Minggu, 24 Mei 2026

Sirine Japuk, Euy...!

buat sahabat-sahabat di Kobong

"Japuk............., euy," teriak seseorang bersarung merah bergaris-garis hitam dari lantai dua. Seolah sirine bahaya gempa, penghuni kobong itu serentak berhamburan keluar. Tak ayal, suara gedabak-gedebuk telapak kaki tergesa menuju tangga. Lantai yang terbuat dari papan kayu nangka itu bergetar hebat, dihiasi debu beterbangan. Penghuni di lantai dasar pun menyelamatkan diri. Mereka celingukan mencari sesuatu. Di senja itu...

Seseorang berpeci hitam, berbaju kemeja dan bercelana hitam datang dari arah belakang kobong. Tangan kanannya menjinjing dus bermerek Sarimi yang diikat tali rapia. Tangan kirinya menenteng plastik dengan tulisan Ramayana Department Store. Sementara di pundaknya tergantung pula tas hitam yang penuh. 

Sabtu, 23 Mei 2026

Kenapa Maria Menangis?

"Wah, kita terlambat," kata Pak Aang.

Saya tidak menanggapi karena belum tahu terlambat apa.

Di dalam, anak-anak Puspita; Key, Usman, Tommy, Epul, Linda, Tari dan Witri sedang duduk melingkar bersama pak Iwan, seorang relawan Puspita. Sepertinya mereka sedang mengomentari kegiatan talkshow yang baru saja usai. Sementara Veni sedang belajar baca al-Quran bersama kak Syahrozy. Di bagian terpisah Aisyah dan Maria duduk berhadapan. Keduanya menangis tersedu. Selintas keduanya sedang berlomba tangis.

Al-Risalah al-Zuma

Roni Tua Harahap menghela napas berkali-kali seolah musafir yang lolos dari gurun pasir ratusan mil. Tapi kini yang dihadapinya adalah tanjakan maut, tebing curam membahayakan. Sementara tenaga terkuras dan perbekalan di kantungnya menipis. Helaan napasnya mirip juga seorang perokok berat dikejar anjing edan. Beberapa kali mulutnya mendesis "astaga" seolah yang dihadapinya pembantaian sadis paling kejam tak terampuni.

Bukan! Bukan itu. Itu sekadar umpama, tapi memang mirip seperti itu. Padahal ia sedang bersila rapi seolah petapa agung, menanti ilham. Tapi matanya menganga menatap monitor jebot kusam 14 inci. Sesekali kepalanya mengeleng-geleng seolah berzikir. Tapi dari mulutnya tidak keluar kalimah-kalimah toyyibah atau pujian ke hadirat tuhan, melainkan babi, anjing tak ketinggalan teman-temannya seragunan diabsen! Sekali waktu, temannya yang lebih akrab disambat juga: setan dan iblis!

Jangan Air Putih Aja!

Pagi yang murung, seperti akan hujan, tapi tak segerimis pun. Pukul 07.00 padahal, tapi matahari ogah-ogahan menggeliat, kendati untuk sekadar melongok mayapada. Mungkin dia heran kenapa sepagi ini saya sudah keluyuran hendak sarapan.

Bersama dua sahabat, saya mengisi perut di sebuah warung makan, di bilangan Salemba. Letaknya di sebuah gang, kelurahan Kenari.

Waktu: Apa Kabarmu, Sayang?

Waktu. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari peristiwa ke peristiwa. Mengelus kepala anak yatim di panti, kemudian melakukan lobi politik di atas ranjang. Makan siang bersama kolega. Ke luar kota lagi. Memberi ceramah, kemudian membunuh. Mencopet. Menenggak alkohol. Ke rumah ibadah sebentar, lalu korupsi. Menipu teman. Dikejar-kejar wartawan. Bertapa di gunung. Membuka e-mail dan Facebook. Membikin janji.

Membuka komputer, kemudian bermain spider soliter. Berziarah, mengunjungi kakek nenek di kampung. Berkenalan. Tukar nomor ponsel. Plagiat karya ilmiah. Disita rentenir. Menggadaikan barang. Memfitnah orang baik-baik. Menelepon dengan koin. Membuat puisi. Mendengarkan tembang kenangan. Mengingat kekasih. Membeli parfum. Pergi ke mal. Mengemis. Berobat ke dokter. Menggugurkan janin. Membaca buku. Menggiring kerbau.