![]() |
| Aku dengan perempuan yang disebut kekasih (Foto: penumpang tak dikenal) |
Saya berusaha memiliki earphone tiada lain adalah agar bisa mendengarkan lagu bersama seseorang, seseorang yang dengan sukarela dipanggil kekasih. Dengan earphone itu, saat bersama dalam suatu perjalanan, kami akan mendengarkan musik bersama: satu ke telinga saya, yang lainnya ke telinga seseorang yang dengan sukarela disebut kekasih tersebut.
Tak ada pihak lain yang berkepentingan atau tak berkepentingan turut serta mendengarkan lagu tersebut, bahkan penyanyi dan pengiring musiknya. Mutlak kami berdua.
Sebelum ada perempuan yang dengan sukarela bisa kusebut kekasih, dalam perjalanan pulang atau berangkat saya tetap membawa earphone karena barangkali saja Tuhan mengirimkan perempuan dengan sukarela disebut kekasih itu dalam perjalanan pulang atau keberangkatan.
Waktu itu, meskipun belum ada atau ditemukan secara sengaja maupun sekatika, saya tetap menghormati kedudukannya sebagai orang yang kelak dengan sukarela disebut kekasih. Menghormatinya adalah dengan cara saya menggunakan hanya sebelah earphone saja. Sementara sebelahnya lagi dibiarkan terjuntai. Saya tak berhak dan tak berani menggunakannya.
Tujuan praktisnya adalah, jika kemudian dalam perjalanan pulang atau keberangkatan tiba-tiba perempuan yang rela disebut kekasih itu datang atau tiba-tiba duduk di samping saya dengan cara yang entah, ia sudah tinggal menempelkan satu earphone ke telinganya tanpa ada proses melepas dari telinga saya.
Namun, bertahun-tahun earphone saya yang sebelah hanyalah angin, berisi bayangan perempuan penunggang angan.
Baru pada 2015, dengan cara tiba-tiba ada seorang perempuan yang dikirim takdir bersedia dipanggil kekasih, perempuan yang ditemukan di kereta. Ia bersedia berbagi earphone dengan saya dan bersedia saling menyerahkan diri, berbagi earphone sumur hidup.
Saya waktu itu sedang menyukai Mr Big - Wild World, Hellowen - Forever and One dan Rainbow - Catch the Rainbow.
Saya ingin mendengarkan lagu itu bersamanya. Bila perlu teriak bersama-sama, tak mempedulikan seluruh penumpang kereta. Rute Jombang-Jakarta tiada lagi selain kami berdua. Departemen Perhubungan memang menyedikan alat transportasi hari itu untuk menjemput kami pulang.
Lalu, saya berharap kami berdua menyamakan suara semirip mungkin dengan Andi Deris sambil berteriak:
Forever and one, I will miss you
However I kiss you, yet again
Way down in Neverland
So hard, I was tryin'
Tomorrow, I'll still be cryin'
Namun, itu tak terjadi. Selera musik kami ternyata berlainan. Yang terjadi adalah hanya mendengarkan Andi Deris yang berteriak saja disusul Eric Martin bernyanyi Wild World dan Ronnie James Dio menyanyikan Catch the Rainbow.
Perempuan yang kemudian sukarela disebut kekasih yang berada di samping saya dengan terbuka tidak menyukai lagu-lagu seperti itu. Dia mengajukan proposal memutar lagu Korea, untungnya bukan utara, tapi selatan.
Bujug dah... Itulah lagu-lagu yang tak pernah saya sukai sama sekali dan tak pernah terpikirkan untuk menyukainya. Namun, tentu saja saya harus menghormati pilihan seleranya.
Belakangan saya ketahui koleksi lagunya adalah Govinda - Hal Hebat, Faouzia - RIP Love, Little Mix - Secret Love Song, Ratu Menez - Coba Jadi Aku, Lyodra - Sang Dewi, Kezia - Aku Masih Memikirkanmu, Melly Goeslaw & Andhika Pratama – Butterfly, Nisa Sabyan - Man Ana, Mahalini - Kisah Sempurna, Sial, dan Sisa Rasa, Ziva Magnolya - Pilihan Yang Terbaik, Tiara Andini - Usai, Terry - Di Persimpangan, dan lain-lain.
Pernah saya dengar satu per satu selera musiknya itu sepertinya bergaya pop yang slow. Entahlah saya kurang tahu genrenya. Namun, berbanding terbalik dengan saya senang dangdut, rock, pop, blues, keroncong, reggae, tarling, disko, hingga kasidah. Dari sisi aktualitas, sepertinya dia senang pemusik baru sementara saya yang telah lama berlalu.
Makanya koleksi saya adalah Neraka Jahanam milik Godbless versi Boomerang, Bayangan milik Ucamp versi Pas Band, Ghibah dan Nafsu Serakah serta hampir seliuruh lagu Rhoma Irama, Buku Ini Aku Pinjam atau Berandal Malam di Bangku Terminal serta hampir seluruh lagu Iwan Fals, Pangandaran, Malioboro, dan Laut serta hampir seliuruh lagu Doel Sumbang, dan Tertanam Tonny Q. Rastafara.
Jadi, antara saya dan dia tak ada satu pun musik yang benar-benar sama-sama disukai. Singkatnya, selera musik saya di masyriq, dia di maghrib. Satu di kutub utara, yang lain di selatan.
Oh ya, belakangan pada akhirnya ketemu juga titik persamaan selera musik kami. Dia menyukai Nike Ardilla. Inilah titik pertemuan dengan saya. Meskipun titik kecil, tapi tetap layak disyukuri dan dirayakan. Sebuah plot twist yang manis.
Meski demikian, diam-diam, kami, lebih tepatnya saya, berupaya memperbesar titik pertemuan selera musik. Titik temu yang lebih kuat. Pernah dan sering saya menegosiasikan selera musik kepadanya dengan cara memutar koleksi lagu keras-keras. Dia juga melakukan hal serupa.
Namun, tetap saja selera musik kami secara umum jatuh pada situasi deadlock. Kami mempertahankan status quo masing-masing. Meski demikian, kami menghormati kedaulatan masing-masing. Selera musik tak bisa dilanggar pihak mana pun, bahkan oleh dan kepada orang yang disebut kekasih.
Sayangnya semua itu kadang dicederai perilakunya yang sungguh tak terpuji. Ia sesekali memaksakan selera musiknya. Ini pelanggaran berat. Ia membajak selera musik saya secara barbar. Jika saya sedang di rumah memutar Juragan Empang misalnya, tanpa uluk salam sama sekali, ia menggantinya dengan Mahalini. Siapa Mahalini ini? Atau diganti dengan Cakra Khan. Siapa dia?
Demikianlah, selera musik kami tetap deadlock. Mungkin akan tetap deadlock selamanya.
Namun, kami hidup bersama dan kini dianugerahi anak-anak yang manis dan lucu. Demikianlah, saya nyatakan kepada dunia, untuk punya 3 anak, tak perlu bersama dengan seseorang dengan selera musik yang sama.
Selera musik kami memang deadlock selamanya, tapi cinta kami tetap status quo selamanya.
Jakarta, 27 Februari 2026/9 Ramadan 1447

Tidak ada komentar:
Posting Komentar