Jumat, 05 Juni 2026

Ketika Dia Berulang Tahun

Apa yang harus kulakukan dan kukatakan saat hari ulang tahunku sendiri? Itulah pertanyaan yang sering menghantuinya selama hidupnya. Sampai saat ini dia belum pernah puas dengan jawaban-jawaban yang diperolehnya. Pertanyaan itu mondar-mandir, bolak-balik, lintang-pukang, palang-memalang, silang-menyilang, mengaduk-aduk batok kepalanya hingga dia merasa mau pecah dibuatnya. Hari-hari dan malamnya sering terganggu. Hasrat tidur dan makannya berkurang. Dia sering minum obat penenang supaya tertidur. Karena kalau tidak begitu, sakit kepala itu bisa bertambah parah dan kalau sudah begitu dia sering membentur-benturkan kepalanya ke tembok kamarnya. Tapi setelah bangun tidur yang lama dan melupakan, pertanyaan itu muncul lagi, Apa yang harus kulakukan dan kukatakan saat hari ulang tahunku sendiri? Pertanyaan itu mondar-mandir lagi, bolak-balik lagi mempecundanginya, menelanjanginya, dan membuat KO-nya. Dia pusing lagi entah pusing berapa keliling. Dia sakit kepala lagi dan kalau tidak cepat-cepat minum obat penenang dia akan membentur-benturkan kepalnya. Begitu dan begitu seterusnya.

Minggu, 24 Mei 2026

Manohara Ternyata Istrinya Pak RW Merangkap Pak RT

Senja hampir habis ketika saya dan sahabat-sahabat sampai di tanah Peladen RT 05 RW 05, Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Entah kenapa, tiba-tiba pikiran saya tergelitik dengan dua hal. Pertama adalah pertanyaan, kenapa disebut Peladen? Artinya apa? Dari bahasa apa? Sejak kapan? Kedua, Nomor RT dan RW ini mengingatkan ke alam masa kecil saya saat nonton Cici Paramida di Album Minggu TVRI yang berjudul RT 05, RW 03.

RT 05, RW 3, 10 nomor 1
Jalannya, jalan cinta....

Aku Bukan Temanmu Lagi…

"Aku bukan temanmu lagi," katanya polos seperti tanpa beban. Gigi-gigi seri atasnya yang hitam sekilas tampak. Tapi lenyap saat bibir mungilnya terkatup, seolah layar menutup pentas drama. Sekarang, pipinya, hidungnya, bola matanya, bulu alisnya, dahinya, rambutnya, sekujur tubuhnya serentak menyatakan hal serupa, "Aku bukan temanmu lagi."

Aku kaget mendengar kalimatnya itu, seperti baru saja mendengar vonis kematianku sendiri. Aku tak habis pikir mengapa demikian. Apa salahku? Padahal beberapa detik yang lalu aku masih ketawa-ketiwi dengannya, bernyanyi, dan bercerita. Ah, betapa cepat dunia ini berbalik.

Sirine Japuk, Euy...!

buat sahabat-sahabat di Kobong

"Japuk............., euy," teriak seseorang bersarung merah bergaris-garis hitam dari lantai dua. Seolah sirine bahaya gempa, penghuni kobong itu serentak berhamburan keluar. Tak ayal, suara gedabak-gedebuk telapak kaki tergesa menuju tangga. Lantai yang terbuat dari papan kayu nangka itu bergetar hebat, dihiasi debu beterbangan. Penghuni di lantai dasar pun menyelamatkan diri. Mereka celingukan mencari sesuatu. Di senja itu...

Seseorang berpeci hitam, berbaju kemeja dan bercelana hitam datang dari arah belakang kobong. Tangan kanannya menjinjing dus bermerek Sarimi yang diikat tali rapia. Tangan kirinya menenteng plastik dengan tulisan Ramayana Department Store. Sementara di pundaknya tergantung pula tas hitam yang penuh. 

Sabtu, 23 Mei 2026

Kenapa Maria Menangis?

"Wah, kita terlambat," kata Pak Aang.

Saya tidak menanggapi karena belum tahu terlambat apa.

Di dalam, anak-anak Puspita; Key, Usman, Tommy, Epul, Linda, Tari dan Witri sedang duduk melingkar bersama pak Iwan, seorang relawan Puspita. Sepertinya mereka sedang mengomentari kegiatan talkshow yang baru saja usai. Sementara Veni sedang belajar baca al-Quran bersama kak Syahrozy. Di bagian terpisah Aisyah dan Maria duduk berhadapan. Keduanya menangis tersedu. Selintas keduanya sedang berlomba tangis.