Minggu, 12 April 2026

Dari Goodbye My Blues hingga Indonesia Raya: Kisah Teman yang Berjuang Melawan Dirinya

Goodbye My Blues menyambut kedatanganku ketika melongok ruangan 4x4 meter. Goodbye My Blues pula yang menyambutku beberapa waktu lalu. Sepertinya karya emas Time Bomb Blues ini telah menyatu dengan penghuni dan segenap isi ruangan berdinding muram ini.

Aku mendapati penghuninya sedang tertekur membaca buku di pojok ruangan. Melihat kedatanganku, dia melepas buku itu dengan enggan seolah pemburu yang mendapati buruannya terusik, dan kabur. Tapi ia berusaha menyungging sebentuk senyum.

"Sorry gua ke toilet dulu," katanya, seolah kedatanganku merangsangnya membuang sesuatu.

Saat itulah aku gunakan untuk menyimak kamar kosnya. Di samping pintu, di bawah jendela nako, berdiri dispenser berwarna putih merek Miyako. Di kepalanya bertengger galon tak bermerk. Isinya tinggal separuh. Di sekitar dispenser, berserakan gelas-gelas kotor, seolah anak-anak kudisan tak terpelihara yang mengelilingi ibunya yang juga tak sehat. Satu gelas bertangan belepotan kopi mengering dan muk berukuran satu jengkal, terlihat sebagai anak yang paling tua, tapi nasibnya tak jauh beda. 

Di sampingnya tergantung kantung plastik putih, yang ketika kuperiksa berisi cangkang rokok kretek berbagai merk. Di dinding sebelah kanan terlihat ramai, kertas yang tergantung berisi tulisan dengan spidol: Kutanya Tuhan dengan rasioku kata kau tuhan seperti cinta susah dirasionalisasikan, tapi kenapa kau gugat agama dan kepercayaan orang lain dengan rasiomu. Tulisan itu ditempel dengan lakban berwarna hitam.

Di bawah kertas itu menancap satu paku, tergantung kaus oblong yang sepertinya belum dicuci. Di sampingnya ditempel gambar perempuan yang menghadap siapa pun yang melihatnya. Gambar itu berwarna biru tua yang bercampur hitam. Di pojok atas gambar itu ada tulisan: kopi dan rokok adalah teman ketika pekerjaan menggila.

Di bawah gambar itu ada tulisan: One day death will come for us all. This is my choice This my way. Unforgiven for you.

Di bawahnya lagi, ada lingkaran yang penyok yang memiliki garis-garis diagonal. Di dalamnya terdapat sebuah nama yang tak perlu dicantumkan, yang diakhiri kata mampus. 

Dinding di hadapanku ada dua gambar tokoh berkacamata. Tak ada penjelasan tentang tokoh itu. Di atas gambar itu ada perempuan yang sedang menangis merangkul kedua kakinya.

Pandanganku beralih ke tembok sebelah kiri. Aku langsung terkejut karena di situ terdapat gambar tiga seni bunuh diri. Pertama satu pistol mengarah ke batok kepala. Kedua, satu belati menghunjam perut. Ketiga, satu botol bermerk Baygon menyentuh bibir. Aku yakin penghuni kamar ini yang membuatnya.

Goodbye My Blues berulang-ulang memenuhi ruangan seolah tak ada lagu lain di dunia ini. Temanku memang hanya memasang satu lagu itu di Winamp komputer kremnya yang berpentium paling rendah dengan hard disk tak lebih dari 16 GB. 

Entah kenapa petikan gitar berimpitan dengan terompet Goodbye My Blues mendayu-dayu menggiringku ke antah-berantah, menyeret ke kesendirian yang menikam, ke malam-malam yang sepi tanpa tepi, ke kehilangan yang getir.

"Sorry agak lama," katanya. Dia kembali ke tempat semula, di pojok ruangan.

Aku tak menanggapinya karena lebih tertarik perihal lukisan tiga seni bunuh diri. 

"Bung, elu yang melukis itu?" 

"Iya. Kenapa?" 

"Sayang sekali. Obsesi elu tak akan kesampaian dengan tiga seni itu." 

"Kenapa?" 

"Elu tak memiliki semua perangkatnya. Pistol jelas enggak punya. Belati juga tidak ada? Gua juga tak bisa berbuat banyak untuk membantu elu. Baygon? Gua rasa sekarang elu enggak punya sepeser pun. Untuk itu, gua bisa membantu, nih!" kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang. 

"Semoga sukses! Selamat malam!" 

Aku pergi. Sementara di belakang, petikan gitar dengan terompet Goodbye My Blues masih berimpitan seperti menahan kakiku dilangkahkan. 

Goodbye my blues...
dont say goodbye to me
Goodbye my blues...
dont even say goodbye to me

***

Di ujung malam, tak biasanya jalan Pesanggrahan terasa sepi. Bertahun-tahun aku lewati jalanan ini, tapi tak sesepi malam ini. Tiga war, warnet, wartel, warteg pada tutup. Tapi aku terus menyusurinya.

Dulu, tiap lewat jalanan ini pasti bertemu teman-teman. Namun, kini mereka sudah berhambur berpencaran menempuh jalan masing-masing dengan jalan, selera, dan suratan sendiri-sendiri. 

Setelah terus berjalan, ternyata masih ada kehidupan yang sepertinya pada sebuah warkop.

Kira-kira sepuluh meter lagi, aku melihat sosok berambut gondrong berpakaian serba hitam. Dari perawakannya, sepertinya aku kenal. Semakin dekat, sosok itu tampak jelas. Ya, betul, temanku. Tapi agak ganjil terlihat malam ini. Dia sempoyongan, laiknya Wong Fei Hung menggunakan jurus andalannya atau Li Sun Hoan saat mengangeni Lim si Im. 

Namun, sepertinya temanku malam tidak sedang melawan musuh, tapi dirinya sendiri.

"Heh," dia menghardikku. 

Tatapannya tiiba-tiba menggerakkan bulu kudukku merinding karena sorot matanya lain dari biasanya. 

"Mampir dulu. Lu mau minum apa? Gua bayarin! Apa aja? Soda susu! Kopi! Teh manis! Elu mau rokok apa? Gua bayarin. Dji Sam Soe? Super? Gua bayarin. Duit gua kan banyak hahaha."

Tapi diam-diam dia merebut rokok yang terselip di jari tanganku. Kemudian mengisapnya dengan rakus. 

"Heh, kebetulan, elu kan suka nulis. Gua tunggu satu tulisan. Ceritakan keadaan gua sekarang. Terserah apa saja. Gua enggak akan nuntut apa pun. Gua enggak akan marah."

"Oke, oke, gua tulis,” kataku gelagapan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi temanku ini yang tak biasanya. “Pertemuan malam ini jadi ujung dari tulisan yang pernah gua ceritakan." 

"Tulisan yang mana?" 

"Itu yang diawali Goodbye My Blues." 

"Iya. Terserah." 

"Elu tahu sendiri kan, gua anak kiai, gua anak ustadz." 

"Iya tahu." 

"Menarik, kan?"

Kemudian dia meracau apa saja hingga terguling-guling di tanah. Celananya yang longgar semakin melorot hingga kolornya yang juga berwarna hitam kelihatan. Resleting dol, sandal jepit warna biru putus, kaus oblong yang dikenakannya kini dipenuhi debu.

Sambil berguling-guling kemudian duduk dia berteriak.

"Abdullah Alawi sebagai Grandong, Rony Tua Harahap sebagai Mardian, MS Wibowo sebagai Mak Lampir dan Pandi Merdeka sebagai Kala Gondang hahaha."

Teriakan brengsek semacam itulah yang sering diracaukan di luar kamarnya. Belakangan aku selalu heran dengan teman satu ini. Perilakunya, secara sederhana bisa dibedakan antara luar kamar dan dalam kamar. Di dalam kamar, dia akan terlihat menyendiri kesepian, tak banyak bicara, dan apatis. Tapi jika di luar, dia akan liar, kacau, sering berteriak seperti malam ini.

Sejurus kemudian, gerakannya makin liar, beberapa kali hampir menubruk dinding warkop, tapi instingnya berhasil mencegahnya. Lalu duduk di tanah lagi.  

Lalu sudut matanya melirik botol persegi di tanah, dia mengambilnya lagi, menenggaknya. Tak setetes pun. Tapi dia tetap menuangkan berkali-kali. 

"Rupanya botol keparat itu penyebabnya," desisku dalam hati.

Pelayan warkop menatap risih, tapi tak bisa berbuat banyak. Lagi pula keduanya saling mengenal. 

Aku mengambil sebatang rokok. Menyalakan geretan. Tapi secepat kilat temanku mengambil, lalu melemparkannya. Kemudian tawa berderai. Saat itulah aku memerhatikan kaus oblong hitamnya. Di dada terdapat garuda dengan tinta emas, di bawahnya ada tulisan Indonesia Raya berwarna putih.

Sepertinya dia tahu aku memperhatikan kausnya. 

"Hiduplah Indonesia Raya..." dia mulai bernyanyi seraya mengangkat kedua tangan ke udara dengan gerakan lentur semacam dirigen di upacara bendera Senin pagi di sebuah sekolah. Namun, di hadapannya tak ada pasukan yang berbaris. 

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku 

Tak tahu hingga bait mana dia menyanyikan lagu kebangsaan itu karena aku harus pergi dan tak berupaya bertahan lebih lama di situ. Setelah menitipkan teman ke tukang warkop, aku beranjak, membiarkan dia berjuang habis-habisan dengan nasionalisme menggelegak, membela tanah air dalam dirinya untuk melawan musuh dalam dirinya. 

Pesanggrahan, Ciputat 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar