Padahal hari menjelang sore dengan suasana tak seindah dalam cerita Seno Gumira Ajidarma. Di langit awan bergumpal-gumpal. Di barat, matahari redup kehilangan bahan bakar. Orang-orang hampir mengakhiri pesta kerja, menuju pulang. Sementara di kamar suntuk ini, saya mencangkung berjam-jam di bibir jendela. Tak ada yang dilakukan selain mengasapi paru-paru dengan berbatang-batang rokok. Tapi kurang afdol, belum ngopi seteguk pun. Wah, bagaimana hukumnya, hampir malam kok belum ngopi?
Supaya afdol, saya ngeloyor ke warung kopi 24 jam yang ternyata lengang. Saya memesan kopi pahit dan sebungkus rokok kretek. Setelah di tangan, saya pun merogoh saku celana. Uang yang kudapti telah bergulung-gulung ringsek. Saya merapihkannya. Ketika hendak menyerahkannya, sudat mata saya melihat kejanggalan pada selembar uang itu. Saya pun menariknya. Ketika diperhatikan, ternyata ada tulisan tangan dengan tinta warna biru.
Seketika, pikiran saya tergelitik untuk membacanya. Tulisan itu berbunyi demikian:cinta kadang menyenangkan
kadang menyakitkan.
ketika hendak jujur qukatakan
kepadamu bahwa kamu
yang paling mengerti. tak akan ada
yang lain yang menggantikan
dirimu disini
Tak ada paragraf, huruf kapital dan hanya satu tanda baca, titik. Dan pada kata ‘kukatakan’, huruf ‘K diganti dengan ‘Q’. Ukuran hurufnya kecil-kecil dengan kualitas bagus.
Jika Saudara pernah memegang uang seribuan, di belakang gambar Pattimura, di sebalah kiri, ada ruang kosong berwarna putih. Di sudut atas ada angka seribu vertikal. Di bagian kosong itulah kalimat-kalimat itu tertulis.
Sebagai keterangan lain, di bawah tulisan itu tertulis NKL 908007. Di tengah terdapat sebuah danau dengan dua nelayan di atas perahu. Latarnya dua buah gunung. Di sudut kiri atasnya ada keterangan; pulau Mataira dan Tidore. Di bawahnya, ada tulisan demikian dengan huruf kapital DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BANK INDONESI MENGELUARKAN UANG SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH DENGAN NILAI SERIBU RUPIAH.
Di sudut kanan atas ada tulisan Bank Indonesia. Di bawahnya WCY046048 dengan warna merah. Di sudut kanan bawah, lagi-lagi menegaskan bahwa uang ini benar-benar 1000 rupiah, bukan 6,7 triliun.
Saya pun menukar uang itu dengan yang lain. Setelah membayarnya, saya kembali ke kamar dan mencangkung di bibir jendela. Pikiran terpaut pada uang yang saya baca berulang-ulang.
Siapa penulisnya? Apa jenis kelaminnya? Orang mana? Tinggal dimana? Pertanyaan berhambur berdesak-desak.
Alamak, muskil sekali memecahkannya. Saya bukan filolog, arkeolog, atau intelejen. Tapi tak menyerah, saya berkhayal seperti ini; pertama, jika ditinjau (sebenarnya saya tidak kerasan menggunakan kata ini) dari kreativitasnya, catatan ini barangkali hanya sepenggal dari tulisannya yang berjilid-jilid. Penulisnya sedang melawan EYD. Atau seorang penulis muda berbakat tak punya ruang hingga mengekspresikannya pada uang itu. Suatu saat dia mendapat Nobel. Karyanya menginspirasi karya-karya lain dari para kritikus.
Kedua, jika ditinjau (lagi-lagi aya tidak kerasan menggunakan kata ini) dari isinya, barangkali dia sedang curhat pada seseorang, tapi dengan pertimbangan tertentu, dia mengungkapkannya pada uang ini.
Dan ketiga jika ditinjau dari sudut serampangan, barangkali penulisnya seorang yang sedang iseng saja.
Saya menahan uang itu berminggu-minggu. Pertimbangannya, barangkali dipertemukan dengan catatan lain menjadi semacam curhat bersambung seperti cerita bersambungnya Negeri Senja di sebuah surat kabar. Tapi tak kunjung datang.
Entah di minggu ke berapa, uang saya semakin menipis. Sementara ngopi tak bisa ditunda. Saya gelagapan karena sudah menahan diri banyak hal, masak untuk ngopi saja mesti ditahan. Tapi bukankah saya sedang menunggu curhat bersambung?
Saya gelap mata, ternyata ngopi lebih urgen dan mendesak. Keputusan tanpa mufakat, saya melepasnya. Tapi saya menginginkan alasan yang lebih kuat. Saya pun berpikir demikian. Berdasar tinjauan yang kedua di atas, saya berkesimpulan demikian;
"Jika saya menahan uang ini, berarti curhat ini akan semakin lama sampai kepada orang yang dimaksudnya. Saya bisa berdosa karena telah berbuat zalim pada penulisnya. Sudah banyak dosa saya dan tak ingin menambahnya."
Saya pun melepasnya untuk kopi. kemudian menghisap rokok sambil mencangkung di bibir jendela menjejalkan asap ke rabu sekuat-kuatnya.
Jika selembar uang itu sekarang berada di tangan Saudara, percayalah uang itu pernah saya tahan berminggu-minggu. Saya berpesan janganlah Saudara melakukannya. Segeralah melepasnya supaya lebih cepat sampai kepada yang berhak. Berarti Saudara telah membuat kebajikan. Meski sepele, tapi begitu berharga bagi yang berkepentingan.
Jika Saudara yang menulis di uang itu, maafkan saya telah menahannya berminggu-minggu...
Ciputat, Januari 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar