Selasa, 14 April 2026

Cara Mati Terhormat dan Bahagia

Pagi dengan cangkul tak mengayun, arit tidak menyabit. Petani tidak kemana-kemana karena sawah bukan milik mereka dan tak mungkin ditanami lagi. Sekeliling kampung mereka tanah menganga belasan meter. Isi perutnya diangkut truk-truk siang malam, bertahun-tahun. Nganga tanah terasering. Bagian dalamnya menyerap air sumur mereka. Sementara bagian atasnya bebatuan tanpa kehidupan.

Sebagian petani itu dulu memiliki huma agak jauh dari kampung mereka. Tapi sudah pindah tangan ke orang kota dengan cara yang sah. Kebun di atas bukit berganti jadi vila dengan cara yang sah juga. Tak ada alasan mereka untuk memintanya lagi.

Lelaki Itu Mantan Orang Waras

Mobil angkot 35 terseok-seok kelelahan di bawah sengatan matahari. Warnanya kusam, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Bannya sudah gundul dengan sopir setengah baya yang di kepalanya melingkar handuk kecil. Mukanya kemerahan dialiri keringat. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang hampir menjadi puntung. Hanya beberapa orang saja isi penumpangnya.

Angkot itu berhenti di sebuah pangkalan ojek. Beberapa tukang ojek menyerbu angkot itu dengan gesitnya. Seperti magnet menarik besi-besi kecil. Dari dalam angkot itu keluar seorang lelaki. Beberapa tukang ojek langsung mengerubungi lelaki itu seperti semut mengerubungi gula.

Senin, 13 April 2026

Jalan Aspal Bulan Lima

Untuk segenap warga Kampung Cilulumpang

Orang-orang Kampung Pojok terharu melihat drum-drum yang ada di pinggir jalan itu. Katanya berisi aspal. Sebentar lagi jalan mereka akan hitam seperti di kota. Cita-cita yang ditunggu bertahun-tahun kini hampir terlaksana. Mereka masih ingat dengan merelakan sebagian tanahnya untuk pelebaran jalan. Pohon kelapa, nangka, rambutan yang sedang berbuah diruntuhkan.

Menurut Pak Kades, jalan Kampung Pojok akan diaspal pada bulan lima tahun itu juga. Tapi bulan lima tahun itu pengaspalan tidak jadi. Masyarakat bertanya-tanya, tapi tak ada jawaban yang pasti. Pak Kades jarang ada di kantor desa. Di rumahnya pun isterinya menggeleng kepala. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa menagih janji. Kalau pun ada yang berani, mereka akan mendapat janji yang lain. Yang melenakan. Janji di atas janji.

Minggu, 12 April 2026

Dari Goodbye My Blues hingga Indonesia Raya: Kisah Teman yang Berjuang Melawan Dirinya

Goodbye My Blues menyambut kedatanganku ketika melongok ruangan 4x4 meter. Goodbye My Blues pula yang menyambutku beberapa waktu lalu. Sepertinya karya emas Time Bomb Blues ini telah menyatu dengan penghuni dan segenap isi ruangan berdinding muram ini.

Aku mendapati penghuninya sedang tertekur membaca buku di pojok ruangan. Melihat kedatanganku, dia melepas buku itu dengan enggan seolah pemburu yang mendapati buruannya terusik, dan kabur. Tapi ia berusaha menyungging sebentuk senyum.

Sabtu, 11 April 2026

Pertahanan Terakhir: Celana Dalam. Itu Pun Kini Jebol Juga

Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah memperingatkan saya dengan sungguh-sungguh: jangan sekali-kali menyerahkan urusan cuci pakaian kepada tukang laundry. Katanya, daya ketagihannya luar biasa. Sekali mencoba, kau bisa sakau. Candu yang tak ada lagi obatnya dan belum ada tempat rehabilitasinya.

Waktu itu saya hanya mengiyakan, malas berdebat karena memang tak punya data terkait dampak sistemik jasa pencucian kepada pelanggannya. Diam saya mungkin diartikan sepakat, padahal aslinya belum terpikir untuk menyerahkan urusan daleman kepada orang asing, apalagi harus bayar. Bagi saya yang waktu itu masih mahasiswa, masalahnya bukan soal candu, tapi soal pengeluaran.