Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2026

Pertanyaan-Pertanyaan yang Turun Sore Ini

Di luar, sore menghias diri dengan cahaya kuning keemasaan. Anak-anak berlarian di taman selepas mandi sore dengan rambut disisir rapi ibunya. Orang-orang tua pencari nafkah ingin segera pulang selepas bermandi keringat seharian. Burung-burung berkemas kembali ke sarang.    

Di dalam, aku baru terbangun setelah mimpi dikejar anjing. Duduk terdiam dengan kepala pening, seolah digodam. Badan pegal. Tulang ngilu. Aku menggeliat beberapa kali. Kulihat sekeliling, keadaan kamar tak berubah: cangkang kopi sasetan, gelas dengan dedak kopi mengering, asbak yang tak mampu lagi menampung abu rokok, cucian di pojokan, dan buku-buku yang tak pernah selesai dibaca. 

Rambutan Belakang Rumah, Berbuah Saban Musim Tanpa Kirim Tagihan

Di belakang rumahku, dekat sumur yang kini sudah tak difungsikan, tumbuh sebatang pohon rambutan. Sebentar, pohon ini tak perlu nama ilmiah seperti dalam pelajaran biologi. Tak perlu sama sekali. Seolah-olah nama rambutan tidak ilmiah. Bagaimana kurang ilmiahnya rambutan untuk menamakan rambutan. Buahnya memang penuh rambut. Kalau nama berbeda, silakan saja. Misalnya disebut pohon capres atau parpol untuk pohon yang sama. Namun, jangan katakan tidak ilmiah. Buukankah hukum nama adalah manasuka?

Pohon rambutan di belakang rumah itu tak jauh umurnya denganku. Meski hampir seumuran, karena pohon ituu hasil stek, dia cepat berbuah. Sementara aku belum. Entah kapan. 

Minggu, 24 Mei 2026

Manohara Ternyata Istrinya Pak RW Merangkap Pak RT

Senja hampir habis ketika saya dan sahabat-sahabat sampai di tanah Peladen RT 05 RW 05, Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Entah kenapa, tiba-tiba pikiran saya tergelitik dengan dua hal. Pertama adalah pertanyaan, kenapa disebut Peladen? Artinya apa? Dari bahasa apa? Sejak kapan? Kedua, Nomor RT dan RW ini mengingatkan ke alam masa kecil saya saat nonton Cici Paramida di Album Minggu TVRI yang berjudul RT 05, RW 03.

RT 05, RW 3, 10 nomor 1
Jalannya, jalan cinta....

Aku Bukan Temanmu Lagi…

"Aku bukan temanmu lagi," katanya polos seperti tanpa beban. Gigi-gigi seri atasnya yang hitam sekilas tampak. Tapi lenyap saat bibir mungilnya terkatup, seolah layar menutup pentas drama. Sekarang, pipinya, hidungnya, bola matanya, bulu alisnya, dahinya, rambutnya, sekujur tubuhnya serentak menyatakan hal serupa, "Aku bukan temanmu lagi."

Aku kaget mendengar kalimatnya itu, seperti baru saja mendengar vonis kematianku sendiri. Aku tak habis pikir mengapa demikian. Apa salahku? Padahal beberapa detik yang lalu aku masih ketawa-ketiwi dengannya, bernyanyi, dan bercerita. Ah, betapa cepat dunia ini berbalik.

Sirine Japuk, Euy...!

buat sahabat-sahabat di Kobong

"Japuk............., euy," teriak seseorang bersarung merah bergaris-garis hitam dari lantai dua. Seolah sirine bahaya gempa, penghuni kobong itu serentak berhamburan keluar. Tak ayal, suara gedabak-gedebuk telapak kaki tergesa menuju tangga. Lantai yang terbuat dari papan kayu nangka itu bergetar hebat, dihiasi debu beterbangan. Penghuni di lantai dasar pun menyelamatkan diri. Mereka celingukan mencari sesuatu. Di senja itu...

Seseorang berpeci hitam, berbaju kemeja dan bercelana hitam datang dari arah belakang kobong. Tangan kanannya menjinjing dus bermerek Sarimi yang diikat tali rapia. Tangan kirinya menenteng plastik dengan tulisan Ramayana Department Store. Sementara di pundaknya tergantung pula tas hitam yang penuh. 

Sabtu, 23 Mei 2026

Kenapa Maria Menangis?

"Wah, kita terlambat," kata Pak Aang.

Saya tidak menanggapi karena belum tahu terlambat apa.

Di dalam, anak-anak Puspita; Key, Usman, Tommy, Epul, Linda, Tari dan Witri sedang duduk melingkar bersama pak Iwan, seorang relawan Puspita. Sepertinya mereka sedang mengomentari kegiatan talkshow yang baru saja usai. Sementara Veni sedang belajar baca al-Quran bersama kak Syahrozy. Di bagian terpisah Aisyah dan Maria duduk berhadapan. Keduanya menangis tersedu. Selintas keduanya sedang berlomba tangis.

Al-Risalah al-Zuma

Roni Tua Harahap menghela napas berkali-kali seolah musafir yang lolos dari gurun pasir ratusan mil. Tapi kini yang dihadapinya adalah tanjakan maut, tebing curam membahayakan. Sementara tenaga terkuras dan perbekalan di kantungnya menipis. Helaan napasnya mirip juga seorang perokok berat dikejar anjing edan. Beberapa kali mulutnya mendesis "astaga" seolah yang dihadapinya pembantaian sadis paling kejam tak terampuni.

Bukan! Bukan itu. Itu sekadar umpama, tapi memang mirip seperti itu. Padahal ia sedang bersila rapi seolah petapa agung, menanti ilham. Tapi matanya menganga menatap monitor jebot kusam 14 inci. Sesekali kepalanya mengeleng-geleng seolah berzikir. Tapi dari mulutnya tidak keluar kalimah-kalimah toyyibah atau pujian ke hadirat tuhan, melainkan babi, anjing tak ketinggalan teman-temannya seragunan diabsen! Sekali waktu, temannya yang lebih akrab disambat juga: setan dan iblis!

Jangan Air Putih Aja!

Pagi yang murung, seperti akan hujan, tapi tak segerimis pun. Pukul 07.00 padahal, tapi matahari ogah-ogahan menggeliat, kendati untuk sekadar melongok mayapada. Mungkin dia heran kenapa sepagi ini saya sudah keluyuran hendak sarapan.

Bersama dua sahabat, saya mengisi perut di sebuah warung makan, di bilangan Salemba. Letaknya di sebuah gang, kelurahan Kenari.

Minggu, 10 Mei 2026

Maaf, Bajingan Lipsing!

Sabtu siang di bawah terik matahari pukul sebelas, beberapa bulan lalu. Sabtu yang lain dari ribuan Sabtu yang pernah kutempuhi. 

“Bujangan..., bujangan…, Bujangan..., bujangan...” 

Suara itu meluncur dari pita suara seorang pria, kutaksir usianya 50 tahun, yang berjalan di pinggir jalan Legoso, Ciputat. Pakaiannya serba hitam dengan kepala ditutup belitan kain hitam juga. Selintas kulihat mukanya dibaluri keringat. Di perutnya tergantung sound berwarna hitam dengan panjang 2 jengkal orang dewasa kali satu setengah jengkal. Di belakangnya, seorang gadis kecil berkerudung kecil, dengan jari tangan menjepit plastik bekas wadah permen.

Minggu, 12 April 2026

Dari Goodbye My Blues hingga Indonesia Raya: Kisah Teman yang Berjuang Melawan Dirinya

Goodbye My Blues menyambut kedatanganku ketika melongok ruangan 4x4 meter. Goodbye My Blues pula yang menyambutku beberapa waktu lalu. Sepertinya karya emas Time Bomb Blues ini telah menyatu dengan penghuni dan segenap isi ruangan berdinding muram ini.

Aku mendapati penghuninya sedang tertekur membaca buku di pojok ruangan. Melihat kedatanganku, dia melepas buku itu dengan enggan seolah pemburu yang mendapati buruannya terusik, dan kabur. Tapi ia berusaha menyungging sebentuk senyum.

Sabtu, 11 April 2026

Pertahanan Terakhir: Celana Dalam. Itu Pun Kini Jebol Juga

Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah memperingatkan saya dengan sungguh-sungguh: jangan sekali-kali menyerahkan urusan cuci pakaian kepada tukang laundry. Katanya, daya ketagihannya luar biasa. Sekali mencoba, kau bisa sakau. Candu yang tak ada lagi obatnya dan belum ada tempat rehabilitasinya.

Waktu itu saya hanya mengiyakan, malas berdebat karena memang tak punya data terkait dampak sistemik jasa pencucian kepada pelanggannya. Diam saya mungkin diartikan sepakat, padahal aslinya belum terpikir untuk menyerahkan urusan daleman kepada orang asing, apalagi harus bayar. Bagi saya yang waktu itu masih mahasiswa, masalahnya bukan soal candu, tapi soal pengeluaran.

Riwayat Saya Punya Dompet dan Sabuk

Selepas Isya, saya nongkrong di warkop tak jauh dari tempat tinggal. Tempat duduknya kursi panjang mengilap licin. Entah berapa pantat pernah bergesekan dengannya kemudian diam-diam kentut yang didesain tanpa bunyi. Hanya si pemilik kentut dan Tuhan yang tahu. 

Kursi macam itu mengingatkan bangku madrasah diniyah di kampung saya belasan tahun lalu.

Jumat, 10 April 2026

Kawan Saya yang Menjemur Celana di Pinggir Jalan Raya Ciputat

Kawan saya yang menjemur celana di pinggir jalan
Untuk Yazid

Dia mengenakan jaket jeans warna biru, membungkus tubuhnya yang berkameja biru juga. Kemeja luntur; saking sering mengalami siklus direndam- digilas- dicuci-dijemur-dipakai-ditiduri, dikeringati-didekili-direndam lagi. Jika pabriknya melihat kemeja itu sekarang mungkin akan mati-matian menolak pernah memproduksinya. 

Sementara celananya hitam tanpa bekas setrika sedikit pun. Mungkin tak pernah digosok sama sekali. Seumur-umur. Alas kakinya sandal kulit berwarna hitam yang kondisinya juga tak usah dijelaskan.  

Ironi Penulis Siasat Menyeberang Jalan

Saudara-saudara, beberapa waktu lalu, saya menulis tata cara menyeberang jalan di blog ini dengan judul "Siasat Menyebrang Jalan yang Jitu". Dalam tulisan itu, saya mengabsen beberapa siasat: pertama, pastikan Saudara tidak sedang mengantuk berat. Kedua, carilah jembatan penyeberangan. Jika tak ada, carilah zebra cross.

Saya menjelaskan siasatnya: berbarenganlah bersama penyeberang lain. Dalam hal ini pun ada siasatnya; ketika arah kendaraan melaju dari kanan, Saudara mesti berada di sebelah kiri rombongan. Ketika sampai di pertengahan jalan, segeralah berpindah ke sebelah kanan rombongan.

Masjid yang Cerewet dan Islam Mana Dalilnya

Islam mana dalilnya (Foto: AI)
Sekali waktu saya shalat di masjid agung sebuah kabupaten. Sebagaimana masjid pada umumnya, arsitektur rumah ibadah orang Muslim itu memiliki beranda. Sambil memandang taman, hilir mudik orang diciprati cahaya lampu-lampu yang mulai dinyalakan, saya melepas sepatu coklat pinjaman. 

Berhubung sepatu orang, semula saya berniat menitipkan, supaya aman, meski harus bayar. Tapi ternyata tak ada layanan seperti itu. Akhirnya sepatu pinjaman dibiarkan saja berjajar dengan alas kaki warna-warni, merk, dan ukuran.

Kisah Punya Akun Facebook dan Blog atawa Setahun Sudah Sempurna Iman dan Jadi Insan Kamil

April 2009 lalu, saya ngekos di Sedap Malam bersama seorang teman yang belum lama membeli ponsel merk Smart. Ternyata, ponsel itu bisa dijadikan semacam modem unlimited selama beberapa bulan. Mungkin karena itu, dia membelinya. Tak heran, tiap malam, waktunya dihabiskan untuk berselancar di dunia maya.

Suatu ketika, teman saya itu menyarankan membuat Facebook. Tapi saya tidak menghiraukannya karena lebih tertarik bermain game balap motor, mengalahkan Rossi dalam dunia yang tidak nyata pula. Saking seringnya, saya menjadi lihai dan ditakuti para “road race” lain. Saya pernah mengejek mereka dengan perkataan seperti ini, “Kok saya susah kalah. Bagaimana caranya supaya kalah?”

Senin, 06 April 2026

Empat Bunyamin yang Hebat Berkaitan dengan Tasikmalaya

Secara kebetulan saya bertemu dengan KH Aban Bunyamin dari Kota Tasikmalaya siang ini.

Lalu, saya teringat dengan 3 Bunyamin lain, yang semuanya terkait Tasikmalaya. Pertama, KH Abun Bunyamin putra KH Ruhiat yang pernah memimpin Cipasung.

Minggu, 05 April 2026

Magnet Hamid Jabbar

Penyair Hamid Jabbar (Foto: sepenuhnya.com/)
Pada 29 Mei 2004, penyair berambut gondrong ditutup kopiah hitam membacakan puisi di hadapan ratusan orang. Gerak-gerik tangan yang menjepit secarik kertas, perawakan mungilnya semacam puyuh dijangkit berahi. Ke sana ke mari, mengitar panggung, sesekali berdiri di podium. 

Adalah Hamid Jabbar.

Jumat, 03 April 2026

Pak Indrakila dan Kisah Ditampar Pipi Kiri-Kanan, Lalu Tertawa

Pak Indrakila
Nama Indrakila, entah kenapa saya teringat pada bunyi idza qila yang berulang-ulang dalam Kitab Qathrul Ghaits (قَطْرُ الْغَيْثِ) karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi (Syekh Nawawi al-Bantani). Struktur bunyinya hampir sama. Namun, tentu saja berlainan arti. 

Ada juga Indrakila dalam cerita pewayangan yang merujuk pada gunung suci dalam mitologi Hindu (Mahabharata). Gunung itu, konon, tempat Arjuna bertapa untuk memperoleh senjata Pasupati.

Jumat, 27 Maret 2026

Bunga-Bunga MTs: Catatan September 1999

Hari: Senin, Tanggal: 7-9, Tahun: 99


CATATAN SENIN II


Mentari bersinar tak bergairah, pohon-pohon karet tertunduk lesu, angin seperti enggan berhembus, tiang bendera pun ikut bersedih.

Pelajaran ketiga, 2 kali sudah bermasalah. Sejarah saat itu. Memang bersejarah. Bu ARR saat itu tidak masuk. Sebagai badal, seorang Pak EJ yang rambutnya sedikit kribo, berkumis tebal, ditumbuhi bulu-bulu halus di lengannya, dan tatapan mata yang tajam. Pak EJ memberi mandat pada seorang murid kls II A untuk menuliskan pelajaran sejarah. Lalu ia pun keluar entah kemana.