Minggu, 24 Mei 2026

Manohara Ternyata Istrinya Pak RW Merangkap Pak RT

Senja hampir habis ketika saya dan sahabat-sahabat sampai di tanah Peladen RT 05 RW 05, Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Entah kenapa, tiba-tiba pikiran saya tergelitik dengan dua hal. Pertama adalah pertanyaan, kenapa disebut Peladen? Artinya apa? Dari bahasa apa? Sejak kapan? Kedua, Nomor RT dan RW ini mengingatkan ke alam masa kecil saya saat nonton Cici Paramida di Album Minggu TVRI yang berjudul RT 05, RW 03.

RT 05, RW 3, 10 nomor 1
Jalannya, jalan cinta....

Aku Bukan Temanmu Lagi…

"Aku bukan temanmu lagi," katanya polos seperti tanpa beban. Gigi-gigi seri atasnya yang hitam sekilas tampak. Tapi lenyap saat bibir mungilnya terkatup, seolah layar menutup pentas drama. Sekarang, pipinya, hidungnya, bola matanya, bulu alisnya, dahinya, rambutnya, sekujur tubuhnya serentak menyatakan hal serupa, "Aku bukan temanmu lagi."

Aku kaget mendengar kalimatnya itu, seperti baru saja mendengar vonis kematianku sendiri. Aku tak habis pikir mengapa demikian. Apa salahku? Padahal beberapa detik yang lalu aku masih ketawa-ketiwi dengannya, bernyanyi, dan bercerita. Ah, betapa cepat dunia ini berbalik.

Sirine Japuk, Euy...!

buat sahabat-sahabat di Kobong

"Japuk............., euy," teriak seseorang bersarung merah bergaris-garis hitam dari lantai dua. Seolah sirine bahaya gempa, penghuni kobong itu serentak berhamburan keluar. Tak ayal, suara gedabak-gedebuk telapak kaki tergesa menuju tangga. Lantai yang terbuat dari papan kayu nangka itu bergetar hebat, dihiasi debu beterbangan. Penghuni di lantai dasar pun menyelamatkan diri. Mereka celingukan mencari sesuatu. Di senja itu...

Seseorang berpeci hitam, berbaju kemeja dan bercelana hitam datang dari arah belakang kobong. Tangan kanannya menjinjing dus bermerek Sarimi yang diikat tali rapia. Tangan kirinya menenteng plastik dengan tulisan Ramayana Department Store. Sementara di pundaknya tergantung pula tas hitam yang penuh. 

Sabtu, 23 Mei 2026

Kenapa Maria Menangis?

"Wah, kita terlambat," kata Pak Aang.

Saya tidak menanggapi karena belum tahu terlambat apa.

Di dalam, anak-anak Puspita; Key, Usman, Tommy, Epul, Linda, Tari dan Witri sedang duduk melingkar bersama pak Iwan, seorang relawan Puspita. Sepertinya mereka sedang mengomentari kegiatan talkshow yang baru saja usai. Sementara Veni sedang belajar baca al-Quran bersama kak Syahrozy. Di bagian terpisah Aisyah dan Maria duduk berhadapan. Keduanya menangis tersedu. Selintas keduanya sedang berlomba tangis.

Al-Risalah al-Zuma

Roni Tua Harahap menghela napas berkali-kali seolah musafir yang lolos dari gurun pasir ratusan mil. Tapi kini yang dihadapinya adalah tanjakan maut, tebing curam membahayakan. Sementara tenaga terkuras dan perbekalan di kantungnya menipis. Helaan napasnya mirip juga seorang perokok berat dikejar anjing edan. Beberapa kali mulutnya mendesis "astaga" seolah yang dihadapinya pembantaian sadis paling kejam tak terampuni.

Bukan! Bukan itu. Itu sekadar umpama, tapi memang mirip seperti itu. Padahal ia sedang bersila rapi seolah petapa agung, menanti ilham. Tapi matanya menganga menatap monitor jebot kusam 14 inci. Sesekali kepalanya mengeleng-geleng seolah berzikir. Tapi dari mulutnya tidak keluar kalimah-kalimah toyyibah atau pujian ke hadirat tuhan, melainkan babi, anjing tak ketinggalan teman-temannya seragunan diabsen! Sekali waktu, temannya yang lebih akrab disambat juga: setan dan iblis!

Jangan Air Putih Aja!

Pagi yang murung, seperti akan hujan, tapi tak segerimis pun. Pukul 07.00 padahal, tapi matahari ogah-ogahan menggeliat, kendati untuk sekadar melongok mayapada. Mungkin dia heran kenapa sepagi ini saya sudah keluyuran hendak sarapan.

Bersama dua sahabat, saya mengisi perut di sebuah warung makan, di bilangan Salemba. Letaknya di sebuah gang, kelurahan Kenari.

Waktu: Apa Kabarmu, Sayang?

Waktu. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari peristiwa ke peristiwa. Mengelus kepala anak yatim di panti, kemudian melakukan lobi politik di atas ranjang. Makan siang bersama kolega. Ke luar kota lagi. Memberi ceramah, kemudian membunuh. Mencopet. Menenggak alkohol. Ke rumah ibadah sebentar, lalu korupsi. Menipu teman. Dikejar-kejar wartawan. Bertapa di gunung. Membuka e-mail dan Facebook. Membikin janji.

Membuka komputer, kemudian bermain spider soliter. Berziarah, mengunjungi kakek nenek di kampung. Berkenalan. Tukar nomor ponsel. Plagiat karya ilmiah. Disita rentenir. Menggadaikan barang. Memfitnah orang baik-baik. Menelepon dengan koin. Membuat puisi. Mendengarkan tembang kenangan. Mengingat kekasih. Membeli parfum. Pergi ke mal. Mengemis. Berobat ke dokter. Menggugurkan janin. Membaca buku. Menggiring kerbau.

