Sabtu, 23 Mei 2026

Jangan Air Putih Aja!

Pagi yang murung, seperti akan hujan, tapi tak segerimis pun. Pukul 07.00 padahal, tapi matahari ogah-ogahan menggeliat, kendati untuk sekadar melongok mayapada. Mungkin dia heran kenapa sepagi ini saya sudah keluyuran hendak sarapan.

Bersama dua sahabat, saya mengisi perut di sebuah warung makan, di bilangan Salemba. Letaknya di sebuah gang, kelurahan Kenari.

Suasana warung tidak begitu ramai. Hanya beberapa orang khusuk dengan sendok dan piring. Menyuap nasi tanpa salah sasaran. Dua tiga orang pelayan sedang mengolah makanan di belakang sambil menonton televisi. Warung ini tampak rapi dan bersih.

Menu segar tersaji di lang. Asap makanan yang baru diangkat dari wajan masih mengepul. Menggugah selera. Perut menggeliat-geliat, seolah dia melihat sendiri menu itu.

Setelah dua sahabat asyik dengan sarapannya, giliran saya ditanya pelayan, "Makannya sama apa, Mas?" tanyanya.

"Sama sayur bayam, teri, dan bala-bala," jawab saya.

Dia pun segera mengisi piring berisi nasi itu dengan lauk yang telah saya sebutkan. "Entah yang keberapa kali dia menciduk nasi dari bakul itu selama jadi pelayan?" tiba-tiba pertanyaan itu menggelitik. Hampir saja tertawa dengan pertanyaan konyol itu.

"Minumnya apa, Mas?" tanya pelayan itu, ramah.

"Air putih aja," jawab saya.

Dia pun menuangkan segelas besar air putih, lalu diletakkan di atas lang. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya di belakang.

"Air putih itu sebagai pilihan!" tegas teman saya, di samping, sambil mengunyah makanan.

"Iya," saya mengiyakan meskipun belum tahu apa yang diinginkan kalimat-kalimatnya.

"Jadi, kamu tidak usah pake "aja". Kalau pakai kata "aja", itu merendahkan derajat air putih. Seolah-olah itu pilihan tak berdaya," jelasnya.

Saya berhenti mengunyah. Giliran pikiran yang mengunyah. Nikmat sayur bayam bercampur teri dan bala-bala, tiba-tiba tawar saja. Baru nikmat sedikit saja sudah diteror pernyataan muskil.

Dia paham saya butuh penjelasan.

"Coba aja bandingkan dengan pernyataan berikut ini, ketika ditanya pelayan, 'Mas, minumnya apa?' kemudian kebetulan kamu menginginkan teh manis, jus, atau minuman lain. Pasti kamu tidak pake "aja", bukan? Tapi bilang teh manis. Tanpa aja!" jelasnya.

"Lalu, pertanyaannya kenapa air putih memakai "aja"?" sambungnya.

Sedikit terang pikiran saya. Dan diam-diam mengiyakan penjelasan jebolan pesantren Lirboyo, Jawa Timur ini. Dia asyik kembali dengan piring dan sendoknya. Kemudian saya juga mengunyah nasi bersayur bayam.

Tiba-tiba di benak, melintas tegas sosok ibu saya. Ingatan menyeret ketika saya kecil; ibu sering menyayurkan bayam. Dia tidak pernah menanamnya, tapi bayam itu bermurah hati tumbuh di kebun kami. Ya, dia ibu, yang tak pernah melepas saya pergi sebelum sarapan.


Kenari 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar