Jumat, 10 April 2026

Kisah Punya Akun Facebook dan Blog atawa Setahun Sudah Sempurna Iman dan Jadi Insan Kamil

April 2009 lalu, saya ngekos di Sedap Malam bersama seorang teman yang belum lama membeli ponsel merk Smart. Ternyata, ponsel itu bisa dijadikan semacam modem unlimited selama beberapa bulan. Mungkin karena itu, dia membelinya. Tak heran, tiap malam, waktunya dihabiskan untuk berselancar di dunia maya.

Suatu ketika, teman saya itu menyarankan membuat Facebook. Tapi saya tidak menghiraukannya karena lebih tertarik bermain game balap motor, mengalahkan Rossi dalam dunia yang tidak nyata pula. Saking seringnya, saya menjadi lihai dan ditakuti para “road race” lain. Saya pernah mengejek mereka dengan perkataan seperti ini, “Kok saya susah kalah. Bagaimana caranya supaya kalah?”

Di waktu lain, saya diundang kongkow bersama teman-teman forum diskusi. Ujung-ujungnya mereka membincang pendapat seorang tokoh. Keluarlah kosa kata lain, tautan, status, commentar, add, konfirm, group, profil. Ketika saya tanyakan, semua itu dirangkum dalam sebuah kata: FACEBOOK.

Saya cuma melongo persis kebo bego.

“Sudah bikin FB belum?” tanya salah seorang. Pertanyaan bernama dakwaan itu, akhirnya keluar juga.

“A..a..apa lagi tuh?”

“Ya, Facebook.”

“Lakadalah, lagi-lagi Facebook. Lagi-lagi Facebook.”

“Bikinlah, supaya iman elo sempurna! seru yang lain.”

“Hahaha...”

Saya pun ikut tertawa, menertawakan diri sendiri.

Ketika pulang, saya langsung mengambil alih posisi di komputer. Bikin FB dengan mursyid teman sekamar, supaya tidak tersasar.

Lega rasanya setelah saya masuk ke situs pertemanan itu, iman jadi sempurna. Permasalahannya sekarang adalah, saya muskil bikin status. Sepertinya perlu kursus! Beberapa menit berlalu. Hanya memelototi kotak “apa yang anda pikirkan.”

“Seperti Ebtanas aja?” kata teman.

Tetap saja susah bikin status. Maklum pertama kali. Ternyata sempurna iman itu susah diaplikasikan.

“Mau bikin skripsi di FB?” tanya teman lagi.

“Sialan!”

Akhirnya status pertama pun terbit, demikian, “seperti seorang petani yang metembeyan, saya melapal rajah pengusir hama. Semoga saya dapat mengusir hama dalam diri.”

Saya lupa, entah berapa teman yang komentar atau yang menyukai status itu. Karena status itu begitu mudahnya terlindas status-status lain. Bertumpuk-tumpuk dengan arwah status lain di dunia antah-berantah.

Beberapa hari kemudian, saya dikunjungi seroang kawan. Ketika melihat ada tanda-tanda koneksi internet di komputer, dia meminta untuk update status, saya pun mengikhlaskannya.

Beberapa menit dia khusuk chat, bikin status, menanggapi komentar dan berkomentar status teman-temannya. Kemudian dia mengklik new tab, kemudian menulis alamat situs.

“Sudah punya FB?” tanyanya, sambil menyalakan sebatang rokok.

“Sudah. Add ya. Iman gue sempurna,” jawab saya.

“Hahaha....tapi, elu punya blog belum?”

“Belum.”

“Nah, berarti elu belum jadi insan kamil.”

Saya jadi terperengah. Menjadi terdakwa dari sebuah gaya hidup yang belum dipenuhi.

“Gue bikinin ya.”

“Oke. Silakan.”

Saya namai blog itu “Pamanah Rasa” dengan jargon “di kiwari ngancik bihari seja ayeuna pikeun jaga” yang beberapa bulan lalu diganti menjadi: ("tidak untuk, bukan karena") dengan alamat “abdullahalawi.blogspot.com.” posting pertama berjudul “Tahi.”

Sekarang, setahun sudah saya “sempurna iman” dan “insan kamil”.


Semanggi, 9 April 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar