakukan perbuatan paling(!) tercela dalam karya.
Pake dong otak
jangan cuma jadi benalu
daripada plagiat mending jadi pekcun
plagiat sama dengan bangsat
bangsat sama dengan pencuri
pencuri terakhir pasti masuk bui
band luar negeri elu copy
Di tahun 70-80-an dangdut pernah dipandang sebelah mata. Konon, musik yang digawangi Rhoma Irama dkk. ini sering dijadikan bulan-bulanan jenis musik lain. Di film-film, dangdut dicitrakan sebagai milik kaum kampungan. Yang paling kentara, dalam film Menggapai Matahari II yang dibintangi Rhoma Irama, Yati Octavia dan Ikang Fauzy. Di film ini, (meski menurut saya keterlaluan), kelompok Ikang Fauzi, yang berbeda aliran musik membubarkan pertunjukan dangdut. Rhoma Irama yang sebelumnya berniat pensiun, merasa terpanggil kembali berdangdut. Dalam film Begadang II yang dirilis tahun 78, ada lagu yang berjudul “Musik”. Menurut saya, lagu ini tercipta untuk menanggapi situasi yang ada pada waktu itu.
bermacam-macam itu jenis musik
dari yang pop sampai yang klasik
musik yang kami perdengarkan
musik berirama melayu
siapa suka mari dengarkan
yang tak suka silakan minggir
bagi pemusik anti-melayu
boleh benci jangan mangganggu
biarkan kami mendendangkan lagu
lagu kami lagu melayu
Farid Hardja, pemusik bertubuh gemuk, berkaca mata hitam, yang tergabung dalam kelompok Bani Adam ikut memprihatinkan nasib dangdut. Penyanyi yang terkenal lewat “Karmila” (diduga plagiat) dan “Ini Rindu”, yang juga bermusik di tahun-tahun itu menciptakan lagu “Dunia Dangdut” :
oh lagu dangdut
engkau lahir di negeriku
lagu dangdut
sungguh aneh nasib kamu
lagu dangdut
ada yang suka dan anti
lagu dangdut
aku sering mendengarmu
oh, lagu dangdut
oh, lagu dangdut
oh musik dangdut
oh, goyang dangdut
itulah dunia selalu ada dua
ada yang suka dan tidak
ketabahanmu membuatku kagum
berdendanglah dikau di sana
berulang kali namamu jadi berita
suka dan anti semakin keras melanda
oh….
Dari lirik lagu ini betapa gawatnya situasi yang dihadapi dangdut waktu itu. Tapi dia tabah dan tetap berjoged dangdut. Dan, dangdut terbukti bisa bertahan, meski terus bergeser dari warna aslinya. Aliran musik lain, Projec Pop mengakui dangdut sebagai is the music of my country. Dangdut never day! bahkan mengglobal. Rohma Irama pun mengklaim dangdut didengar dimana-mana. Coba simak Viva Dangdut:
di gunung, di dusun, sampai di kota-kota
irama Melayu bergema berkumandang
di Jepang, Eropa, bahkan di Amerika
irama melayu orang mulai tahu
Sebagai penutup, saya mengutip lagu Rhoma Irama yang berjudul Dilarang Melarang yang dinyanyikan Noerhalimah:
Dilarang melarang
Kesenangan orang
Asal tak mengganggu lain orang
Dilarang melarang
Kemauan orang
Asal maunya tak terlarang
Tapi sayang, Bang Haji mengingkari diktum ini. Ia melarang Inul bergoyang (ngebor) yang tidak sesuai dengan syariat dangdut. Karenanya dia pernah mengeluarkan fatwa haram atas ayat-ayat dangdutnya dinyanyikan Inul. Sungguh terlalu!!!
Ciputat, 17 Desember 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar