Hari: Senin, Tanggal: 7-9, Tahun: 99
CATATAN SENIN II
Pelajaran ketiga, 2 kali sudah bermasalah. Sejarah saat itu. Memang bersejarah. Bu ARR saat itu tidak masuk. Sebagai badal, seorang Pak EJ yang rambutnya sedikit kribo, berkumis tebal, ditumbuhi bulu-bulu halus di lengannya, dan tatapan mata yang tajam. Pak EJ memberi mandat pada seorang murid kls II A untuk menuliskan pelajaran sejarah. Lalu ia pun keluar entah kemana.
Manusia memang. Anak sekolah memang. Tatalu, nyontek, eleg, sudah berurat daging yang sudah turun-temurun dan akan terus turun-temurun. Seperti pun hari itu penghuni kelas II A memukul-mukul bangku dan meja yang diiringi lagu-lagu kelas kambing yang suaranya memenuhi seantero kelas kecil itu dan sebagian ada yang sampai ke kantor.
Suara musik aneh khas sekolahan tsb terdengar kembali kemana-mana dan sampai ke telinga Pak EJ yang baru beberapa langkah beranjak dari ke kelas II A. Didorong rasa kesal dan dilecehkan, ia kembali ke kelas II A dan berkata dengan nada keras.
“saha anu bieu tatalu, hah?”
“Saha? Bejakeun saha?”
Kelas II saat itu seperti tak berpenghuni, seperti di kuburan pada malam Jumat Kliwon. Tidak ada sedikit pun suara. Jempling sekali seperti gaang katingcak atau ABG katingcak buta. Hanya hati mereka hati mereka yang berdebar-debar melihat melihat muka Pak EJ yang berkumis tebal sedang ngambek. Ia pun kembali bertanya.
“Saha anu bieu tatalu hah? Hayoh bejakeun saha?”
Penghuni kelas tersebut tertunduk, tak ada yang berani menjawab. Sepi sekali, yang terdengar hanya napas mereka yang tak karuan. Pak EJ kembali berkata: “Hayoh ayeuna kaluar kabeh lalakina!”
Dengan langkah tak pasti dan dengan perasaan bertanya-tanya, akhirnya mereka pun keluar.
Setelah keluar, betapa terkejutnya mereka.
"Sok takolan tuh taneuh!" kata Pak EJ sambil menunjuk pada tanah lapang di depan sekolah yang kebetulan seperti anak tangga yang menghadap ke arah matahari terbenam.
Dengan perasaan malu seperti Siti Hawa yang mengakui kesalahannya setelah merayu Nabi Adam untuk memakan buah khuldi, mereka akhirnya memukul-mukul tanah yang berbentuk sebuah tangga tersebut.
“Hayoh sing tarik nakolan nana, piraku tadi tarik ayeuna heunteu!” kata pak EJ sambil memukul salah seorang di antara mereka dengan sebuah lidi.
“Ku bapak moal waka cenah bérés satungtung can aya anu ngaku nepi ka bérés palajaran ka opat (Fisika),” kata pak EJ lagi.
Para penghuni kelas II A yang berada persis berhadapan dengan tangga tersebut tertunduk kini.
Mereka seperti tahanan yang baru saja divonis hukuman penjara sekian tahun. Mereka seperti kehilangan tulang belakang, leuleusy (sambil terus memukul-mukul). Mereka hanya pasrah pada keadaan, terbayang di benaknya 1 jam jongkok menghadap ke barat dengan tangan tak henti-hentinya memukul.
Belum selesai mereka memikirkan nasib, “Syukur, syukur” ada suara gembira dari belakang mereka. Ternyata Pak E. Seorang guru paling pendek yang sudah tua yang berkumis tipis.
Tidak cukup dengan itu, pak EJ menjewer satu persatu dari kanan hingga ke kiri. Sebuah bonus mungkin. Memang kelabu segalanya saat itu. Ingin rasanya ngamuk, namun tak kuasa, ingin rasanya menjerit namun apa daya. Ambek nyedek, tenaga midek, berlaku kaku saat itu.
Air mata keluar saat itu dari seluruh sudut kekesalannya.
Pohon-pohon karet itu tertunduk, angin enggan berhembus, mentari tak bergairah, tiang bendera pun ikut bersedih. Sementara pohon kembang kertas di sebelah selatan mereka menggugurkan bunganya, menangis mungkin.
Catatan kls II
“Bunga-Bunga MTS”
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpeg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar