Minggu, 22 Februari 2026

Rhoma Irama (3) Selamatkan Muka 40 Juta Jiwa Orang Sunda

Rhoma Irama (Foto: youtube Indosiar)
Apakah menyaksikan Rhoma Irama tanpa Soneta dan zonder menyanyi bisa menggunakan kata menonton? Mungkin kurang tepat, tapi tetap saya akan menggunakannya karena dia merupakan tontonan.  

Pertengahan bulan lalu, saya menonton Rhoma Irama di Plaza Gedung PBNU. Benar-benar Rhoma Irama asli, bukan bajakan. Saya bisa membuktikannya kepada pihak mana pun  yang meragukan saya. Tentu dia bukan hendak konser untuk menyanyikan Begadang 1 dan 2 atau Dawai Asmara dan Syahdu, tapi akan berbagi cerita tentang berdakwah dengan seni kepada dai-dai muda Nahdlatul Ulama.   

Selepas maghrib, saya mendengar informasi akan hadirnya Rhoma Irama di acara Lembaga Dakwah PBNU itu. Meskipun ragu akan kehadirannya, saya tetap menyiapkan diri untuk menontonnya. Sungguh ini adalah kesempatan yang mungkin tiada lagi di masa depan.  

Bersumber kasak-kusuk, saya mendapatkan informasi Rhoma Irama akan datang sekitar pukul 20.30. Bersumber kasak-kusuk inilah saya memastikan diri untuk menunggu di beranda. Tak ada ruginya saya menunggu. Tak apalah saya menunggu kepada orang yang layak untuk ditunggu. Saya benar-benar ikhlas sembari memuntungkun beberapa rokok kasta sudra.  

Setelah sejam, saya melihat ada kendaraan putih masuk ke halaman gedung PBNU. Kendaraan yang lain dari lain. Entah merek apa dan made in mana.  

“Nah, ini dia,” pekik saya dalam hati.  

Langsung saya menyalakan kamera ponsel pada modus video, merekam detik-detik kendaraan terbuka dan menampakkan seorang tua kurus berpakaian putih-putih berbalut jas hitam dengan kepala ditutupi kopiah hitam. Entah alas kakinya, saya tak perhatian ke situ.  

“Wah, ini benar-benar Rhoma Irama,” kata saya dalam hati kegirangan seperti Archimedes menemukan hukum berat benda di dalam air.  

Tiba-tiba halaman yang semula sepi menjadi hiruk-pikuk. Orang-orang itu seperti tumbuh begitu saja dari halaman PBNU, lalu mengepung kendaraan itu dari berbagai arah.  

Kemudian, saya mengubah modus video ponsel ke foto dengan tangan terlempar ke kiri dan kadang ke kanan karena tersenggol para pengerumun yang tiba-tiba itu. Tujuan saya ingin mencoba berswafoto bersama Rhoma Irama. Saya berhak mendapatkannya karena merupakan penunggu teladan.   

Aduh, ternyata saya gagal mendokumentasikannya dengan cara seperti itu karena orang-orang yang tiba-tiba berkerumun itu semakin banyak seperti laron mendekati cahaya. Saya terlempar karena dorongan orang-orang yang ingin mendekatinya.   

Dalam hati, saya mengutuk dan meratapi nasib bercampur sesal kenapa saya dulu menolak saran teman saya asal Pondok Pinang, seorang mualim muda cum wartawan untuk masuk Banser dan bermain pencak silat. Jika seperti dia dan mengikuti sarannya, mungkin badan saya kokoh tak tertandingi, tahan goncangan dari kiri kanan dari orang-orang berdesakan.    

Rhoma Irama pun langsung didaulat panitia ke panggung kehormatan tanpa mempedulikan saya yang ingin berswafoto dengannya. Padahal seandainya dia tahu saya menunggu dengan baik, mungkin akan sedikit tergerak pintu hatinya. Sayang tabir hitam di hatinya tak mampu menyingkirkannya.   

*** 

Menonton Rhoma Irama, ingatan saya tiba-tiba terbang pada sebuah peristiwa semasa saya masih hilir-mudik di Ciputat. Suatu siang di sekitar tahun 2009, saya mampir ke kosan teman di sekitar Sedap Malam. Anehnya, saya tak ingat obrolan dengan teman saya itu. Justru yang saya ingat satu kalimat temannya teman saya yang ngobrol dengan temannya di bagian tengah kosan.  

Maklum, saya ingat kalimat yang diungkapkan temannya teman saya itu karena menyangkut raja dangdut dan sekitar 40 juta jiwa orang Sunda. Itu artinya hampir seratus persen menyangkut saya.  Saya tidak tahu temannya teman saya mengobrol dengan siapa dan entah dalam konteks ngobrolin apa. Namun, kalimat yang diungkapkannya menusuk jantung saya. 

“Gua menghormati orang Sunda karena adanya satu orang, Rhoma Irama,” ungkap temannya teman saya itu kepada teman bicaranya di ruang tengah.  Saya yang bersama teman di ruang depan langsung merasa pantat disengat lebah.  

*** 

Saya tak memperhatikan apa yang dikatakan Rhoma Irama tentang dakwah melalui seni. Pikiran saya terganggu dengan ingatan yang berputar-putar terkait kalimat temannya teman saya yang berbicara kepada temannya di tahun 2009 tentang Rhoma Irama dan Sunda. Saya malah asyik sendiri mengunyah-ngunyah kalimat itu.  

Rhoma Irama adalah sosok yang dikenal orang sebagai pemusik legendaris karena selain kreator genre musik, juga komposer, vokalis dan bintang film, bahkan seorang dai yang menurut ahli qiraat, lumayan juga tajwidnya.  

Sementara Sunda adalah suku bangsa yang mendiami sebagian besar sebelah barat pulau Jawa, yang secara statistik saat ini sekitar 40 juta jiwa.  Namun, di mata temannya teman saya itu, sebanyak 39.999.999 jiwa orang Sunda, yang di dalamnya ada saya, tidak berarti apa-apa. Tapi, ketika ditambah 1 saja, oleh orang yang bernama Rhoma Irama, bagi temannya teman saya itu, sudah cukup untuk menghormati seluruh orang Sunda.


Tulisan ini pernah dimuat di Arina.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar