"Tek…tek..tek …tekek, tekek, tekek…"
Aku menghitung suara tokek itu. Hingga tujuh kali berbunyi. Suara seolah mengatakan aku “ada disini.”
Dulu, ketika aku kecil sering menghitungnya pula. Bahkan lebih dari itu, sebagai patokan waktu. Jika ia berbunyi tujuh kali, berarti jam tujuh. Jika berbeda, maka jamlah yang salah.
Kemudian makhluk berwarna gading bertotol kemerahan yang menempel di pojok langit-langit kamar itu terdiam. Dan kemudian sepi. Sepi!
Oh, makhluk itu sedemikian menyendirinya, ujarku dalam hati sambil menatapnya. Dan kesepian. Kemudian mengajakku bicara. Tapi bahasa tak mampu saling mengerti. Ah, seandainya aku Sulaiman atau Angling Dharma. Mungkin aku bisa bertukar cerita dengannya; tentang kesendiriannya, kesendirianku, sepinya dan sepiku. Tentang apa saja. Sejauh yang ingin diceritakan, sejauh aku ingin mendengarkan.
Tak dinyana, tokok itu bernyanyi, sambil menatap sebondong semut-semut kecil.
“Semut-semut kecil saya mau tanya apakah dirimu sesepi diriku? Apakah dirimu sesepi diriku? Apakah dirimu sesepi diriku?
Tapi semut kecil itu seperti mengabaikannya. Ah, barangkali lagu itu untukku!
27 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar