![]() |
| Kawan saya yang menjemur celana di pinggir jalan |
Dia mengenakan jaket jeans warna biru, membungkus tubuhnya yang berkameja biru juga. Kemeja luntur; saking sering mengalami siklus direndam- digilas- dicuci-dijemur-dipakai-ditiduri, dikeringati-didekili-direndam lagi. Jika pabriknya melihat kemeja itu sekarang mungkin akan mati-matian menolak pernah memproduksinya.
Sementara celananya hitam tanpa bekas setrika sedikit pun. Mungkin tak pernah digosok sama sekali. Seumur-umur. Alas kakinya sandal kulit berwarna hitam yang kondisinya juga tak usah dijelaskan.
Dia menghadap jalan raya, berdiri tegak lurus dengan kepala persis di bawah matahari. Pekik klakson angkot dan jerit mesin di depannya, diabaikan. Orang lalu-lalang, menyeberang, atau tergesa meneduh, tak jadi perhatiannya sama sekali. Mungkin langit runtuh dan bumi rengkah-belah pun tak akan membuatnya beranjak. Seperti arca.
Mukanya berlelehan keringat campur daki mengental. Lalu lambat-laun merayapi inci per inci pipinya karena terik pukul 13.00 persis di ubun-ubun. Segenap panas ciptaan tuhan sejak miliaran tahun lalu fokus di batok kepalanya.
Sesekali dia menyeka mukanya dengan punggung telapak tangan. Dalam kondisi seperti itu, dia sempat membaca pesan singkat tak mengindahkan matanya yang mungkin silau. Entah isinya apa.
Saya yang tak jauh dari patung itu, bernaung di halte bersama orang-orang antipanas. Tak kuasa saya menahan heran melihatnya. Dan, oh, perawakan itu, rambut dan gaya pakaiannya, semestinya saya mengenalinya.
Namun, upaya mengenali sosok itu dikaburkan pertanyaan yang susul menyusul. Pertanyaan pertama mendesak, kenapa dia bertahan di tempat panas? Kenapa tidak meneduh di halte? Mungkin dia antihalte? Sejak kapan? Sampai kapan? Apa dia sedang berkultivasi menyerap energi matahari?
Lalu saya kembali mengenali sosoknya. Penasaran begitu membetot pikiran dan tubuh saya. Saking penasarannya, saya pun mendekatinya. Benar saja, teman saya. Teman yang mengalahkan saya di papan catur. Otodidak ulet dari ujung utara pulau garam.
Setelah di sampingnya, tak langsung bertanya, melainkan menawarkan rokok kretek yang tinggal satu. Tapi dia menolaknya. Sambil menyeka keringat, dia memberi isyarat, rokok tersedia.
”Eh, kenapa Saudara panas-panasan begini? Apakah Saudara antihalte yang dibikin pemerintah? Apakah Saudara antipemerintah? Sejak kapan? Sampai kapan? Buat apa?”
Saya bertanya susul-menyusul berhamburan seperti kelereng dijatuhkan dari kaleng.
Dia cuma tersenyum. Kemudian lirik kanan-kiri. Lalu berbisik.
”Jangan banyak bacot! Celana gue masih basah. Ini lagi dijemur!”
Saya dan dia tertawa di pinggir jalan raya Ciputat, beberapa depa dari halte bikinan pemerintah. Tawa kami menyatu melawan pekik klakson dan jerit mesin, di bawah terik matahari pukul 13.00. Segenap panas ciptaan tuhan sejak berabad-abad lalu itu fokus di batok kepala kami.
Ciputat, 2010
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar