Selasa, 30 Juni 2026

Pertanyaan-Pertanyaan yang Turun Sore Ini

Di luar, sore menghias diri dengan cahaya kuning keemasaan. Anak-anak berlarian di taman selepas mandi sore dengan rambut disisir rapi ibunya. Orang-orang tua pencari nafkah ingin segera pulang selepas bermandi keringat seharian. Burung-burung berkemas kembali ke sarang.    

Di dalam, aku baru terbangun setelah mimpi dikejar anjing. Duduk terdiam dengan kepala pening, seolah digodam. Badan pegal. Tulang ngilu. Aku menggeliat beberapa kali. Kulihat sekeliling, keadaan kamar tak berubah: cangkang kopi sasetan, gelas dengan dedak kopi mengering, asbak yang tak mampu lagi menampung abu rokok, cucian di pojokan, dan buku-buku yang tak pernah selesai dibaca. 

Wahyu tuhan turun dengan tiba-tiba; menyuruh melemparkan tangan, kepala, dan kaki. Kugerak-gerakan kepala, tangan, ke kiri dan ke kanan. Kaki ditendang-tendang ke udara.  Kretekkkk.., kreteeek...,  

Sendiku mungkin berkarat, berkapur  calon pengidap osteoporosis, rapuh seperti pohon yang digerogoti rayap dari akar! 

Dan, masya Allah, gerak ringan saja mengengah-engahkan napasku. Lelah! Tidur sepanjang siang malah melemaskan. Namun, tak dapat lain, tiap hari kulakukan.

Aku perhatikan urat-urat di tangan. O, betapa kendornya seperti kakek penunggu mati. 

Kemana urat-urat yang dulu pernah mencuat membanting lumpur, mencetak pematang sawah bersama ayah? Kemana tubuh kekar, gesit, tangguh berjalan kaki belasan kilo meter? Aku kembali menggerak-gerakan badan. 

Namun, darah seperti malas untuk menggelegak. Tubuhku memang jarang dan susah berkeringat. Hampir tak pernah dipanaskan matahari. Tubuh ini kemudian menjelma semacam kulkas saja yang membekukan darah.

Inilah tubuhku yang terasing dari gerak dan panas matahari. Inilah pikiranku yang terasing dari akarnya. 

Tiba-tiba pertanyaan turun di sore ini, sejak kapan aku tidak olahraga? Mungkin delapan tahun lalu. Sejak kapan aku tak berpikir? Mungkin sejak entah.  


Ciputat, 18 Mei 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar