Apa yang harus kulakukan dan kukatakan ketika ulang tahunku sendiri? Sederetan kata-kata tersebut yang diakhiri dengan tanda tanya itu menjadi teror baginya, menjadi momok menakutkan, menjadi mimpi buruk, menjadi igauan saat tidur, dan menjadi mantera saat termenung. Huruf-hurufnya seperti punya taring yang siap menerkam kapan dan di mana pun. Kemudian minum beberapa pil penenang. Pil penidurlah yang bisa memberikan jawaban sementara. Dia sering bertanya kepada tetangga-tetangganya, teman-temannya dan orang-orang yang dikenalinya tentang pertanyaan itu. Mereka mengajukan beberapa jawaban sesuai yang diketahuinya atau yang pernah dialaminya. Tapi tak jarang juga dari mereka ada yang menertawakannya. Padahal dia tak suka orang tertawa. Apalagi tertawa yang tak dimengertinya kenapa dia tertawa.
Dia sering menyusuri lorong-lorong kota, trotoar-trotoar, pasar-pasar atau tempat-tempat yang dikunjunginya dengan harapan dia menemukan jawaban itu. Tapi dia merasa belum ada jawaban yang cocok yang sesuai dengan keinginannya. Dia pernah puasa sehari semalam yang melelahkan di hari ulang tahunnya, tapi dia merasa bukan itu yang diinginkannya. Bukan itu jawabannya, tapi apa? Kemudian dia menelan beberapa pil penenang. Dia pernah membagi-bagikan sebagian hartanya pada siapa pun yang menginginkannya di hari ulang tahunnya. Uang dibagikan kepada anak-anak tetangga. Pakaian-pakaiannya banyak yang disedekahkan ke panti-panti. Koleksi-koleksi barang berharga dijualnya untuk disumbangkan pada pembangunan rumah-rumah ibadah. Tapi dia merasa bukan itu yang diinginkannya, tapi apa? Kemudian dia menelan beberapa pil penenang.
Dia pernah mengadakan pesta besar-besaran di rumahnya. Dia mengundang kerabatnya, tetangga-tetangganya, teman-temannya, kenalan-kenalannya. Semua menghadiahinya dengan rupa-rupa benda dan mengucapkan selamat dengan berbagai cara dan bahasa. Tapi tiba-tiba saja dia merasa mual-mual mendengar kata-kata itu. Dia muak dengan semua itu. Kemudian dia mengusir mereka dan memaki-makinya saat itu juga. Seperti orang kesurupan. Mereka kaget, tak mengerti, kesal, marah dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Semula mereka menganggap itu hanyalah gurauan dari orang yang bergembira di hari ulang tahunnya, tapi mereka melihat keseriusan dari mukanya. Mereka merasa terhina, tertipu dan direndahkan. Tapi mereka pergi juga dengan jengkel dan hati setengah tak percaya. Di benak mereka cuma satu kesimpulan, Dia gila. Dia punya kelainan. Dia harus segera dikirim ke rumah sakit jiwa.
Dia sendirian mengurung diri di kamarnya sehabis pesta itu. Dia merasa pesta itu bukan jawaban dari PR besar hidupnya. Bukan itu yang diinginkannya, tapi apa? Dia kemudian minum beberapa buah obat penenang. Setelah kejadian malam pesta itu dia harus menanggung akibatnya. Satu persatu orang-orang dekatnya mulai menjauhinya. Tetangga-tetangganya membencinya. Dia dipecat dengan tidak hormat dari tempat kerjanya. Bosnya merasa terhina oleh anak buahnya sendiri di hadapan orang-orang saat ulang tahun itu. Dia terisolir. Dikucilkan. Dia kehilangan sebagian dari hidupnya. Tapi dia tidak peduli dengan anggapan dan perlakuan orang terhadapnya. Tidak peduli dengan semua itu. Yang penting baginya adalah menjawab pertanyaan itu. Selesai urusan! Pertanyaan itu begitu urgen. Yang lain hanya sepersekian dari pertanyaan itu. Ini bukan masalah sepele.
Tapi dia tidak pernah berhenti mencoba. Dia tetap mencari dan terus mencari. Dia sudah kepalang mencari dan sudah terlalu banyak yang telah dikorbankannya. Dia membaca buku-buku orang besar dan mencari tahu apa yang dilakukannya dan dikatakannya saat ulang tahunnya. Membaca kisah-kisah selebritis dan orang-orang terkenal. Bahkan dia meneliti dan mencari tahu ritual apa yang dilakukan oleh masyarakat kuno. Barangkali saja bisa mendapatkan jawabannya. Tapi hasilnya nihil. Nol besar. Dia tidak mendapatkan apa-apa. Dia tidak menemukan jawaban yang cocok dengan hatinya, tapi apa? Tahun demi tahun terus bergantian. Tahun lama mengundurkan diri datanglah tahun baru. Dia merasa tahun begitu cepat berganti. Dia merasa baru saja kemarin merasa pusing dengan hari ulang tahunnya dan sebentar lagi hari itu menjemputnya lagi tanpa dia tahu dan menemukan apa yang harus dilakukannya dan dikatakannya saat ulang tahunnya. Makin lama makin bertambahlah usianya. Sederetan kata-kata itu yang diakhiri dengan tanda tanya semakin lama semakin membesar, membengkak, menggelembung, berkecambah, membelah diri kemudian beranak pinak, berbelit-belit, berputar-putar, melilit dan menjadi onak di kepalanya.
Tapi dia bukan orang yang gampang putus asa. Dia tetap mencoba dan mencoba. Mencari dan mencari. Dia pernah melolong sekeras-kerasnya. Melolongkan apa saja yang diinginkan mulutnya dengan berjingkrak-jingkrak di hari ulang tahunnya. Tapi itu hanya membuatnya lelah. Dia merasa bukan itu jawabannya, tapi apa? Orang-orang yang mendengarnya semakin yakin bahwa dia adalah benar-benar gila. Dia layak menjadi salah seorang penghuni rumah sakit jiwa. Pernah beberapa orang dari mereka mengusulkan untuk mengirimnya ke psikiater atau rumah sakit jiwa, tapi yang lain menolaknya karena tidak ada yang mau menjamin biayanya, lagi pula dia tidak mengganggu.
Dia pernah tidak melakukan apa-apa dan tidak berbicara apa-apa di hari ulang tahunnya. Tapi dia merasa bukan itu yang diinginkannya, tapi apa? Dia hampir saja melakukan bunuh diri di suatu ulang tahunnya yang ke sekian. Dia mau bunuh diri bukan karena putus asa atau kecewa akan masalahnya, tapi dia merasa itulah jawabannya. Dia telah memilih beberapa cara seni dalam bunuh diri: menggantung diri di kamarnya, meminum racun serangga, atau memutuskan urat nadi di pergelangan tangannya. Tetapi ketika dia mau melakukannya, dia merasa bukan itu yang diinginkannya. Bunuh diri hanyalah kesia-siaan. Bunuh diri hanyalah membuatnya mati. Masih mending pertanyaan itu tidak terbawa mati. Coba kalau terbawa mati, bukankah di sana akan lebih gelisah? Bukankah itu hanya akan menambah masalah? Sialan!
Apa yang harus kulakukan dan kukatakan saat ulang tahunku sendiri? Ah, pertanyaan melelahkan, desahnya pada suatu malam. Tak pernah aku semelelahkan ini hanya oleh sederet kata yang diakhiri tanda tanya brengsek itu, katanya lagi pada dirinya sendiri. Kemudian dia minum beberapa butir pil penenang dan merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Di akhir tidur menjelang pagi, dia mimpi bertemu dengan ibunya. Dia melihat ibunya sedang mengandung seorang bayi. Ibunya tampak kelelahan selama berbulan-bulan. Kemudian dia melahirkan, berdarah-darah, berlelah-lelah yang setengah mematikan, kemudian lahirlah seorang bayi yang kini menjadi dirinya. Ibunya hanya sempat tersenyum penuh kemenangan setelah bayinya terlahir dengan selamat. Dia menatap bayi itu yang terus-terusan menangis. Tak lama kemudian dia menghembuskan napas terakhirnya karena banyak kehilangan darah di antara orang-orang yang melihatnya dan bayinya. Orang-orang di sekelilingnya menangisinya. Bayi itu kemudian dibawa oleh bidan. Tak henti-hentinya dia menangis. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan orang yang baru saja melahirkannya. Dia tak mengerti apa-apa di dunia yang asing yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia tak pernah minta untuk dilahirkan! Dia hanya menangis dan menangis. Begitulah bahasa bayi.
Dia langsung terbangun dari tidurnya. Mimpi itu begitu jelas tergambar di pikirannya. Dia bisa melihat ibu yang tak pernah dikenalnya. Dia melihat perjuangan ibunya ketika mengandung meski ditinggalkan suaminya begitu saja. Dia melihat perjuangan ibunya ketika melahirkan berdarah-darah. Tiba-tiba saja dia ingat akan PR hidupnya. Apa yang harus kulakukan dan kukatakan saat ulang tahunku sendiri? Kemudian dia ingat-ingat mimpi itu. Kemudian mengingat-ingat lagi pertanyaan itu. Kemudian dia mengingat-ingat mimpi itu lagi. Dia menghubung-hubungkannya berkali-kali. Begitu dan begitu seterusnya dalam beberapa saat. Dia tersenyum. Matanya berbinar-binar penuh cahaya. Dia seperti seorang pertapa yang mencapai Buddha. Dia seperti seorang yang mendapat pencerahan. Dia berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan yang telah lama diidamkannya. Dia seperti Archimedes yang menemukan hukum berat benda di air. Dia merasa sederetan kata yang diakhiri tanda tanya itu akan segera berakhir. Segala onak duri di kepalanya yang berjejalan, berdesak-desakan dan bersumbat-sumbat akan segera meleleh. Dia merasa inilah jawabannya. Dia merasa inilah yang diinginkannya. Ibu. Tiga huruf itu terasa indah di kepalanya. Ibu, begitu memberi. Ibu, begitu segalanya.
Tapi apa yang harus kulakukan dan kukatakan pada ibuku di hari ulang tahunku yang sudah tak ada lagi sosoknya? Adakah laku dan kata yang setara buatnya?
Sukabumi, 13 Maret 2005
*Buat 10 Maret: teruslah gelisah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar