Bulan madu di awan biru
tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Pertama kali saya dengar lagu ini justru bukan dari mulut primer, tapi sekunder, seorang gadis tetangga, ketika saya belum masuk SD. Dia begitu menikmati lagu ini sambil menanak nasi di rumahnya.
Gadis tersebut mengetahui lagu Inka Christie dan Amy Search tidak melalui kaset, tapi dari radio. Saking seringnya diputar, beberapa bait dia hafal. Dan, wasilah dia, saya “mengikat” lagu itu dalam benak. Hingga sekarang, ingat lagu itu, bukan ingat penyayinya, tapi rumah saya, rumah dia, kampung saya, suasananya, orang-orangnya, sawah-sawahnya, di tahun 90-an.
Tentang lagu itu, ketika pertama kali mendengarnya, saya dihinggapi aneh, terutama ungkapan “bulan madu”. Pertanyaan berbaris di kepala saya. Apakah bulan madu itu? bukankah bulan itu adalah Januari, Februari... atau Syawal, Muharam...., atau bulan purnama dan bulan sabit?
Pertanyaan itu tak pernah saya ajukan kepada sipa pun. Makanya tak pernah ada yang menjawab. Saya biarkan mengendap di balik tempurung kepala. Untungnya, pertanyaan itu tak merusak masa kanak-kanak, apalagi menginginkannya. Bisa berantakan hidup saya jika ingin bulan madu.Keanehan lagu itu bertambah dengan pertanyaan selanjutnya, bukankah madu dihasilkan tawon? Apakah di bulan ada tawon? Apakah bulan menghasilkan madu? Otak saya tidak sampai ke situ.
Waktu itu, tentu saja saya belum bisa menautkan bulan madu dengan urusan pengantin. Makanya tidak begitu heran ketika ungkapan bulan madu dikaitkan dengan awan biru karena keduanya sama-sama di langit.
Jika saya tahu bahwa bulan madu adalah ritual atau kebahagian pengantin baru, mungkin saya juga akan bertanya, bisakah sepasang pengantin berbulan madu di awan biru, di atas pelangi, sementara terbang saja tak mungkin? Tapi untunglah saya tak paham. Kadang tidak paham lebih baik dan menguntungkan daripada memahaminya.
bulan madu di awan biru
tiada yang mengganggu
hanya kita berdua
Lalu ketika sudah agak dewasa, saya mengembangkan pertanyaan lain. Bukankah Adam dan Hawa juga pernah berdua di sorga? Berdua! Mereka mendapat pelayanan dan penghidupan yang layak di sana? Tapi ternyata keduanya seolah tak betah hingga pada suatu ketika, karena sedikit pelanggaran, terlempar ke dunia.
Pertanyaannya selanjutnya, apakah di awan biru dan di atas pelangi seperti di sorga? Kalau tidak, lantas mau apa berbulan madu di sana? Apakah di sana ada ranjang? Apa ada makanan? Ada tivi? Bisa internetan? Kalau tidak ada, mau sengsara di sana?
demi cintaku padamu
kemanapun kaukan ku bawa
walau harus kutelan lautan bara
demi cintaku padamu
ke gurun ku ikut denganmu
biarpun harus berkorban jiwa dan raga
Apa mungkin ada yang mau menelan bara, sedang menyentuhnya saja takut? Siapa yang mau ikut ke gurun, berkorban jiwa raga demi cinta?
Barangkali mungkin karena cinta, semua hal jadi sepele! Memang cinta tak bermata, ungkap Poppy Mercury. Dan mungkin tak berotak. Tapi jangan kaitkan hal itu dengan kenyataan!
andai dipisah laut dan pantai
tak akan goyah gelora cinta
andai dipisah api dan bara
tak akan pudar sinaran cinta
Bait terakhir lagu berjudul Cinta Kita ini, menyiratkan pengandaian. Ya, memang pengandaian. Pengibaratan radikal cinta seseorang pada kekasihnya; berani berkorban. Saling menerima dan memberi sejauh yang bisa dan diinginkan.
Meski terkesan lebay dan berlebihan, tentu dimaafkan karena syair punya logikanya sendiri.
Yang jelas, slow rock ala 90-an ini adalah jejak kenang saya ketika kecil.
Kenari, 25 Januari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar