Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2026

Ketika Dia Berulang Tahun

Apa yang harus kulakukan dan kukatakan saat hari ulang tahunku sendiri? Itulah pertanyaan yang sering menghantuinya selama hidupnya. Sampai saat ini dia belum pernah puas dengan jawaban-jawaban yang diperolehnya. Pertanyaan itu mondar-mandir, bolak-balik, lintang-pukang, palang-memalang, silang-menyilang, mengaduk-aduk batok kepalanya hingga dia merasa mau pecah dibuatnya. Hari-hari dan malamnya sering terganggu. Hasrat tidur dan makannya berkurang. Dia sering minum obat penenang supaya tertidur. Karena kalau tidak begitu, sakit kepala itu bisa bertambah parah dan kalau sudah begitu dia sering membentur-benturkan kepalanya ke tembok kamarnya. Tapi setelah bangun tidur yang lama dan melupakan, pertanyaan itu muncul lagi, Apa yang harus kulakukan dan kukatakan saat hari ulang tahunku sendiri? Pertanyaan itu mondar-mandir lagi, bolak-balik lagi mempecundanginya, menelanjanginya, dan membuat KO-nya. Dia pusing lagi entah pusing berapa keliling. Dia sakit kepala lagi dan kalau tidak cepat-cepat minum obat penenang dia akan membentur-benturkan kepalnya. Begitu dan begitu seterusnya.

Sabtu, 23 Mei 2026

Waktu: Apa Kabarmu, Sayang?

Waktu. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari peristiwa ke peristiwa. Mengelus kepala anak yatim di panti, kemudian melakukan lobi politik di atas ranjang. Makan siang bersama kolega. Ke luar kota lagi. Memberi ceramah, kemudian membunuh. Mencopet. Menenggak alkohol. Ke rumah ibadah sebentar, lalu korupsi. Menipu teman. Dikejar-kejar wartawan. Bertapa di gunung. Membuka e-mail dan Facebook. Membikin janji.

Membuka komputer, kemudian bermain spider soliter. Berziarah, mengunjungi kakek nenek di kampung. Berkenalan. Tukar nomor ponsel. Plagiat karya ilmiah. Disita rentenir. Menggadaikan barang. Memfitnah orang baik-baik. Menelepon dengan koin. Membuat puisi. Mendengarkan tembang kenangan. Mengingat kekasih. Membeli parfum. Pergi ke mal. Mengemis. Berobat ke dokter. Menggugurkan janin. Membaca buku. Menggiring kerbau.

Kampret, Antum!

Di beranda mesjid itu, Budi dan Yamin duduk sambil memandang taman yang terhalang pagar kawat setinggi orang dewasa. Masjid sudah sepi karena Ashar memang hampir berakhir.

Tak biasanya, di taman, sore itu sepi. Mungkin karena sebelumnya hujan mengguyur kota kecil itu sehingga orang-orang malas keluar. Hanya pohon-pohon cemara dan palem tampak basah, tanah basah, bunga-bunga dan rerumputan basah. Dan jalanan tembok yang membelah taman kelihatan licin. Bangku-bangku tembok kelihatan lengang dan basah.  

Minggu, 10 Mei 2026

Mana Akhir Septembermu?

Di dalam kamar kost 3x4 yang nyaris tak pernah rapi, yang masa kontraknya habis tanggal 10 September, sambil tengkurap, dia menghitung, mengira-ngira, beberapa orang yang jadi target. Di pikirannya muncul beberapa nama, Asep, Abun, Bowo, Acil, Luqman. Dia mendata nomor-nomor telepon yang bisa dihubunginya, kenalannya atau saudaranya. 

Sabtu, 09 Mei 2026

Cinta yang Tak Perlu Dipahami

“Pahamilah aku! Kamu tak pernah bisa memahamiku,” katamu suatu ketika. 

Mendengar perimintaanmu, aku kaget bukan main. Untuk beberapa saat aku diam tak menanggapi karena tak tahu harus berkata apa. 

Kamu diam, mungkin menunggu aku bicara. Setelah berapa lama diam, terpaksa aku bersuara.

Selasa, 14 April 2026

Cara Mati Terhormat dan Bahagia

Pagi dengan cangkul tak mengayun, arit tidak menyabit. Petani tidak kemana-kemana karena sawah bukan milik mereka dan tak mungkin ditanami lagi. Sekeliling kampung mereka tanah menganga belasan meter. Isi perutnya diangkut truk-truk siang malam, bertahun-tahun. Nganga tanah terasering. Bagian dalamnya menyerap air sumur mereka. Sementara bagian atasnya bebatuan tanpa kehidupan.

Sebagian petani itu dulu memiliki huma agak jauh dari kampung mereka. Tapi sudah pindah tangan ke orang kota dengan cara yang sah. Kebun di atas bukit berganti jadi vila dengan cara yang sah juga. Tak ada alasan mereka untuk memintanya lagi.

Lelaki Itu Mantan Orang Waras

Mobil angkot 35 terseok-seok kelelahan di bawah sengatan matahari. Warnanya kusam, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Bannya sudah gundul dengan sopir setengah baya yang di kepalanya melingkar handuk kecil. Mukanya kemerahan dialiri keringat. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang hampir menjadi puntung. Hanya beberapa orang saja isi penumpangnya.

Angkot itu berhenti di sebuah pangkalan ojek. Beberapa tukang ojek menyerbu angkot itu dengan gesitnya. Seperti magnet menarik besi-besi kecil. Dari dalam angkot itu keluar seorang lelaki. Beberapa tukang ojek langsung mengerubungi lelaki itu seperti semut mengerubungi gula.

Senin, 13 April 2026

Jalan Aspal Bulan Lima

Untuk segenap warga Kampung Cilulumpang

Orang-orang Kampung Pojok terharu melihat drum-drum yang ada di pinggir jalan itu. Katanya berisi aspal. Sebentar lagi jalan mereka akan hitam seperti di kota. Cita-cita yang ditunggu bertahun-tahun kini hampir terlaksana. Mereka masih ingat dengan merelakan sebagian tanahnya untuk pelebaran jalan. Pohon kelapa, nangka, rambutan yang sedang berbuah diruntuhkan.

Menurut Pak Kades, jalan Kampung Pojok akan diaspal pada bulan lima tahun itu juga. Tapi bulan lima tahun itu pengaspalan tidak jadi. Masyarakat bertanya-tanya, tapi tak ada jawaban yang pasti. Pak Kades jarang ada di kantor desa. Di rumahnya pun isterinya menggeleng kepala. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa menagih janji. Kalau pun ada yang berani, mereka akan mendapat janji yang lain. Yang melenakan. Janji di atas janji.

Jumat, 27 Maret 2026

Bunga-Bunga MTs: Catatan September 1999

Hari: Senin, Tanggal: 7-9, Tahun: 99


CATATAN SENIN II


Mentari bersinar tak bergairah, pohon-pohon karet tertunduk lesu, angin seperti enggan berhembus, tiang bendera pun ikut bersedih.

Pelajaran ketiga, 2 kali sudah bermasalah. Sejarah saat itu. Memang bersejarah. Bu ARR saat itu tidak masuk. Sebagai badal, seorang Pak EJ yang rambutnya sedikit kribo, berkumis tebal, ditumbuhi bulu-bulu halus di lengannya, dan tatapan mata yang tajam. Pak EJ memberi mandat pada seorang murid kls II A untuk menuliskan pelajaran sejarah. Lalu ia pun keluar entah kemana.

Kamis, 26 Februari 2026

Tentang Pertemuan Tak Terduga denganmu

Gandeng tangan (Foto: indonesiana.id)
Kita –lebih tepatnya aku dan kamu- sudah lama tidak bertemu. Aku tidak tahu bagaimana kabarmu. Kamu pun mungkin tidak tahu keadaanku. Aku berharap apa yang kaugumuli sekarang baik adanya.

Aku pernah punya keyakinan bahwa aku akan bertemu lagi denganmu dalam keadaan dan suasana berbeda. Dengan kedudukan dan status yang berbeda. Dengan kesan dan perasaan yang tak bisa kuduga. Seperti pertama kali kita bertemu tanpa diduga-duga. Seperti hidup itu sendiri yang sulit diduga. 

Tiba-Tiba Aku dan Kamu

(Foto: https://www.hipwee.com/)
Aku berjalan-jalan, ke mana saja mengikuti keinginanku. Bukan sedang menikmati hari, atau pemandangan, mencari angin, atau sedang mencari sesuatu atau seseorang. Tidak. Aku berjalan-jalan karena memang aku ingin berjalan-jalan. Dan itu kebiasaanku. Berjalan-jalan ke mana? Sudah kubilang aku tidak punya tujuan. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Cukup! Dan jika aku menemukan sesuatu, bukan salahku. Itu kebetulan saja. Dan jika tidak menemukan sesuatu, itu juga bukan salahku. Niatku cuma berjalan-jalan, tak bermaksud mencari atau menemukan.

Rabu, 25 Februari 2026

Kisah Priyambodo dan Mustokoweni atawa Jatuh Cinta Saat Meregang Nyawa

Cinta itu tumbuh antara Priyambodo dan Mustokoweni. Cinta yang hadir seketika. Seketika! Dan rupanya cinta itu berbalas. Mustokoweni mencintainya pula seketika. Seketika!

Padahal beberapa detik sebelumnya, keduanya adalah seteru; bertempur habis-habisan bersabung nyawa. Hingga kemudian Priyambodo melolos satu anak panah. Tepat sasaran di tubuh Mustokoweni. Tapi anehnya, panah itu tidak merenggut nyawa, melainkan menelanjangi. Segenap busana Mustokoweni tanggal.

Sabtu, 14 Juni 2025

Doa dalam Ibid

Ilustrasi: https:i.swncdn.com
“Ya Tuhan, aku berdoa seperti doa yang aku ucapkan kemarin. Kabulkanlah doaku, Tuhan...” 

Akhirnya aku bisa mendengar dengan jelas bisik dari kamar sebelah kiriku. Sebelumnya hanyalah gemeremang saja. Seperti desis. 

Minggu, 08 Juni 2025

Domba Ketujuh

Kira-kira pukul 08.30, setelah shalat Iedul Adha, orang-orang berkumpul di halaman masjid yang lapang. Mereka akan menyaksikan penyembelihan tujuh ekor domba jantan yang bagus dan seekor kerbau gemuk yang diserahkan beberapa orang kaya kepada DKM.

Anak-anak yang berpakian bagus-bagus berkumpul di sekitar halaman. Mereka bermain sesukanya. Tawa bahagia berderai. Mereka ingin menyaksikan darah yang mengalir deras dari tenggorokan, kemudian menyentuh bumi. 

Minggu, 04 September 2016

Sentimentalisme Orang Kalah

Katanya aku ini adalah seorang pemenang. Aku adalah pemenang dari jutaan sperma yang disusupkan oleh ayahku ke rahim ibuku yang membuahi ovumnya. Aku bersama jutaan temanku berjuang keras untuk mencapai ovum. Akulah yang berhasil. Sementara yang lainnya musnah. Yang lainnya kalah. Akulah pemenang. Aku pemenang di alam rahim. Namun aku tidak pernah tahu dan tidak secara sadar akan kemenanganku sendiri. Ketika lahir pun aku menjadi pemenang dari perjudian nyawa yang rentan bagi seorang bayi.

Aku Menangis Karena Kitab Suci

Kematian Nining membuatku terpukul. Aku langsung pulang kampung ketika mendengar kabar memilukan itu. Perjalanan pulang terasa lambat dan menyebalkan! Padahal biasanya aku menikmati perjalanan pulang. Suasana bus, mondar-mandirnya tukang dagang asongan dan nyanyian pengamen menambah kegelisahanku. Apalagi di bus ini aku satu jok dengan laki-laki yang tak henti-hentinya merokok. Asap berseliweran menyerangku. Hendak pindah ke jok lain sudah tidak ada jok kosong. Lengkap sudah ketidaknyamananku.

Kiai dan Burung Gereja

Kiai Santibi luar biasa terkejut ketika mendapatkan sahabat-sahabatnya dalam keadaan tak bernyawa lagi. Sisa-sisa darah yang mengental berceceran di sekitar tubuh mereka. Ada yang kulitnya terkelupas dengan daging yang menganga dan tulang yang remuk. Ada bagian tubuh yang terpisah seperti dimutilasi. Semut-semut mulai merayapi tubuh mereka. Dan lalat-lalat mengitarinya.

Pelajaran Pertama dari Bu Pertiwi

Selamat pagi anak-anak...,” kata seorang ibu setengah baya ketika memasuki sebuah ruangan kelas.

“Selamat pagi, Bu...,” jawab anak-anak serentak. Mereka langsung duduk dengan rapi. Tatapan mereka terpusat pada sosok yang baru meraka lihat. Sebagian ada yang berbisik dengan teman di sebelahnya.

Aku Tak Bisa Katakan, Lakukan, dan Rasakan Apa Pun

"Katakanlah sesuatu untukku sekarang juga!" katanya.

"Apa yang harus kukatakan sekarang ini?" tanyaku.

"Entahlah...”, katanya. Sepertinya dia sendiri pun tidak tahu apa yang harus aku katakan. Apalagi aku.

Ini Mungkin Pertemuan Terakhir

“Kekasih, mungkin saja ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Tentu peluk, kecup dan raba yang terakhir pula. Meski kita tak pernah mengharapkannya. Mungkin esok atau lusa, atau entah kapan aku tidak lagi menyebutmu kekasih. Dan seperti itu pula kamu kepadaku. Jangankan untuk hidup bersama, untuk sekedar menyapa dalam pertemuan tak terduga sekali pun, kita bisa jadi tak pernah mengharapkannya.