Selasa, 30 Juni 2026

Rambutan Belakang Rumah, Berbuah Saban Musim Tanpa Kirim Tagihan

Di belakang rumahku, dekat sumur yang kini sudah tak difungsikan, tumbuh sebatang pohon rambutan. Sebentar, pohon ini tak perlu nama ilmiah seperti dalam pelajaran biologi. Tak perlu sama sekali. Seolah-olah nama rambutan tidak ilmiah. Bagaimana kurang ilmiahnya rambutan untuk menamakan rambutan. Buahnya memang penuh rambut. Kalau nama berbeda, silakan saja. Misalnya disebut pohon capres atau parpol untuk pohon yang sama. Namun, jangan katakan tidak ilmiah. Buukankah hukum nama adalah manasuka?

Pohon rambutan di belakang rumah itu tak jauh umurnya denganku. Meski hampir seumuran, karena pohon ituu hasil stek, dia cepat berbuah. Sementara aku belum. Entah kapan. 

Nah, jika ada orang dari kalangan mana pun, baik dari kelompok kebatinan atau politik yang cepat berbuah, patut dicurigai dia hasil stek. 

Buah rambutan di belakang rumahku tak pernah dijual, melainkan dikonsumsi begitu saja sekeluarga, dibagikan ke saudara dan tetangga.

Namun, jauh sebelum dinikmati bersama, ketika buahnya mulai menguning, aku sudah menggasaknya perlahan-lahan. Sepulang sekolah SD, aku sudah bergelantungan di dahan-dahannya. Setelah kenyang, baru turun karena aku tak mungkin hidup seterusnya di pohon itu. 

Asal tahu saja, menikmati rambutan di atas pohonnya ternyata beda dengan makan di kamar mandi atau tempat tidur. Soal perbedaannya, sukar dilukiskan dengan kata-kata. Maka tak perlulah diumbar di sini. 

Begini, buah rambutan dikupas, terus cangkangnya dijatuhkan begitu saja tanpa kutengok lagi seumur hidup, meski ia telah berjasa membungkus buahnya sedari muncul. Tapi kadang ada gunanya. Ketika teman lewat, kulempar dia. Kaget bukan main dia. Kemudian melempar balik dia. Perang saudara peluru cangkang rambutan pun tak terelakkan. Kemudian kami melakukan gencatan senjata dengan sama-sama menikmati buah manis dan mengandung banyak air itu.

Sekali waktu, malam-malam aku kepingin juga makan rambutan. Namanya keinginan yang memang kadang tak mengenal waktu. Selepas ngaji, aku naik ke pohon diam-diam seperti pencuri di pohon milik Pak RT. Tidak takut sama siapa pun sebenarnya, di samping kuhafal setiap cabangnya. Tapi maklum tak ada matahari di malam hari, kakiku menginjak dahan yang masih kecil dan tanganku tak gesit berpeganganan ke dahan kokoh; kepeleset, lalu jatuh tanpa menikmati sebiji pun. Untung tidak cedera, karena pohonnya rendah.

Terkenal di kampungku rambutan aceh. Tidak tahu karena bibitnya dari Aceh atau memang namanya aceh. Setahuku Aceh terkenal bukan rambutannya, tapi kopi serta Cut Nyak Dien dan Teuku Umar pengusir Belanda. Ciri rambutan jenis itu, ngelotok jika dikupas, mudah memisahkan daging dan bijinya. Soal manis dan tidak, bukan urusan.

Ada juga rambutan yang di kampungku disebut gelong. Kupikir, ini nama serampangan karena apa pun nama dan bentuknya, semua jenis makanan, termasuk "digelong" atau ditelan. Mana mungkin makan rambutan lewat udel atau telinga, apalagi diisap melalui hidung. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak terlalu salah juga karena rambutan jenis itu susah dipisahkan antara biji dan daging sehingga cara memakannya langsung ditelan berikut bijinya. Tapi cara makan demikian menurutku tak beradab, lagi pula cepat kenyang. Saat bocah, memakan dengan cara begitu khawatir tumbuh di perut.

Belakangan aku tahu rambutan jenis itu namanya blasteran. Di kampungku, namanya disingkat dan dipermudah jadi "baster" sebagaimana "traktor" dilafalkan "laktor", "kalkulasi" jadi "kolasi". Konon, ini rambutan kawinan, entah dikawinkan dengan pohon apa kok menurutku bukan malah lebih baik. Mungkin dikawinkan sama pohon asem. Aku harap ini tak usah dinamakan rambutan karena mencoreng korps buah berbulu itu. Lagi pula namanya kurang cocok sebab yang diblaster kan tidak hanya rambutan, manusia juga. Macam orang Sunda nikah sama Eskimo, kelak anaknya disebut blasteran.

Pohon rambutan di belakang rumahku termasuk beruntung karena ia tak pernah ditempeli stiker jenis apa pun dengan cara apa pun, termasuk ditusuk paku untuk menempel spanduk caleg atau lambang partai. Nasibnya lebih baik daripada mahoni di pinggir jalan. Aku jamin ia bersih dari urusan hiruk pikuk seperti itu. Kalau layang-layang nyangkut sih sering. Tapi itu sama sekali bukan salahnya.

Sudah kubilang tadi, itu rambutan stek atau cangkokan sehingga tidak tinggi dan besar. Ketika kelas dua sekolah Aliyah, setingkat SMA, pohon jenis itu, menurut guru biologi disebut pohon katai. Mudah-mudahan tidak salah ingat. Pohon-pohon katai sekarang merajai kampungku, mulai rambutan, mangga, belimbing atau jambu. Orang-orang kampungku malas menunggu pohon yang tumbuh dari biji. Mereka ingin cepat. Wajar saja. Tapi akibatnya sekarang susah ditemukan pohon alami yang tumbuh tinggi besar dan kokoh tak tertandingi.

Pohon demikian prosesnya bisa puluhan tahun. Terakhir kulihat pohon demikian adalah kwini berdampingan, tak jauh dari rambutan itu sekarang. Kwini itu segede perut kerbau. Anak-anak sekarang mungkin tak pernah membayangkan ada pohon kwini segede itu. Tapi kini sudah ditebang. Karena itulah orang-orang kampungku sekarang kesusahan mencari bahan bangunan semisal papan atau kaso yang berasal dari kampungnya sendiri, dari tanahnya sendiri. Mereka kemudian terpaksa membelinya dari toko bangunan atau material. Rasain!

Melihat buah-buah rambutan memerah di pinggir jalan yang dijajakan di gerobak dan keranjang, membuatku ingat kampung halaman, ingat rumah, adik-adik, dan pohon rambutan. Rambutan di belakang rumah yang tak absen berbuah saban musim tanpa mengirim tagihan.


Cirebon, 16 Maret 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar