Minggu, 10 Mei 2026

Mana Akhir Septembermu?

Di dalam kamar kost 3x4 yang nyaris tak pernah rapi, yang masa kontraknya habis tanggal 10 September, sambil tengkurap, dia menghitung, mengira-ngira, beberapa orang yang jadi target. Di pikirannya muncul beberapa nama, Asep, Abun, Bowo, Acil, Luqman. Dia mendata nomor-nomor telepon yang bisa dihubunginya, kenalannya atau saudaranya. 

Melarung Suntuk ke Senen

Sore tadi, untuk mengusir suntuk, aku jalan-jalan ke Senen. Lebih tepatnya terminal Senen. Ke terminal, bukan hendak pergi ke mana-mana, tapi memang ke situlah tujuannya. 

Singkatnya begini, jika Saudara masuk ke terminal itu, tengoklah sebelah kanan, di sana berbaris toko-toko memajang buku-buku. Tentunya menghadap keramaian. Di situ bertumpuk-tumpuk buku, berjajar. Buku apa saja. Mulai dari komik, majalah, tabloid, buku pelajaran. Mulai dari buku ekonomi, manajemen, sejarah, sastra, budaya, musik, menu makanan, agama, hingga biografi. Dari mulai buku tua sampai yang terbaru. Buku asli hingga bajakan.

Maaf, Bajingan Lipsing!

Sabtu siang di bawah terik matahari pukul sebelas, beberapa bulan lalu. Sabtu yang lain dari ribuan Sabtu yang pernah kutempuhi. 

“Bujangan..., bujangan…, Bujangan..., bujangan...” 

Suara itu meluncur dari pita suara seorang pria, kutaksir usianya 50 tahun, yang berjalan di pinggir jalan Legoso, Ciputat. Pakaiannya serba hitam dengan kepala ditutup belitan kain hitam juga. Selintas kulihat mukanya dibaluri keringat. Di perutnya tergantung sound berwarna hitam dengan panjang 2 jengkal orang dewasa kali satu setengah jengkal. Di belakangnya, seorang gadis kecil berkerudung kecil, dengan jari tangan menjepit plastik bekas wadah permen.

Sabtu, 09 Mei 2026

Cinta yang Tak Perlu Dipahami

“Pahamilah aku! Kamu tak pernah bisa memahamiku,” katamu suatu ketika. 

Mendengar perimintaanmu, aku kaget bukan main. Untuk beberapa saat aku diam tak menanggapi karena tak tahu harus berkata apa. 

Kamu diam, mungkin menunggu aku bicara. Setelah berapa lama diam, terpaksa aku bersuara.

Minggu, 03 Mei 2026

Al Hafiz Kurniawan, Pemotor Budiman Jakarta

Jika saya bernasib jadi dewan juri yang bertugas menentukan pemotor budiman di Jakarta, maka pilihan tak akan jatuh ke pihak lain, tapi kepada Al Hafiz Kurniawan. Bukan karena dia sahabat saya, tapi karena benar-benar dia budiman. Jika dewan juri lain mengajukan nama berbeda, saya akan bantah dengan menunjukkan kebudimanannya panjang lebar. 

Saya akan mengungkapkan perilaku Al Hafiz Kurniawan di jalanan dengan detail, baik ketika matahari menyengat maupun saat bulan temaram. Baik di gang sempit atau di jalanan raya. Semua akan saya jelaskan dari “Alif” sampai “Ya” dari A sampai Z. Ditambahkan sedikit bumbu pemanis tidak masalah ya, biar agak sedap.