![]() |
| Pria di tempat kencing (lifestyle.kompas.com) |
Entah bagaimana ceritanya dia dan saya punya hasrat yang bersamaan? Apakah dia dan saya lahir di waktu yang sama sehingga intensitas kencingnya sama? Itu merupakan misteri.
Saya memastikan dia benar-benar ingin kencing karena betul saja sosok itu memasuki toilet yang hendak saya tuju. Kenapa saya yakin dia akan kencing? Kita lihat saja. Apa dia benar-benar kencing, berak, menangis, berteriak memaki pemerintah, bernyanyi, atau olahraga.
Benar-benar kencing dia, sesuatu yang akan saya lakukan juga. Kenapa saya kencing?
Menurut pihak yang berwenang dalam kesehatan, baik tradisional maaupun modern, siapa pun yang memiliki alat pengencing, tak boleh menahan kencing. Akibatnya bisa berabe dan sengsara. Lagi pula tak ada gunanya sama sekali menahan kencing. Bertambah ganteng dan kaya tidak, sakit malah iya.
Kencing adalah sesuatu yang alamiah bagi setiap orang. Dalam waktu tertentu alarm di dalam tubuh menghendaki demikian. Jika alarm rusak, urusan bisa panjang. Maka dari itu, peliharalah dengan baik dan benar.
Lantas, saya bersiap sebagaimana umumnya kencing menurut cara laki-laki. Tentu saya tak perlu jelaskan dengan rinci di sini.
Di toilet itu ada 3 urinoir. Mestinya ada sisa untuk saya. Tak mungkin orang itu kencing di tiga urinoir sekaligus. Kecuali dia punya tiga alat kencing yang bisa dikeluarkan secara bersamaan.
Dia berdiri menghadap satu urinoir yang berada di tengah. Menyisakan saya yang datang belakangan memilih kiri atau kanannya. Sebagaimana umumnya cara kencing laki-laki, dia mestinya membuka resleting celananya. Jika dia bercelana dalam, maka akan dipelorotkan sedikit yang memungkinkan alat pengencingnya keluar.
![]() |
| TKP kencing (Foto: Dok Pribadi) |
Soal berapa volume kencingnya, tak jadi urusan sama sekali. Konon warna air kencing memang jadi penanda kesehatan. Semoga dia dan saya tak bermasalah dengan itu. Soal durasi kencing juga penanda. Jika alarm meminta kencing, tapi saat ditunaikan tak keluar juga, itu pun jadi penanda. Semoga pula saya dan dia tak begitu.
Berdirilah kami menghadapi urinoir masing-masing.
Saya memilih urinoir sebelah kiri tanpa alasan yang khusus. Dikatakan demikian, jika memilih yang sebelah kanan pun tak masalah. Jadi memilih kiri bukan karena saya orang kiri radikal atau lunak, melainkan sembarang saja.
Kemudian kepala ditengadahkan sedikit beberapa saat untuk berkonsentrasi bahwa kami benar-benar sedang kencing, bukan yang lain; mensyukuri hidup masih bisa melakukan pelepasan. Lalu menunduk sedikit melihat alat kencing itu bekerja dengan baik. Lantas merasakan sensasi sesuatu yang keluar yang memang mesti dikeluarkan.
“Ini kencing yang ke berapa selama hidup lu?” saya tak menduga mulut berucap demikian. Sungguh ini perkataan yang tak terpikirkan sebelumnya.
“Wah, ini pertanyaan rumit sekali,” jawabnya sambil tetap menghadap urinoir. Suatu respons yang tak terduga juga darinya. ”Tapi kalau hari ini (kencing, red.) yang kelima. Empat kali sehabis maghrib. Sisanya tadi siang,” tambahnya.
“Wah, ini data penting,” kata saya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar