![]() |
| Masjid Cilulumpang yang sekarang jadi Al-Mubarokah (Foto: Dok. Pribadi) |
Masjid tanpa bedug, ibarat biola tak berdawai, sayur tanpa garam atau wartawan tanpa koran. Lebih tepat juga perokok tanpa korek api. Atau dalang tanpa wayang, akun FB tanpa status. Mohon maaf satu lagi, negara tanpa fungsi presiden.
Maka, medio tahun 1956, dibikinlah bedug berdiameter 60 cm dan panjang 2 meter. Bedug ini terbuat dari pohon teureup (tak tahu bahasa Indonesianya, dan tak perlu nama Latin). Pohon ini diambil dari daerah Cigadog, 1 km dari kampung kami.
Menurut para orang tua, pohon tersebut diambil dari kebun milik seorang pengeruk berkebangsaan Belanda biasa disapa Tuan Bom.
Sebentar, saya keluar dulu, ada masalah. Kenapa Bule brengsek itu ada di tanah kelahiran saya? Dipanggil tuan segala? Mereka menjajah, Saudara-saudara!
Mulai saat itu, masjid kampung kami ada bedugnya. Lengkap sudah. Setiap waktu sambeang lima waktu, dipukullah itu pentongan, lalu bedug. Tertib! Tidak saling mendahului. Jika lebaran, dipukullah bertalu-talu semalam suntuk.Hingga kini, bedug tetap bertengger megah di samping masjid. Tetap berdaulat tak tergugat, meski di akhir tahun 80-an muncul pengeras suara. Karena pengeras itu tahu diri, sebagai saudara baru, ia tak congkak. Pengeras hanya beraksi selepas bedug.
Lihatlah Saudara-saudara, mereka akrab dan saling menghormati. Meski ribet barangkali, tapi ya demikianlah hidup; menerima, memberi dan memilih apa yang mesti dipertahankan, mengambil apa yang bisa melengkapi dan menguatkan.
Waktu itu, masjid kami dinisabatkan kepada nama kampung. Tak diawali “al” seperti sekarang. Warga kampung kami menyebutnya masigit saja. Orang kampung luar menyabutnya masigit Cilulumpang. Begitu juga kampung kami menyebut masjid-masjid di kampung lain.
Namun, karena tak tahan dengan nama masjid yang tanpa al, sekarang bernama Al-Mubarokah atau sesekali orang menyebutnya Masjid Al-Mubarok.
Kenari 21 Juli 2012
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar