![]() |
| Saya menyalami Pak Mumu BA |
Namanya hanya Mumu dan BA di belakangnya, mungkin sebuah gelar akademik. Saya tidak tahu gelar dalam bidang apa. Seingat saya, hanya Pak Mumu yang BA di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak pada 2000-2003.
Dari gelarnya saja sudah menceritakan bahwa dia adalah guru veteran. Ia memang menjalani profesi sebagai guru sejak MAN Cibadak berstatus Pendidikan Guru Agama (PGA), sezaman dengan Pak Mahmud Effendy, Pak Uyen Hs, Pak Tjetje Bunyamin, dan Bu Kokom Komariah.
Pak Mumu BA guru pengampu mata pelajaran sosiologi dan geografi. Dua pelajaran yang mengacu, yang satu pada manusia dan segala persoalannya dan yang satu lagi manusia dan tempat tinggalnya.
Sungguh penguasaan atas kedua mata pelajaran itu mumpuni, hafal di luar kepala. Dia hanya membawa buku sebagai perhiasan saja, sebagai penanda bahwa dia memang benar-benar guru di hadapan murid-muridnya.
Dalam bidang sosiologi, saya menganggapnya sebagai orang yang hanya kalah oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi.
Sementara dalam bidang geografi, dia semestinya menceramahi Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Pasalnya, itu menteri pilihan Donald Trump tidak tahu negara-negara ASEAN saat uji kelayakan. Namun, tetap lolos jadi menteri.
![]() |
| Absensi kelas 1.3 MAN Cibadak 2000 dengan wali kelas Pak Mumu BA |
Satu hal kekurangan Pak Mumu BA, kalau menjelaskan, volume suaranya pelan, seperti orang berbisik, seperti seseorang yang sedang menggosipkan tetangganya. Volume suaranya jelas tak terdengar ke telinga saya di bangku barisan paling belakang.
Sayangnya lagi, dia membiarkan murid-murid yang ngobrol asyik di belakang. Beliau termasuk guru yang berprinsip bahwa dia kewajiban menyampaikan pelajaran. Soal diperhatikan atau tidak, adalah urusan lain. Kalau murid menyimak syukur; setidaknya tak gelapan pas akhir caturwulan. Bagi yang tak menyimak, syukurin(!) jika sempoyongan saat ulangan.
Volume suaranya yang pelan sepelan jalan kakinya. Lihat saja, jika berjalan kaki masuk kelas, di halaman sekolah, atau pergi ke kantor, seolah bumi yang akan dipijaknya penuh ranjau atau setidaknya tahi ayam di sana sini. Seperti pengantin menuju pelaminan.
Gaya jalannya berbanding terbalik dengan guru Bahasa Inggris Bu Hasanah dan guru Fisika Bu Ai Medarsari. Dua bu guru ini seperti selalu diburu jarum jam dengan jadwal-jadwal yang ketat. Dua bu guru ini seperti alur film yang ingin segera menyelesaikan cerita. Sementara Pak Mumu BA, seperti gerak slow motion yang malas menyudahinya.
Saya tidak tahu bagaimana gaya jalan Pak Mumu BA semasa muda. Mungkin gesit juga. Dia jalan pelan karena memang sudah didorong usia menuju pensiun dari profesinya yang dijalani puluhan tahun.
Nah, pada 2000, saat saya duduk di bangku kelas I MAN Cibadak, Pak Mumu BA menjadi wali kelas saya. Tak banyak saya berinteraksi dengannya. Hanya beberapa hal yang saya ingat, pernah disuruh memoto kopi penggalan pelajaran geografi dan disuruh beli rokok kretek. Dia penikmat Djarum Coklat!
Saat naik kelas, anak-anak kelas 1.3 mengadakan perpisahan dengan Pak Mumu BA di Situ Gunung, Kadudampit. Entah bagaimana ceritanya, saat perpisahan itu, saya mewakili teman-teman untuk memberikan kado perpisahan kepadanya.
Di tepi danau Situ Gunung yang tenang, diselimuti angin yang semilir, perpisahan berjalan dengan sederhana dan pelan, sepelan jalan kakinya Pak Mumu BA...
Pacet, 27 Maret 2026
.jpg)
-fotor-20260327211313.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar