Rabu, 25 Februari 2026

Saya Pernah Kentut dalam Sumur, Bagaimana dengan Saudara?

Bukan sumur ini
yang saya kentuti (Foto: Tribun Flores) 
Saudara-saudara sekalian, perlu diketahui, begini-begini saya pernah menggali sumur. Lebih tepatnya memperdalam sumur karena memang sumurnya sudah ada. Tapi airnya tidak bisa sedot sanyo merk apa pun karena lumpur bertahun-tahun tidak dikeduk menyumbatnya. Jadi, Jumat beberapa minggu lalu, saya mengeduknya.

Saudara, saya masuk ke perut bumi sejauh 10 meter. Kaki gemetar saat menginjak sengkedan licin berlumut. Keringat dingin langsung membasahi tengkuk. Rawan sekali. Seandainya terpeleset, lalu jatuh, mungkin tulang-tulang ini terkilir. Urusan jadi berabe.

Dengan perlahan, satu per satu sengkedan saya lalui. Dan, akhirnya sampai juga ke sumur berdasar ini. Lumpur bertahun-tahun ternyata sedingin salju. Saya belum pernah menginjak salju, tapi es pernah. Ya, seperti es saja, bukan salju. 

Pertama-tama yang saya lakukan adalah menguras air dengan cara dikerek oleh teman saya di atas. Ia seperti anak SD menaikan bendera. Kemudian saya menggali dengan linggis. Begitu dan begitu. Kadang air tumpah karena kawan saya tidak akurat mengereknya. Dan mau tidak mau, air bercampur lumpur itu tumpah tidak ke tempat lain, bukan ke kepala jelek Saudara atau Donald Trump, tapi ke kepala saya yang berharga ini. Saya mengumpatnya berkali-kali.

Saudara, tiba-tiba saya jadi ingat “tokoh kita” dalam novel Kering Iwan Simatupang yang bercerita sedang memperdalam sumur. Ia melakukan itu karena air habis saat musim kemarau luar biasa. Penduduk lain sudah hijrah. Dia bertahan sendirian. Yang pertama dilakukan adalah menginventarisasi air dan makanan yang masih ada. Kedua, dia bertanya, apa yang harus dilakukan? Keputusannya adalah, memperdalam sumur.

Awalnya, dia, tokoh kita itu, menggali sampai siang hari dengan makan masih teratur. Sarapan dan makan siang. Kemudian istirahat. Berhari-hari dia melakukan itu. Tapi tak ada tanda-tanda air akan muncuat. Kerja di perpanjang sampai sore dengan makan dikurangi. Tapi air tidak muncul pula. Akhirnya dia memutuskan kerja hingga larut malam dengan makan sekali. Tapi gagal, air tak muncul. Puncaknya, dia menghentikan pekerjaan ketika telinganya mendengar suara teriakan di dalam sumur. 

Entarh siapa yang berteriak. Saya curiga, Saudaralah pelakukanya. Brengsek. Ngagetin orang saja.  

Sia-sia sudah upaya tokoh kita. Tapi dia pernah menggali. Sama sebangun dengan apa yang saya lakukan beberapa minggu lalu.

Saudara-saudara, saya bukan tokoh kita. Dan saya mendengar gemericik air dari perut bumi berlomba-lomba menyentuh sumur saya hingga saya kerepotan.

Berbeda dengan tokoh kita, entah kenapa saat itu, tiba-tiba saya merasa takut. Bagaiaman kalau tiba-tiba saja kawan saya di atas menjelma menjadi musuh. Dia melempari batu dari atas. Kemudian tanah yang terkumpul dikembalikan ke asalnya. Apa yang terjadi? Saya mati dalam sumur! 

Namun, saya usir ketakutan itu seiring timbul keisengan saya. Saya berteriak, minta dikirim segelas kopi dan sebatang rokok. Barangkali luar biasa merkok di tempat seperti ini?

“Kurang ajar! Ada-ada aja! Jangan! Entar kau kehabisan napas. Mampus kau!” maki teman saya.

Saya cuma tersenyum sambil bilang,

“Saya masuk angin! Belum sarapan!”

“Ya sudah makan dulu!”

Saya jadi ingat tebakan kecil di kampung saya. Begini: ada orang bego, disuruh makan, malah naik. Jawabannya adalah tukang gali sumur. Dan saya melakukannya. Tapi, maaf saya bukan orang bego. 

Saudara-saudara, sebelum saya naik, saya kentut terlebih dahulu di dalam sumur. Kentut seperti apa? Saya lupa persisnya, tapi prosesnya adalah, kentut dengan lubang pantat tertutup celana dalam yang basah. 

Suara yang keluar tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Soal baunya, saya seolah orang yang berusaha ingin bunuh diri di situ dengan gas beracun. 

“Sialan! Sumur dikentutin. Entar airnya tercemar.”

Saudara-saudara, kawan saya di atas rupanya mendengar kentut saya. Apa Saudara mendengarnya pula?


Ciputat, 7 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar