Jumat, 10 April 2026

Tagline Blog Pamanah Rasa: Tidak Untuk, Bukan Karena

Kini, tagline blog Pamanah Rasa milik saya adalah "tidak untuk, bukan karena" menggantikan “di kiwari ngancik bihari seja ayeuna pikeun jaga”. Tidak ada alasan khusus perihal pergantian ini. 

Tagline dimulai ketika saya mencoba menulis sebuah cerita. Entah kenapa, pada sebuah paragraf saya tiba-tiba menulis kalimat: tidak untuk, bukan karena; untuk menegaskan kalimat sebelumnya.

Kisah Punya Akun Facebook dan Blog atawa Setahun Sudah Sempurna Iman dan Jadi Insan Kamil

April 2009 lalu, saya ngekos di Sedap Malam bersama seorang teman yang belum lama membeli ponsel merk Smart. Ternyata, ponsel itu bisa dijadikan semacam modem unlimited selama beberapa bulan. Mungkin karena itu, dia membelinya. Tak heran, tiap malam, waktunya dihabiskan untuk berselancar di dunia maya.

Suatu ketika, teman saya itu menyarankan membuat Facebook. Tapi saya tidak menghiraukannya karena lebih tertarik bermain game balap motor, mengalahkan Rossi dalam dunia yang tidak nyata pula. Saking seringnya, saya menjadi lihai dan ditakuti para “road race” lain. Saya pernah mengejek mereka dengan perkataan seperti ini, “Kok saya susah kalah. Bagaimana caranya supaya kalah?”

Senin, 06 April 2026

Empat Bunyamin yang Hebat Berkaitan dengan Tasikmalaya

Secara kebetulan saya bertemu dengan KH Aban Bunyamin dari Kota Tasikmalaya siang ini.

Lalu, saya teringat dengan 3 Bunyamin lain, yang semuanya terkait Tasikmalaya. Pertama, KH Abun Bunyamin putra KH Ruhiat yang pernah memimpin Cipasung.

Bertamu ke Pak Baidhowi Adnan: Tersesat Dulu, Sowan Kemudian

Saya dan Pak Baidhowi Adnan (Foto: Aji)
Tak biasanya, suatu Ahad pagi, pukul 06.07, saya sudah berada di KRL. Dari Stasiun Cikini, turun di Stasiun Depok Baru. Lalu pesan layanan transportasi daring dengan paket tersesat 14 km dari titik tujuan.

Sembari menelan rasa jengkel berlapis-lapis campur aduk dengan keluhan dan keringat, akhirnya sampai di kediaman Pak Baidhowi Adnan. Terlambat 30 menit dari waktu yang ditentukan.

Minggu, 05 April 2026

Sepotong Lagu Iwan Fals untuk Pak Hery Hermawan

Pak Hery Hermawan 
Tentu saja kaget mendengar kabar guru saya, Pak Hery Hermawan meninggal dunia. Namun kaget hanyalah tinggal kaget karena tak bisa apa pun selain mendoakannya, semoga husnul khatimah.

Dia adalah guru olahraga saya ketika di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak. Orangnya ceria dan murah senyum, serta berkumis seperti Iwan Fals masa muda. Dan selalu ada pluit tergantung di lehernya. 

Dialah yang mengajari saya jurus-jurus Sajojo, Poco-Poco, dan Senam Santri. Namun, sayang tidak mengajari main catur.