Kampret, Antum!

Di beranda mesjid itu, Budi dan Yamin duduk sambil memandang taman yang terhalang pagar kawat setinggi orang dewasa. Masjid sudah sepi karena Ashar memang hampir berakhir.

Tak biasanya, di taman, sore itu sepi. Mungkin karena sebelumnya hujan mengguyur kota kecil itu sehingga orang-orang malas keluar. Hanya pohon-pohon cemara dan palem tampak basah, tanah basah, bunga-bunga dan rerumputan basah. Dan jalanan tembok yang membelah taman kelihatan licin. Bangku-bangku tembok kelihatan lengang dan basah.  

Jumat, 22 Mei 2026

Menipu Tuhan dan Setan

Soal tipu-menipu dengan ragam modusnya yang dilakukan pejabat kepada rakyat adalah hal yang biasa saja. Misalnya dengan mengoplos pertamax dengan pertalite yang merugikan negara sekian triliun. Sudah bukan isu lagi. Sungguh hal yang demikian terlalu sering sehingga semua orang menganggap angin lalu sambil mengutuk sih. 

Namun, sebagaimana lumrahnya kasus tipu-menipu yang lain, beberapa minggu kemudian lenyap informasinya. Sebab apa? Ada tipu-menipu yang baru oleh pejabat lain. Rakyat mengutuknya pula, kemudian melupakannya.

Tuhan Maha Jomblo

Sebagaimana tertera di dalam kitab suci yang sering dibaca sebagian umat di malam Jumat, “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36].

Tidak cukup sekali rupanya Tuhan mengatakannya. Cek saja di ayat lain, “Dan Dia telah menurunkan dari langit air, maka Kami keluarkan dengannya berpasang-pasangan dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam (warna dan rasa) (Thaahaa: 53). Saya temukan juga di ayat-ayat lain di surat berbeda. Tapi tak perlulah diseret semuanya ke sini, bukan?

Minggu, 10 Mei 2026

Mana Akhir Septembermu?

Di dalam kamar kost 3x4 yang nyaris tak pernah rapi, yang masa kontraknya habis tanggal 10 September, sambil tengkurap, dia menghitung, mengira-ngira, beberapa orang yang jadi target. Di pikirannya muncul beberapa nama, Asep, Abun, Bowo, Acil, Luqman. Dia mendata nomor-nomor telepon yang bisa dihubunginya, kenalannya atau saudaranya. 

Melarung Suntuk ke Senen

Sore tadi, untuk mengusir suntuk, aku jalan-jalan ke Senen. Lebih tepatnya terminal Senen. Ke terminal, bukan hendak pergi ke mana-mana, tapi memang ke situlah tujuannya. 

Singkatnya begini, jika Saudara masuk ke terminal itu, tengoklah sebelah kanan, di sana berbaris toko-toko memajang buku-buku. Tentunya menghadap keramaian. Di situ bertumpuk-tumpuk buku, berjajar. Buku apa saja. Mulai dari komik, majalah, tabloid, buku pelajaran. Mulai dari buku ekonomi, manajemen, sejarah, sastra, budaya, musik, menu makanan, agama, hingga biografi. Dari mulai buku tua sampai yang terbaru. Buku asli hingga bajakan.

Maaf, Bajingan Lipsing!

Sabtu siang di bawah terik matahari pukul sebelas, beberapa bulan lalu. Sabtu yang lain dari ribuan Sabtu yang pernah kutempuhi. 

“Bujangan..., bujangan…, Bujangan..., bujangan...” 

Suara itu meluncur dari pita suara seorang pria, kutaksir usianya 50 tahun, yang berjalan di pinggir jalan Legoso, Ciputat. Pakaiannya serba hitam dengan kepala ditutup belitan kain hitam juga. Selintas kulihat mukanya dibaluri keringat. Di perutnya tergantung sound berwarna hitam dengan panjang 2 jengkal orang dewasa kali satu setengah jengkal. Di belakangnya, seorang gadis kecil berkerudung kecil, dengan jari tangan menjepit plastik bekas wadah permen.

Sabtu, 09 Mei 2026

Cinta yang Tak Perlu Dipahami

“Pahamilah aku! Kamu tak pernah bisa memahamiku,” katamu suatu ketika. 

Mendengar perimintaanmu, aku kaget bukan main. Untuk beberapa saat aku diam tak menanggapi karena tak tahu harus berkata apa. 

Kamu diam, mungkin menunggu aku bicara. Setelah berapa lama diam, terpaksa aku bersuara.

Minggu, 03 Mei 2026

Al Hafiz Kurniawan, Pemotor Budiman Jakarta

Jika saya bernasib jadi dewan juri yang bertugas menentukan pemotor budiman di Jakarta, maka pilihan tak akan jatuh ke pihak lain, tapi kepada Al Hafiz Kurniawan. Bukan karena dia sahabat saya, tapi karena benar-benar dia budiman. Jika dewan juri lain mengajukan nama berbeda, saya akan bantah dengan menunjukkan kebudimanannya panjang lebar. 

Saya akan mengungkapkan perilaku Al Hafiz Kurniawan di jalanan dengan detail, baik ketika matahari menyengat maupun saat bulan temaram. Baik di gang sempit atau di jalanan raya. Semua akan saya jelaskan dari “Alif” sampai “Ya” dari A sampai Z. Ditambahkan sedikit bumbu pemanis tidak masalah ya, biar agak sedap.