Kamis, 26 Februari 2026

Komik Tatang S. dan Riwayat Berkenalan dengan Tsb

Tatang S. sebelah kanan
dan salah satu karyanya (Foto: fimela.com) 

Tukang cilok, tukang bakso, tukang bandros, tukang mainan, dan tukang-tukang lain, setiap tahun akan datang ke halaman madrasah Miftahul Aulad. Mereka mengais rezeki saat pesta kenaikan kelas atau samenan. 

Gadis-gadis berrok maksi, berbaju panjang, dan kerudung longgar menutup kepala. Sesekali menggelesot, terjuntai di pundak hingga rambut hitam dan lehernya terkuak sekilas. Kerudung mereka memang bebas terjun, khas tahun 90-an.

Mereka bergerombol menuju tukang bakso. Diam-diam perjaka menguntit di belakang. Traktir-traktiran terjadi begitu saja. 

Di belakang masjid yang gelap, di seberang keramaian samenan, anak-anak baru gede menghamburkan asap rokok. Sesekali terbatuk. Tapi tetap mengisapnya lagi. Mereka mulai mengidentifikasi menjadi pemuda. Mungkin, bagi mereka, jadi pemuda haruslah merokok. Soal merk, lain urusan. Padahal, jika ketahuan orang tuanya akan dihadiahi sapu lidi.

Sekelompok anak bolak-balik jajan cilok dengan saos meluber. Beberapa tetes menempel di baju. Mereka jajan habis-habisan hingga perutnya hampir meledak. Seolah itu jajan yang untuk terakhir kalinya.  

Kelompok lain mengerubung tukang mainan. Di situ tergantung balon, jepit, bando, BP, terompet mobil-mobilan, dan pistol-pistolan. Di situ pula terpampang perempuan setengah telanjang dan buku mini bergambar hidung panjang. 

Nah, ini dia. 

Perempuan setengah telanjang itu jilid Teka Teki Sillang (TTS). Sementara buku mini adalah komik karya Tatang S. yang berkisah para punakawan; Petruk, Bagong, Gareng dan Lurah Semar. Keduanya diterbitkan Sandro Agency atau TB Agenci Pasar Senen, Jakarta.

Komik itulah yang menarik perhatianku. Di halaman awal ada prakata dari pengarang. Kira-kira bebunyi begini, “salam manis tak akan habis, buat penggemar aye.”

Pemeran utamanya adalah Petruk. Seingatku, ia tokoh kadang-kadang. Kadang serius, kadang guyon. Kadang bisa menanggulangi setan, demit, genderuwo, kelong wewe dan sebangsanya, kadang juga pecundang. Kadang pemberani dan bijak, kadang konyol. 

Ia selalu berkaos hitam bergaris-garis putih. 

Bertahun-tahun, saya mengoleksi komik itu hingga menumpuk di laci kesayanganku yang kunamai sebagai “kotak wasiat”. Nama ini saya ambil dari sebuah rubrik di majalah Kuncung yang mampir ke SD-ku. 

Dalam beberapa cerita, Petruk pernah memiliki teknik tinggi. Ia memiliki pesawat terbang. Pengarang mendeskripsikan gambar, "pesawat terbang made in Petruk." Di bagian lain, ditulis "pesawat terbang tsb." 

Apa itu tsb?  

Mau tak mau waktu itu saya mengambil kesimpulan bahwa “tsb” itu nama pesawat Petruk. Tapi, jadi kerepotan karena di komik edisi lain, ada “tsb” juga. 

Wah, bagaimana ini?


Cafelosophy, 1 Agustus 2012!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar