Bukan! Bukan itu. Itu sekadar umpama, tapi memang mirip seperti itu. Padahal ia sedang bersila rapi seolah petapa agung, menanti ilham. Tapi matanya menganga menatap monitor jebot kusam 14 inci. Sesekali kepalanya mengeleng-geleng seolah berzikir. Tapi dari mulutnya tidak keluar kalimah-kalimah toyyibah atau pujian ke hadirat tuhan, melainkan babi, anjing tak ketinggalan teman-temannya seragunan diabsen! Sekali waktu, temannya yang lebih akrab disambat juga: setan dan iblis!
Roni dibantai Zuma berkali-kali. Permainan yang sebelumnya dilecehkannya. Begini ceritanya.
Waktu itu menjelang subuh. Saya asyik bermain Zuma sendirian diiringi Ayu Tingting, Bang Haji, sesekali Ermy Kulit, Bob Marley dan Iwan Fals. Muncul pula The Panas Dalam. Berjam-jam menembak bola warna-warni hingga tangan pegal. Berbatang-batang rokok memuntung. Tapi cukup segelas kopi. Dan saya menang terus. Tak henti-hentinya. Sampai bosan. Tapi tak bosan-bosan!
Kemudian muncul teman sekosan saya, Pagar Dewo, panglima Yapentush, menjinjing Roni. Ia sudah paham duduk perkaranya jika saya sendirian, yaitu main Zuma. Jadi, tak berkomentar apa-apa. Sementara bagi Roni, merasa ada peluang ngecengin saya. Tanpa pikir panjang, dia berkomentar,
"Alamak, kau bermain Zuma. Permainan cupu. Mainan anak-anak."
Saya tersenyum. Tanpa sepatah kata pun, saya serahkan mouse dalam genggaman. Roni paham. Mulailah bermain Zuma, mainan cupu, mainan anak-anak.
Tapi apa yang terjadi, belum genap satu menit, bola warna-warni itu tersungkur ke lubang kematian, ditelan mulut genderuwo.
"Pemanasan!" kilahnya sambil mengulang permainan itu. Tapi hal serupa terjadi lagi.
"Pemanasan!" ia berkelit. Ia mulai lagi. Tapi kalah lagi.
"Pemanasan!" sekarang saya mendahului berucap.
Roni tak berkomentar. Ia membetulkan letak duduknya. Mukanya mulai tampak merengut. Berkali-kali ia bermain, berkali-kali juga kalah. Kemudian menghela napas, mendesis astaga, dan memanggil teman-teman seperjuangan di Ragunan.
Tak hanya itu, keringat sebesar biji jagung meleleh, merayapi wajah mahasiswa kadaluarsa ini. Ia tak sadar cairan kental asin itu menyentuh bibirnya. Tanpa tedeng aling-aling, diisapnya. Sementara jemarinya mulai mengklik mouse dengan segenap konsentrasi yang pernah dimilikinya. Ia abaikan semua yang terjadi di alam raya ini. Pikirannya fokus ke Zuma.
Dan kalah!
Ia ternyata bermental pejuang tangguh. Gamer sejati. Ia mengulang lagi. Dan kalah lagi. Mengulang lagi dan kalah lagi. Bola warna-warni tak bisa dikendalikannya sama sekali. Hanya bertahan beberapa detik saja.
Saya tidak ketawa sama sekali karena itu sudah diperkirakan sebelumnya. Saya sebagai seorang pemain Zuma kawakan hanya berkomentar, "Rasain lu!"
Itulah asbabul wurud kenapa tulisan ini diturunkan. Tujuannya untuk menjelaskan bagaimana bermain Zuma yang baik dan benar. Sebenarnya dikhususkan untuk teman saya itu. Tapi jika Saudara tertakdirkan membacanya, kemudian menimba manfaatnya, yakinlah tidak akan berdosa dan tak akan terkena pasal apa pun.
Sebelum itu, ada baiknya saya bercerita tentang dua hal, yaitu permainan Zuma dan biografi saya sebagai pemain Zuma pilih tanding yang kemudian melekat dalam nama saya.
Pertama, Zuma adalah game yang berlatar belakang suku Maya di abad pertengahan. Cara memainkannya sangat mudah, yaitu mengendalikan patung katak yang dipuja suku Maya untuk menembakkan bola warna-warni ke dalam maze dan membentuk susunan bola dengan warna yang sama.
Dalam permainan ini, menjadi individu justru kokoh tak tertandingi seperti semen Gresik, sementara berkelompok justru mudah dihancurkan. Berkelompok berarti kematian. Tidak berlaku pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Pepatah ini sering diibaratkan kepada sapu lidi. Sapu, jika sendirian akan mudah patah, tapi ketika berkelompok, bisa membersihkan lantai dan memukul anak longor.
Ada rumus-rumus umum yang memang diajarkan oleh Zuma sendiri. Seperti bom, menghancurkan pergerakan bola. Ada juga bola yang bisa memperlambat gerakan bola dan menambah daya jangkau tembakan. Permainan ini terdiri dari beberapa tingkatan. Level awal sangat mudah untuk dimenangkan. Semakin tinggi level, makin susah.
Nah, Saudara, perlu diketahui, ketika Roni datang, saya bermain Zuma di level 12 dan 13. Tentu saja Roni yang amatiran muntah-muntah.
Bagi para pemula seperti Roni, ada baiknya bermain Zuma dengan versi yang sederhana, yaitu pada level 1 hingga 5. Kalau ingin naik level dengan instan, sebaiknya belajar pada situs ini: http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/gaming/2170786-trik-curang-bermain-zuma/
Kedua, saya adalah pemain Zuma profesional. Sudah lama saya menggulati permainan ini. Dulu, saya juga seperti Roni, ditertawakan senior Zuma saya (sekarang sudah berguru juga kepada saya: Pagar Dewo). Tapi saya adalah seorang pembelajar Zuma yang ulet sampai tangan saya membengkak karena terlampau pegal. Saya mungkin mengikuti pepatah klasik: berpegal-pegal dahulu, mahir Zuma kemudian.
Karena sering bermain, saya bisa menemukan trik-trik menaklukan permainan ini. Saya beri tahu strategi saya, yaitu "hit and run" dan "divide et impera". Strategi pertama, digunakan TKR dalam pertempuran Bojong Kokokosan. Strategi ini adalah memotong ular bisa. Aplikasinya, jika ada konvoi bola panjang, segeralah potong dengan bola yang sewarna di perbatasan. Sementara strategi kedua, adu domba bola yang sewarna dengan menyusupkan bola teliksandi.
Ini hanya dua trik. Tentu saja ada teknik-teknik lain yang masih saya rahasiakan. Sebentar lagi, Zuma akan disertakan dalam PON, Sea Games, Asian Games, Olimpiade sekali pun. Saudara jangan sekali-kali jadi peserta jika nama saya tercantum. Kecuali jika niatnya penggembira saja, karena menang mustahil (termasuk pencipta Zuma itu sendiri). Saudara lebih baik bersila memanjatkan doa sekhusuk-khusuknya supaya saya urung bertanding. Atau cara-cara haram lain, misalnya menyuap panitia supaya mencoret saya. Atau bisa juga menyuap saya. Tapi jangan dilakukan, takut saya tak bisa menolak.
Saudara, sekali lagi saya tegaskan, dalam permainan Zuma, sebenarnya saya sudah tidak memiliki level. Tapi untuk memudahkan, sebut saja level "susah kalah". Pada titik ini, lawan saya bukan Zuma lagi, tapi saya sendiri.
Saudara, ketika pada level ini, ternyata hidup itu kesepian. Kemenangan bukan lagi prestise. Seperti di ruang hampa udara malah.
Saudara, kembali lagi pada Roni, pemain Zuma amatiran. Setelah kemenangan tak mungkin, ia menyarahkan mouse pada ahlinya, kepada tangan yang benar: tangan saya. Kemudian saya mainkan bola-bola itu. Dan, hanya satu menit, level 12, track pertama saya selesaikan.
"Wah, elo main kayak koboy aja," komentar Roni.
Saya tidak bangga karena memang demikian adanya. Tidak seperti pemain bola bikin gol lalu berlari seolah maling jemuran dikejar warga.
Tapi unik juga kehebatan saya dibilang koboy. Gelar yang spontan, keluar dari lubuk hati yang dalam dan tulus. Ini menunjukkan ia tak memiliki perbendaharaan kata untuk menjelaskan kehebatan saya.
Barangkali, terbetik di hati Saudara, bahwa saya pembohong belaka. Kalau demikian, sekali waktu, Saudara bisa menyaksikan kekoboyan saya. Tapi ingat, dengan bahasa yang layak dan bermartabat, jangan menantang saya. Ingat, saya bukan tandingan Saudara!
Butuh waktu lama untuk mengalahkan saya. Tapi saya sarankan dua hal. Pertama, berlatih yang keras. Kedua, berdoa kepada tuhan maha menembak.
Ciputat, Oktober 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar