Lalu, saya teringat dengan 3 Bunyamin lain, yang semuanya terkait Tasikmalaya. Pertama, KH Abun Bunyamin putra KH Ruhiat yang pernah memimpin Cipasung.
Kedua, KH Abun Bunyamin, santri Cipasung asal Sumedang yang kini jadi Rais Syuriyah PWNU Jabar dan pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.
Dia mengembangkan pesantrennya tanpa lelah hingga beranak-pinak di beberapa daerah. Dengan memadukan metode klasik dan modern, pesantrennya berkembang hingga perguruan tinggi.
Ketiga, KH Aban Bunyamin yang saya temui siang ini. Pertama kali melihatnya pada 2020 saat dia berdoa pada penutupan sebuah acara. Roman mukanya teduh menyiratkan kedalaman dari pengalaman dan bacaan.
Sepertinya dia tak banyak berbicara. Ketika diminta berdoa, tak perlu berpanjang kalam tentang hal-hal tak berkaitan selain mengajak hadirin menengadahkan tangan ke langit.
Ajengan kelahiran 1943 ini mengaku jadi anggota NU sejak usia 18 tahun melalui organisasi pelajar, kemudian pemudanya. Aktivitas itu dijalaninya saat jadi santri Cipasung saat kepemimpinan Almaghfurlah KH Ruhiat. Sekarang jadi Rais Syuriyah Kota Tasikmalya dengan catatan mengikuti 6 kali muktamar.
Keempat, KH Yayan Bunyamin, ajengan termuda dari 3 Bunyamin sebelumnya. Dia kelahiran Tasikmalaya dan sedkit banyak sanad keilmuannya terhubung juga dengan Cipasung.
Ajengan Bunyamin keempat lain dari para seniornya. Selain penulis buku, dai kondang yang menjelajah Jawa Barat hingga pelososk, juga Jawa Tengah dan Timur. Dia juga kerjaannya mengamati kitab-kitab klasik yang jarang dimiliki orang.
Kegemarannya mendengarkan musik dan nonton film India. Penikmat Iwan Fals dan Doel Sumbang. Selain itu, dia pengamati pantat-pantat: pantat truk dengan segala coretannya yang tak terduga dan jarang terpikirkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar