Rabu, 25 Februari 2026

Kisah Priyambodo dan Mustokoweni atawa Jatuh Cinta Saat Meregang Nyawa

Cinta itu tumbuh antara Priyambodo dan Mustokoweni. Cinta yang hadir seketika. Seketika! Dan rupanya cinta itu berbalas. Mustokoweni mencintainya pula seketika. Seketika!

Padahal beberapa detik sebelumnya, keduanya adalah seteru; bertempur habis-habisan bersabung nyawa. Hingga kemudian Priyambodo melolos satu anak panah. Tepat sasaran di tubuh Mustokoweni. Tapi anehnya, panah itu tidak merenggut nyawa, melainkan menelanjangi. Segenap busana Mustokoweni tanggal.

Tiba-tiba Priyambodo gemetar. Ada kekuatan hebat mengalir dalam darahnya. Mengobrak-abrik tulang sumsum, dan mengacak isi tempurung kepalanya. Kekuatan itu pernah dialami Adam kepada Hawa, Romeo kepada Juliet, Guruminda kepada Purbasari, Kais kepada Laila, Minke kepada Annelis dan Abdullah Zuma Alawi (AZA) kepada Perempuan Penunggang Angan (PPA).

Screenshot tulisan ini di blog
abdullahalawi.blogspot.com yang almarhum
Priyambodo adalah salah seorang anak Arjuna, pentolan Pandawa, dari istri yang lain (tidak disebutkan namanya). Ia mengemban tugas dari ibu tirinya, Srikandi, untuk merebut Layang Jamus Kalimosodo yang dicuri Mustokoweni.

Keduanya memiliki ilmu kamayan yang bisa mengubah jasad sesuai kemauan. Ketika jimat itu di tangan Mustokoweni, Priyambodo mengubah jasad jadi Prabu Bumiloka (kakak Mustokoweni) hingga Mustokweni menyerahkan jimat itu.

Sementara itu, Priyambodo juga dikelabui ketika menyerahkan jimat itu kepada Kresna yang ternyata Mustokoweni. Tipu-menipu, saru menyaru, bertempur. Lalu, jatuh cinta. Cinta yang melenakan.

Adakah kekuatan lain yang lebih hebat dari cinta? Bisa mengubah semena-mena? Seketika? Mengubah cara pandang sewenang-wenang?

Apakah cinta Priyambodo itu hadir karena keindahan jasad Mustokoweni? Lalu bagaimana cara Mustokoweni mencintai Priyambodo? Apakah karena Priyambodo cinta, lantas ia mencintainya pula? 

Pertanyaan–pertanyaan itu tak layak diajukan untuk menggambarkan cinta di antara keduanya. Cinta, ya cinta saja. Tak butuh pertanyaan dan penjelasan. Bahasa gugur sebagai medium penjelas!


Jakarta, 2 Januari 2012

Cerita ini terinspirasi dari pementasan Wayang Simfoni Muharam dengan dalang Ki Enthus Susmono, asal Tegal, Jawa Tengah. Ia melakonkan Ilange Jimat Kalimosodo. Lakon sarat intrik, perkelahian, tipu-menipu, saru-menyaru, juga dibumbui kisah percintaan.


Pementasan berlangsung di gedung teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jakarta Rabu-Kamis malam (21-21/12) pukul 19.30. Sebelum pementasan tampil penyanyi asal Tasikmalaya, Evie Tamala diiringi tetabuhan Ki Ageng Ganjur dan Sapta Kusbini Orchestra. Gendang dan drum beriringan. Sesekali melodi melengking bermesraan denga biola meliuk-liuk. Alat musik tradisional bergandengan tangan dengan musik modern.

Pertunjukan wayang kulit itu diselenggarakan Lesbumi dan Lazisnu Nahdlatul Ulama 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar