Rabu, 25 Februari 2026

Munggahan: Ibu kepada Ayah dan Istri kepadaku, Lemparkan Saja Sebait Lagu Rindu

“Entar munggahan bagaimana?” tanya ibu kepada ayah dengan nada sedikit menggugat. Kata-katanya nyaris vonis hakim yang ditunggu. Tapi ditunggu beberapa saat, tak berkata juga dia. Seolah menimang-nimang keputusan mana yang dipilih.

Aku dan adik-adik terdiam, menyimak, apa respons atau ucapan yang akan dikeluarkan ayah.

Munggahan sebenarnya lebih umum dari pertanyaan ibu. Ia bermakna start menghadapi hari pertama puasa. Dan juga bermakna naik, barangkali secara spiritual atau ibadah.

Tapi, arah pertanyaan ibu sebenarnya mengerucut pada sahur. Dengan menu apa sahur nanti? Apakah mesti biasa saja; ikan asin, lalaban, dan sambal. Dan sebenarnya ibu bukan bertanya, tapi minta kenaikan derajat. Munggah tidak hanya naik secara spiritual, tapi juga dalam urusan makanan.

Screenshot tulisan ini di blog Pamanah Rasa
yang dulu beralamat di abdullahalawi,blogspot.com
yang telah almarhum
Masuk akal karena ibu adalah jendral perdapuran. Jika urusan ini tidak selesai, bisa berdampak sistemik pada semua anggota keluarga.

Rindu, mengapa hatiku rindu tiada tertahan…” ayah malah melempar sebait lagu lawas.

Kontan saja ibu merengut. Entah apa yang terbelit dalam pikirannya. Aku dan adik-adik hanya terdiam. Dengan pikiran masing-masing. Menunggu.

“Bagaimana entar aja,” jawab ayah.

Jawaban yang ragu-ragu. Untuk sementara, ayah gugur sebagai hakim. Jawaban ini jadi mendua pula dalam pikiran kami; apakah akan ada kejutan, misalnya daging ayam, pepes ikan mas, atau dengan menu biasa saja.

Suatu saat, aku pasti akan ditanya perihal sama oleh seorang perempuan yang ketemu dengan cara entah. Kemudian berjanji untuk membangun apa yang disebut keluarga. Jawaban ditunggu bocah-bocah manis, buah hati.

Aku ragu atau tak mampu menjawabnya. Dan mungkin akan seperti ayah, akan menunda jawaban. Sebagai respons, mungkin kulempar saja sebait lagu.

Walau kemana, akan kucari, kini aku berkelana, ke ujung dunia…”


1 Agustus, 2011

Tulisan ini dimuat di blog saya di abdullahalawi.blogspot.com yang almarhum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar