Rabu, 25 Februari 2026

Mahbub Djunaidi: Menulis Itu Harus Matang Sejak dalam Pikiran!

H. Mahbub Djunaidi (Foto:Ngopibareng.id)
Pada 27 Juli lalu, sekelompok mahasiswa di Ciputat merayakan ulang tahun ke-78 sang pendekar pena, H. Mahbub Djunadi, penulis kenamaan pada zamannya. Profesor Chotibul Umam, sebagai sahabat Mahbub di di harian Duta Masjarakat meniup lilin dan memotong kue ulang tahun.

Pak Chotib yang sudah renta menghadiri acara tersebut meski dihubungi beberapa jam sebelum acara menimbang kedekatannya dengan Mahbub Djunaidi. Kehadirannya sebagai bentuk kecintaannya kepada sahabat, sebagaimana ia mencintai Zamroni, sahabatnya, yang juga sahabat Mahbub Djunaidi.

Agak kesusahan ia mematikan lilin yang tertanam di atas kue tar yang bertuliskan Mahbub Djunaidi 1933-2011.

Tepuk tangan gegap-gempita dan rasa haru memenuhi aula asrama putri PMII Ciputat.

Di deretan belakang, seseorang celingukan dan keheranan. Kedua belah telapaknya beradu, tapi nyaris tak bersuara. Ia berbisik kepada sahabat di sampingnya.

“Eh, yang mana sih Mahbub Djunaidi itu?”

“Yang lagi tiup lilin itu kali.”

“Bukan! itu kan Pak Chotib.”

“Barangkali belum datang.”

“Sebagai kejutan?”

“Barangkali demikian.”

Screenshot tulisan ini di blog Pamanah Rasa
yang dulu beralamat di abdullahalawi.blogspot.com
Keduanya terdiam karena selepas tiup lilin ada ada momen makan kue yang disusul diskusi dengan testimoni Pak Chotib.

“Pak Mahbub itu, kalau menulis, sekali jadi. Kalau ketahuan ada wartawan membuang tulisannya karena dianggap tak ada yang keliru atau tidak memuaskan hasilnya, maka Pak Mahbub Djunaidi adakan marah! Menulis itu harus matang sejak dalam pikiran.”

Diskusi berlanjut, Amsar A. Dulmanan bilang, Mahbub itu ibarat kiai yang mampu menyederhanakan segala masalah muskil jadi dipahami siapa pun. 

Sementara Ahmad Makki menggeledah Mahbub Djunaidi dari segi bahasa. Menurutnya, Mahbub pemberontak literer, mengabaikan EYD. Tapi dia mengimpasinya dengan kekayaan metafora-metafora genuin dan sublim. Dan jang lupa, rasa humornya. Pada titik ini, Mahbub adalah penyihir kata.

Selama diskusi berjalan, di belakang, seseorang masih gelisah. Benaknya berkecamuk, diseruduk tanda tanya sebesar gajah. Mahbub-nya mana?

Tak ada yang memberi penjelasan.

Akhirnya ia mencoba menjawabnya dengan tanda tanya pula: barangkali Mahbub adalah yang baca esai “Kretek” tadi? Atau yang berbaju hitam kotak-kotak bergaris putih? Atau yang motret? Atau yang membawa kue tar? Atau yang bertanya apa mimpi Mahbub tentang Indonesia? Atau yang tak bisa hadir, tapi ingin menyumbang sekadar gorengan? Atau yang menyumbang air mineral? Atau yang sedang rapat di Cililitan? Ah, barangkali dia sedang ngerjain skripsi di Condet?


Ciputat, 27 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar