Aku kaget mendengar kalimatnya itu, seperti baru saja mendengar vonis kematianku sendiri. Aku tak habis pikir mengapa demikian. Apa salahku? Padahal beberapa detik yang lalu aku masih ketawa-ketiwi dengannya, bernyanyi, dan bercerita. Ah, betapa cepat dunia ini berbalik.
Beberapa saat aku mematung, tapi pertanyaan beronggok-onggok memenuhi tempurung kepalaku. Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Beberapa saat aku tak bisa berkata apa-apa. Sementara dia tak berniat mencabut kalimat-kalimatnya. Malah seperti ada kepuasan melihat korbannya tak berdaya.
Seketika aku ingat lirik The Panas Dalam yang berjudul "Lagu Timur":
Jangan takut preman
Preman juga makan nasi
Jangan takut polisi
Kalau tidur kita gilas
Jangan takut tentara
Tentara juga punya isteri
Jangan takut Mak Lampir
Mak Lampir itu Parida Pasa
Jangan takut tetangga
Rumah kita pakai pagar
Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup sendiri
Jangan takut pada ibu
Ibu uangnya dari ayah
Jangan takut neraka
Banyak ibadah masuk surga
Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup
Sendiri
Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup
Sendiri
Jangan takut pada siapa pun. Bahkan neraka sekali pun. Tapi takutlah jika dijauhi teman-teman. Sepi hidup sendiri. Betul juga peribahasa seribu teman masih kurang, sementara satu musuh lebih dari cukup.
Dan sekarang di hadapanku, tanpa tedeng aling-aling, ada yang mendeklarasikan bukan temannya lagi. Ini persoalan serius! Aku harus segera membicarakannya.
"Rika, kenapa?" tanyaku.
"Aku bukan temanmu lagi!" pekiknya sambil membalikan badan, kemudian berlari. Aku hanya menatap kepergiannya. Rambutnya yang panjang berhamburan ke pundaknya saat angin senja bertiup kencang.
"Ah, Rika, Rika, apa makna pertemanan menurutmu?" gumamku dalam hati sambil menatap kepergian bocah berusia 4 tahun itu yang langsung menyatu dengan teman-temannya. Dari kejauhan tampak lesung pipit tercipta di pipinya.
Peladen, Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar