Saat saya kelas 2.2, dia mengampu pelajaran Biologi dan sebagai wali kelas. Namun, saya tak terlalu banyak berkomunikasi dengannya di luar urusan pelajaran karena itu wilayah KM, Ujang Rahmat Hidayat asal Selajambe, di samping bukanlah murid yang menonjol di Biologi. Ujang Abdul Muhyi asal Gudang, murid yang mendapatkan nilai tertinggi pelajaran itu. Sementara saya hanya tahu klorofil saja. Yang lainnya tidak sama sekali.
Hal yang membuat saya bertanya-tanya bercampur kagum saat itu, kok bisa ada guru mengampu dua pelajaran yang tak bersinggungan sama sekali, kesenian dan biologi. Hal serupa terjadi pada Pak Indrakilla (Allah yarham), di satu sisi guru Biologi di sisi lain guru PPKn. Hal yang perlu dicatat adalah, dua guru itu benar-benar menguasai mata pelajarannya. Bukan sekadar asal-asalan mengajar.
Saya tidak ingat saat momentum apa Pak Undang Hartono mengenakan topi Putu Wijaya. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin bisa jadi saya salah lihat. Maklum, ini proses membangkitkan ingatan 26 tahun silam. Namun, ingatan saya mengatakan, benar-benar Pak Undang Hartono pernah mengenakan topi semacam itu. Ingatan saya bahkan menyebut warna, krem.
Sebagai guru kesenian, Pak Undang Hartono, tidak hanya menyampaikan teori, tapi praktik. Seingat saya, dia pandai bermain kendang, keybord, dan bernyanyi. Tentu saja keterempilan semacam itu menambah tahbis sebagai benar-benar guru kesenian.
Seingat saya, ketika perpisahan kelas 3, di waktu saya kelas 1, dia menyanyi Pamit milik Broery Marantika dengan suara yang menggetarkan sehingga benar-benar mandaulat suasana perpisahan, sungguh jadi semacam alarm bahwa mereka yang berkumpul selama tiga tahun itu akan berpencaran bersama nasib masing-masing yang entah.
Perpisahan menjadi semakin memilukan diiringi pembacaan puisi guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Maman Badruzzaman. Seusai acara itu, entah bagaimana ceritanya, saya menemukan secarik kertas yang merupakan puisi yang dibacakannya. Saya pun mencatat ulang di buku harian. Catatan itu, meski kini sudah buram, tapi masih tersimpan dengan baik.
Soal Pak Undang Hartono terampil menepuk kendang, saya menyaksikan saat kelas 2.2 pada momentum perpisahan kelas 3 juga. Perpisahan dibikin teatrikal seperti upacara perkawinan adat Sunda.Upacara semacam itu membutuhkan peran seorang lengser. Murid yang mendapatkan peran sebagai lengser adalah teman sekelas saya, Ence Zainal Ramdhan asal Cipuntang. Dia adalah anggota dalam aliansi kekonyolan saya bersama Ciko Permana Sidik Cibalung, Rahmat Efendi Ciawi, Dian Rustandi Cibalung, Abdul Hanan Karawang, Abdul Aziz Cibaraja, dan Asep Kamal Kalapa Carang.
Saya ingin bercerita tentang Pak Undang Hartono sebagai guru kesenian karena ada satu peristiwa yang kemudian melekat kepada saya sampai sekarang dan entah sampai kapan berakhir. Saya dipanggil abah bukan karena waktu itu saya satu-satunya murid MAN Cibadak berusia 70-tahun, tapi karena peristiwa yang berkaitan dengan Pak Undang tersebut.
Pada 2000, sekolah masih menggunakan sistem catur wulan. Artinya 4 bulan sekali ada ujian akhir. Saat kelas 1.3, entah catur wulan ke berapa, mungkin ketiga, ada tugas pentas drama. Pak Undang Hartono mempersilakan anak didiknya untuk membagi kelompok pementasan. Setiap kelompok harus menyerahkan naskah dramanya dalam bentuk ketikan, baik dengan mesin tik maupun komputer, berikut nama-nama pemerannya. Saya lupa waktu itu apakah naskah drama dibolehkan mengambil karya orang lain atau tidak.
Teman-teman sekelas langsung membagi kelompok. Namun, tak satu pun yang merekrut saya ke dalam kelompok mereka secara diam-diam maupun terbuka. Entah kenapa demikian, sampai saat sebagian rambut saya memutih ini, masih misteri. Hal serupa menimpa nasib teman sebangku saya, sebelah kanan Supandi asal Parigi dan sebelah kiri Mulyadi Aripin asal Papisangan.
Teman-teman yang sudah membagi kelompok, tentu kerap berkumpul, memilih naskah, dan berbagi peran, lalu menghafal dialog. Lantas sesekali berlatih di kelas selepas pelajaran usai. Kelompok lain berlatih di rumah salah seorang anggotanya di hari libur atau sepulang sekolah.
Beberapa minggu kemudian, pentas drama sudah mendekati waktunya. Kami bertiga masih saja belum terdaftar dalam sebuah kelompok, serta belum melakukan apa-apa. Tentu saja, belum berlatih sama sekali atau sekadar menghafal dialog karena belum ada naskahnnya.
Belakangan, saya ketahui, murid tanpa kelompok tak hanya kami bertiga. Ada tujuh teman bernasib serupa. Namun, sepertinya mereka tidak gelisah. Mohon maaf, rata-rata ketujuh murid itu di antaranya adalah mereka yang jarang masuk kelas atau kabur di tengah jam pelajaran.
Karena pentas drama semakin dekat, saya mengajak Supandi untuk membuat naskah sendiri serta melibatkan tujuh teman tanpa kelompok. Tentu saja ketujuh teman itu setuju karena kalau tak tercantum dalam sebuah kelompok, mereka tak akan mendapatkan nilai sama sekali.
Persoalannya kemudian kami harus membawakan naskah drama yang mana dan seperti apa. Berhari-hari tak ada penyelesaiannya.
Saya, Supandi, dan Mulyadi mendiskusikan beberapa alur cerita yang mungkin bisa dipentaskan. Entah setan mana yang muncul di pikiran, saya mengusulkan untuk menyusun sebuah naskah. Saya hanya perlu difasilitasi sebuah mesin tik.
Supandi yang tinggal di Pondok Pesantren Al-Bazari, Lebakwangi, Palasari bersedia memfasilitasi mesin tik milik pesantren.
Suatu hari, saya pulang bersama Supandi ke Al-Bazari, pesantren yang dikenal ahli qiraat. Supandi itulah contohnya. Ada beberapa teman di pesantren itu yang di kemudian sekelas, Dadan tak ada nama belakangnya di kelas 2.2 dan Ebed Baedillah di kelas 3 Bahasa 2.
Setelah coret-moret di secarik kertas, saya mengalihkan catatan ke mesin tik. Saya menulis naskah dengan judul Dukun Palsu. Karena saya yang menulis naskah itu, mesti paling hafal dialognya. Saya tak memberi tujuh pemeran lain beban dialog panjang karena yakin mereka tak akan menghafalkannya. Lagi pula waktu tak banyak.
Jadi, pusat naskah itu ada di saya sebagai dukun palsu bersama Supandi dan Mulyadi.
Saat pelajaran Pak Undang Hartono, saya menyerahkan naskah drama serta daftar pemain.
”Wah, ini mah laki-laki semua. Cocok membawakan pementasan perampokan,” begitu seingat saya komentar Pak Undang Hartono. Kalimat-kalimat persisnya tentu saya lupa.
Saya hanya tersenyum meringis.
Seingat saya, kami hanya berlatih sekali sebelum pementasan. Benar saja, tak ada yang berusaha menghafal dialognya. Saya mengingatkan kepada mereka, yang penting ngomong saja, tak perlu terpaku ke naskah, asal mereka tampil dan dapat nilai.
Beberapa hari sebelum pementasan, saya meminta agar para pemain menyedikan properti. Saya sebagai sutradara sekaligus pemain menekankan bahwa pementasan ini harus benar-benar atraktif dengan cara menyediakan properti. Misalnya, sebagai dukun palsu, saya minta ada yang menyediakan iket, parapen, dan kemenyan. Adegan saya membakar kemenyan harus benar-benar membakar kemenyan supaya seluruh kelas mencium baunya. Pemeran Hansip harus meminjam seragam ke teman PKS.
Entah siapa yang mengusulkan, agar jari-jari tangan dukun palsu dihiasi batu akik. Usul itu diterima, tapi saya menambahkan agar dukun itu terlihat lebih wah, harus mengenekan banyak batu akik.
Di sini baru kelihatan anggota kelompok terlihat solidaritasnya. Mereka berjanji akan menyiapkannya. Untuk batu akik, mereka akan bertanya kepada orang tua di rumah masing-masing. Tak hanya itu, anggota kelompok lain pun akan diminta mencari batu akik, dengan saran meminjam tetangga atau kakeknya di rumah masing-masing.
Saya ingat, anggota kelompok lain, Wiwin Wiratna asal Nagrak, Cisaat, turut serta mengumpulkan beberapa batu akik. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya dia bisa membawa benda seperti itu. Dipikir-pikir sekarang, jangan-jangan dia waktu itu mengenakan batu akik untuk dirinya sendiri. Hanya saja tak pernah diperlihatkan di sekolah.
Pas hari pementasan, tersedialah seluruh properti dan ornamen. Sungguh luar biasa, terkumpul 12 batu akik. Karena jari tangan saya 10, lalu bagaimana dua lagi? Kapalang edan, dua lagi saya kenakan juga. Entah jari yang mana yang ditenggeri dua batu akik.
Terjadilah apa yang mesti terjadi. Pementasan pun berjalan dengan baik di hadapan kelas. Entah bagaimana ceritanya, ada beberapa penonton tak diundang, dari kelas tetangga, ternyata turut menyaksikan di ambang pintu hingga berjejalan.
Saya masih ingat mendapat nilai antara 8 atau 9. Pemeran lain juga mendapatkan nilai memuaskan.
Celakanya, setelah pementasan itu, entah inisiatif atau keisengan makhluk yang mana, saya dipanggil abah. Maksudnya abah dukun. Sialnya, nama itu melekat sampai sekarang. Untung hanya abah yang melekat. Coba kalau diborong dengan dukunnya.
Ketika mendapat panggilan abah, teman-teman sepertinya merasakan puas, tapi tanpa sadar, mereka mengkerangkeng saya. Bayangkan, abah disematkan kepada orang yang masih berusia belasan, seolah saya manusia tua yang terjebak di sekolahan. Namun, nasib tak bisa dipungkir, tanpa bisa menolak, malah beberapa guru dan TU juga memanggil saya demikian.
Belakangan adik kelas juga ada yang nyelonong memanggail demikian. Untung saja saya tak meminta Pak Satpam menangkapnya. Kemudian mengikatnya di pohon beringin di ambang gerbang. Lalu mengundang semut rangrang untuk menggerogoti mulutnya.
Nama itu akhirnya terbawa kemana-mana. Saat saya main ke rumah teman, saya diperkenalkan Ciko Permana Sidik di Cibalung kepada orang tuanya dengan sebutan abah juga. Saya hanya meringis saja. Ayah Ciko, yang usianya mungkin empat kali lipat dari saya, memanggil saya abah.
Panggilan melekat di kelas 2.2 dan kelas 3 Bahasa 2. Suatu hal yang tak bisa ditolak karena semesta mungkin bekehendak demikian. Saya hanya bisa berharap agar selepas dari MAN Cibadak, panggilan itu jadi masa lalu.
Saat di Ciputat, saya memperkenalkan diri dengan nama asli. Namun sialnya, ada 5 teman seangkatan dari MAN Cibadak yang juga studi di Ciputat. Mereka menganggap saya bukan makhluk masa lalu. Mereka masih menyapa sebagaimana mereka menyapanya saya di MAN Cibadak. Sialnya lagi, mereka menyapa demikian di hadapan teman-teman baru saya.
Teman-teman baru saya ini juga sungguh sangat sial. Tanpa izin dan uluk salam, mereka memanggil dengan panggilan serupa.
Jakarta, 03 Maret 2026
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar