Sabtu, 07 Maret 2026

Luqman yang Kini Berpakaian Besi

Luqman yang kini berbaju besi (Foto: Facebook) 
Tujuh tahun tidak ketemu dan tak sempat datang saat pernikahannya, kini dia sudah disapa ayah. Dan, ini yang terpenting, ia mengenakan baju besi, istilah yang disampaikan dari seorang teman terkait profesinya. 

Tujuh tahun tidak ketemu, hampir saja saya lupa beberapa hal yang berkaitan dengannya. Maklum, hampir sewindu lebih digilas kaki sang waktu, meminjam istilah Iwan Fals, yang sombong.

Selasa, 03 Maret 2026

Pak Undang Hartono dan Nasib Sial Saya Selepas Pementasan Dukun Palsu

Sampai tahun 2000, topi yang biasa bertengger di kepala Putu Wijaya, adalah sesuatu yang hanya saya lihat di gambar. Namun, sejak tahun itu, saya melihat langsung orang yang mengenakannya. Topi semacam itu bertengger di kepala Pak Undang Hartono. Dia guru kesenian saat kelas 1.3 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak tahun itu. 

Saat saya kelas 2.2, dia mengampu pelajaran Biologi dan sebagai wali kelas. Namun, saya tak terlalu banyak berkomunikasi dengannya di luar urusan pelajaran karena itu wilayah KM, Ujang Rahmat Hidayat asal Selajambe, di samping bukanlah murid yang menonjol di Biologi. Ujang Abdul Muhyi asal Gudang, murid yang mendapatkan nilai tertinggi pelajaran itu. Sementara saya hanya tahu klorofil saja. Yang lainnya tidak sama sekali. 

Minggu, 01 Maret 2026

Jasket Cinta Antimasuk Angin

Untuk pertama kalinya saya bepergian jauh menggunakan baju yang didesain istri saya. Ia menyebutnya jasket. Istilah yang tidak familiar dalam ingatan saya yang biasanya mengenakan pakaian seadanya saja. 

Namun karena hadiah dari istri, tentu saya senang menerimanya. Sayangnya, dia hanya menamakannya jasket. Itu terlalu sederhana sebagai hadiah. Oleh karena itu, saya berinisiatif menambahkannya menjadi Jasket Cinta Antimasuk Angin. 

Jumat, 27 Februari 2026

Maman Badruzzaman dan Kisah tentang Sama-Sama Berutang, Sama-Sama Belum Dibayar, Sama dengan Impas

Pak Maman bersama murid-muridnya
 (Foto: FB Anie Apriyanie) 
Untuk Pak Maman Badruzzaman

Memasuki kelas tiga, saya pastikan diri masuk jurusan bahasa. Tidak ada pertimbangan khusus sebelumnya, kecuali menghindari pelajaran hitungan dan lumayan senang pelajaran bahasa Indonesia. Tak ada selain itu. 

Namun celakanya, mesti berhadapan dengan tiga bahasa asing; Jepang, Inggris dan Arab. Masing-masing 10 jam pelajaran tiap minggu. Hanya bahasa Arab, kalau tidak salah, berkisar antara 4-6 jam. 

Perempuan yang Sukarela Disebut Kekasih, Earphone, dan Selera Musik yang Deadlock

Saya dengan perempuan yang disebut kekasih
(Foto: penumpang tak dikenal)
Untuk Nelly Korabe

Saya berusaha memiliki earphone tiada lain adalah agar bisa mendengarkan lagu bersama seseorang, seseorang yang dengan sukarela dipanggil kekasih. Dengan earphone itu, saat bersama dalam suatu perjalanan, kami akan mendengarkan musik bersama: satu ke telinga saya, yang lainnya ke telinga seseorang yang dengan sukarela disebut kekasih tersebut. 

Tak ada pihak lain yang berkepentingan atau tidak, yang turut serta mendengarkan lagu tersebut, bahkan penyanyi dan pengiring musiknya. Mutlak kami berdua.