Sabtu, 23 Mei 2026

Kenapa Maria Menangis?

"Wah, kita terlambat," kata Pak Aang.

Saya tidak menanggapi karena belum tahu terlambat apa.

Di dalam, anak-anak Puspita; Key, Usman, Tommy, Epul, Linda, Tari dan Witri sedang duduk melingkar bersama pak Iwan, seorang relawan Puspita. Sepertinya mereka sedang mengomentari kegiatan talkshow yang baru saja usai. Sementara Veni sedang belajar baca al-Quran bersama kak Syahrozy. Di bagian terpisah Aisyah dan Maria duduk berhadapan. Keduanya menangis tersedu. Selintas keduanya sedang berlomba tangis.

Kenapa kedua anak ini? Ah, barangkali habis berkelahi. Namanya juga anak-anak. Demikian bisik hati saya.

Pak Aang berbisik sama Witri. Sementara Umi mendekati Maria. Dua telapak tangannya memegang pipi Maria yang memerah, sementara kedua ibu jarinya menyeka langsung dari sumber air mata itu. Ibu dua anak ini memang memperlakukan anak-anak Puspita sebagaimana anaknya.

Sementara Maria masih sesenggukan.

"Ciluk,….." tangan Umi menutup seluruh wajah Maria.

"Ba…"

Maria sedikit senyum.

"Aisyah, kamu jangan menangis. Seharusnya kamu nyanyi Chaiya, Chaiya, menghibur Maria," kata Umi pada anak di sampingnya sambil menirukan gerak tangan Briptu Norman yang tak asing lagi.

Tanpa diterangkan, sepertinya Umi sudah paham apa yang baru saja terjadi, meski dia tak menyaksikan sendiri.

Sahalat Isya pun didirikan. Tapi saya masih penasaran kenapa Maria menangis. Pak Aang sepertinya paham pertanyaan saya. Dia memanggil Witri. Kemudian anak itu memberi penjelasan dalam bentuk tulisan, satu setengah halaman.

Tulisan itu menjelaskan talkshow yang baru saja berlalu bertema My Parent. Beberapa anak tampil membawakan puisi tentang ayah dan nyanyian juga bertema ayah.

Ternyata, tema itu menyentuh dasar jiwa Maria. Dia bernama lengkap Maria Sahara Rangkuti. Sejak lahir sudah sebatangkara. Kemudian diangkat anak oleh sebuah keluarga. Di keluarga itu yang paling bisa menerimanya, adalah ayahnya. Sementara yang dia anggap ibu justru sebaliknya. Bahkan dia sering menyiksanya.

Baru pada usia 13 tahun dia diberi tahu bahwa mereka bukan orang tua kandung. Sebenarnya Maria sudah menyadari hal itu sebelumnya. Tapi ketika mendengar langsung, dia pun syok.

Dan kini, orang yang selalu melindungi dan mengayom Maria, menderita stroke sejak dua tahun lalu. Selain itu, betapa susah dia ketemu ayah, karena selalu dihalang-halangi sama ibunya. Dan tema My Parents jelas-jelas menggugahnya.


Puspita, Duren Sawit, April 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar