Minggu, 22 Februari 2026

Bertemu Lisong di Tempat Paling Gelap di Dunia

Muhammad Mukhlisin, warga negara yang baik
Namanya Muhamamd Mukhlisin asal Pati Jawa Tengah. Dia meminta dipanggil Klisin atau Lisin saat memperkenalkan diri. Sungguh suatu panggilan yang muskil bagi saya. 

Karena itu, saya keluar dari keingainannya. Saya berijtihad dan lebih senang memanggilnya Lisong saja. Meskipun tak jadi panggilan resmi, satu dua teman mengikuti saya.

Lisong. Dia adik angkatan dua tahun semasa di Ciputat. Tepatnya di Piramida Circle. Mula bertemu pada pada 2005. Mungkin ngekos bareng sampai 2006-2007 atau lebih.  

Perawakannya yang mungil, tapi berbanding terbalik dengan cita-cita dan nasibnya yang besar. Gesit, teratur, gaya bicara dan nalarnya runtut, menyelesaikan studi tepat waktu dengan memuaskan, jalin hubungan sana-sini dengan bagus, bekerja sesuai minat dan keahlian, lalu berkeluarga.

Bertahun-tahun tidak pernah bertemu, tak tahu nasib dan rimbanya. Tapi saya yakin dia bisa membawa diri, membina keluarga dengan rukun kepada istri, anak-anaknya, teman-temannya, tetangganya, keluarganya, keluarga istrinya, rekanan kerjanya, serta dengan tuhannya. Ia juga tak pernah berurusan dengan berwajib, terbebas dari asap rokok dan narkoba, dan rajin berolahraga. 

rute dan jarak jalan
pagi Lisong 
Lisong adalah warga dengan tipe yang disukai menpora di setiap musim dan kabinet. Siapa pun presidenya, siapa pun menporanya, pasti akan menganggapnya baik karena ia termasuk warga yang terkandung dalam slogan mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga. 

Singkatnya, dia warga negara yang ideal tanpa perdebatan.  

Lalu, belakangan ini, kami bertemu di tempat yang bagi saya paling gelap di dunia, tempat yang hampir tak pernah terpikirkan untuk saya berkunjung ke situ, yaitu di aplikasi olahraga jalan kaki. 

Saya membuka akunnya. Lakadalah, benar-benar warga negara ideal. Dia lari pagi tiap hari. Di lihat dari rutenya yang melingkar, sepertinya ia melakukan aktivitas itu di komplek rumahnya. Jarak yang ditempuhnya rata-rata 7 km. Luar biasa, organ-organ tubuhnya mesti masih sehat. Pasti laku keras jika dijual di pasaran Kamboja. 

Lisong meminta pertemanan di aplikasi itu. Entah apa maksudnya. Saya tak tahu. Hanya mengutuk di dalam hati. Sial, ketemu Lisong di sini. 

Saya berpikir, merenung dalam-dalam, mestikah saya menerima pertemanannya?  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar