Rabu, 25 Februari 2026

Ketika Musik sebagai Arena Saling Memaki

Adalah lazim satu karya ditanggapi karya lain. Bisa dengan bantahan, makian, mengamini atau memperjelas. Polemik bisa berlarut-larut di surat kabar, televisi atau media lain; melibatkan berbagai pihak. 

Tahun 70-an misalnya, pernah terjadi polemik atas karya Ki Pandji Kusmin berjudul Langit Semakin Mendung. Berbagai kalangan merasa terpanggil angkat bicara. Ujungnya, yang duduga sebagai pelaku, dipenjara. Tahun 80-an juga terjadi polemik sastera konstekstual; apakah “sastera untuk santera” atau “sastera yang berpihak” (untuk rakyat).

Begitu pula dalam musik. Satu aliran musik kadang membenci jenis musik lain. Itu bisa disimak dari lirik-lirik lagunya. Bisa disampaikan dengan vulgar, sebaliknya ada juga yang halus. Coba perhatikan potongan lirik berjudul “Pop Band” karya The Law:

Ian Kasela elu pake kacamata

Gue kiirain elu tukang pijit tunanetra

Tapi ternyata elu vokalisnya Radja

Ngeliat gaya elu gua jadi mau muntah

Elu banyak gaya dan kayak rajasinga

Dalam lagu ini, Ariel Peterpan, Pasya Ungu, Krispatih, Didi Elemen, Bams Samson, juga menjadi sasaran sumpah-serapahnya. Tapi The Law memaki karena memang benci, tidak dijelaskan letak kebenciannya. Yang penting fuck pop band. 

Begitu pula kelompok hip hop Ball yang menghina Kangen Band habis-habisan. Tapi anehnya, Segitiga Bermuda yang sama-sama hip hop membela Kangen Band dan mencaci balik Ball. Simak lirik berikut.

Ini bukan pembelaan

Ini lagu perlawanan

Yang nggak seneng gua tantang

Jangan cuma main belakang

Heh Ball dengerin

Satu band celaka

Emang mereka beda

Tampang cemen

Elu bilang kayak pengamen

Gue pikir lagu lu keren

Terus pengennya ngetrend

Tapi elu nggak bisa nandingin pamornya kangen band

Orang-orang suka kangen band urusan mereka

Mungkin sekarang zamannya sudah beda

Bukannya harus dengerin lagunya Dewa

Berbeda dengan Mati Anjing memaki d’Masiv. Ia memaki dengan kebencian beralasan; d’ Masiv diduga melakukan perbuatan paling(!) tercela dalam karya.

Pake dong otak

jangan cuma jadi benalu

daripada plagiat mending jadi pekcun

plagiat sama dengan bangsat

bangsat sama dengan pencuri

pencuri terakhir pasti masuk bui

band luar negeri elu copy

Di tahun 70-80-an dangdut pernah dipandang sebelah mata. Konon, musik yang digawangi Rhoma Irama dkk. ini sering dijadikan bulan-bulanan jenis musik lain. Di film-film, dangdut dicitrakan sebagai milik kaum kampungan. Yang paling kentara, dalam film Menggapai Matahari II yang dibintangi Rhoma Irama, Yati Octavia dan Ikang Fauzy. Di film ini, (meski menurut saya keterlaluan), kelompok Ikang Fauzi, yang berbeda aliran musik membubarkan pertunjukan dangdut. Rhoma Irama yang sebelumnya berniat pensiun, merasa terpanggil kembali berdangdut. Dalam film Begadang II yang dirilis tahun 78, ada lagu yang berjudul “Musik”. Menurut saya, lagu ini tercipta untuk menanggapi situasi yang ada pada waktu itu.

bermacam-macam itu jenis musik

dari yang pop sampai yang klasik

musik yang kami perdengarkan

musik berirama melayu

siapa suka mari dengarkan

yang tak suka silakan minggir

bagi pemusik anti-melayu

boleh benci jangan mangganggu

biarkan kami mendendangkan lagu

lagu kami lagu melayu

Farid Hardja, pemusik bertubuh gemuk, berkaca mata hitam, yang tergabung dalam kelompok Bani Adam ikut memprihatinkan nasib dangdut. Penyanyi yang terkenal lewat “Karmila” (diduga plagiat) dan “Ini Rindu”, yang juga bermusik di tahun-tahun itu menciptakan lagu “Dunia Dangdut” :

oh lagu dangdut

engkau lahir di negeriku

lagu dangdut

sungguh aneh nasib kamu

lagu dangdut

ada yang suka dan anti

lagu dangdut

aku sering mendengarmu

oh, lagu dangdut

oh, lagu dangdut

oh musik dangdut

oh, goyang dangdut

itulah dunia selalu ada dua

ada yang suka dan tidak

ketabahanmu membuatku kagum

berdendanglah dikau di sana

berulang kali namamu jadi berita

suka dan anti semakin keras melanda

oh….

Dari lirik lagu ini betapa gawatnya situasi yang dihadapi dangdut waktu itu. Tapi dia tabah dan tetap berjoged dangdut. Dan, dangdut terbukti bisa bertahan, meski terus bergeser dari warna aslinya. Aliran musik lain, Projec Pop mengakui dangdut sebagai is the music of my country. Dangdut never day! bahkan mengglobal. Rohma Irama pun mengklaim dangdut didengar dimana-mana. Coba simak Viva Dangdut:

di gunung, di dusun, sampai di kota-kota

irama Melayu bergema berkumandang

di Jepang, Eropa, bahkan di Amerika

irama melayu orang mulai tahu

Sebagai penutup, saya mengutip lagu Rhoma Irama yang berjudul Dilarang Melarang yang dinyanyikan Noerhalimah:

Dilarang melarang

Kesenangan orang

Asal tak mengganggu lain orang

Dilarang melarang

Kemauan orang

Asal maunya tak terlarang

Tapi sayang, Bang Haji mengingkari diktum ini. Ia melarang Inul bergoyang (ngebor) yang tidak sesuai dengan syariat dangdut. Karenanya dia pernah mengeluarkan fatwa haram atas ayat-ayat dangdutnya dinyanyikan Inul. Sungguh terlalu!!!


Ciputat, 17 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar