Minggu, 24 Mei 2026

Sirine Japuk, Euy...!

buat sahabat-sahabat di Kobong

"Japuk............., euy," teriak seseorang bersarung merah bergaris-garis hitam dari lantai dua. Seolah sirine bahaya gempa, penghuni kobong itu serentak berhamburan keluar. Tak ayal, suara gedabak-gedebuk telapak kaki tergesa menuju tangga. Lantai yang terbuat dari papan kayu nangka itu bergetar hebat, dihiasi debu beterbangan. Penghuni di lantai dasar pun menyelamatkan diri. Mereka celingukan mencari sesuatu. Di senja itu...

Seseorang berpeci hitam, berbaju kemeja dan bercelana hitam datang dari arah belakang kobong. Tangan kanannya menjinjing dus bermerek Sarimi yang diikat tali rapia. Tangan kirinya menenteng plastik dengan tulisan Ramayana Department Store. Sementara di pundaknya tergantung pula tas hitam yang penuh. 

Beberapa langkah ke gerbang, dia dikepung beberapa orang bersarung. Seseorang menawarkan diri jadi relawan membawakan tentengannya. Tapi dia mengelak. Dan hanya menyerahkan dus Sarimi tersebut. Setelah bercakap sebentar. Dia pergi menuju kamarnya. Kemudian sowan kepada ajengan.

Pada saat itu datang pula temannya yang tadi berlarian. Mereka hanya bersapaan sebentar karena perhatian terseret pada dus yang mulai dikuliti yang lain. Isinya dua timbel nasi dibungkus daun pisang dan rambutan. Tanpa ada komando, mereka langsung menghajar timbel itu dengan suap besar-besar hingga susah bernapas. Hanya dikunyah sebentar, kemudian ditelan. Cuci tangan adalah mustahil karena hanya akan mendapatkan bungkusnya. Karena jarang pula makan rambutan, ada yang satu suap makan nasi, kemudian rambutan dan nasi kembali. Dalam hitungan detik, timbel itu ludes!

Ada kata yang sukar atau mungkin tidak dipahami penduduk yang hanya beberapa meter dari dinding pesantren. Saya pernah mengoleksi beberapa kata yang mengacu pada "oleh-oleh" yang dibawa santri dari rumah. Misalnya, di ponpes Assalafiyyah Nurul Hikmah, Parungkuda, disebut japuk, di pesantren Siqoyatur Rahmah, Selabintana, disebut halawa. Kata seorang teman, di pesantren lain dinamakan berkat, ghonimah, barokatuh, dll. Kata itu akan berderet panjang jika meneliti pesantren-pesantren lain. Istilah yang paling populer adalah adrahi. 

Bahkan, ada kata yang bermakna ganda. Pertama, arti yang sama dengan di luar pesantren. Kedua, arti yang hanya di pesantren seperti kata pasaran. Dalam pandangan umum, ini berarti keranda pengusung mayat, tapi di pesantren berarti kegiatan mengaji kilat (biasanya bulan Ramadan). Selain itu, di dalam pesantren sendiri ada kata yang sangat situasional. Di pesantren Assalafiyyah Nurul Hikmah misalnya, kata ngalogat digunakan santri sebagai mengartikan kitab kuning jika di majlis ta'lim. Sepengertian dengan ngapsahi di pesantren-pesantren di Jawa. Sedangkan kata ngalogat yang digunakan di warung berarti ngutang.

Ciputat, Agustus 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar