Minggu, 10 Mei 2026

Maaf, Bajingan Lipsing!

Sabtu siang di bawah terik matahari pukul sebelas, beberapa bulan lalu. Sabtu yang lain dari ribuan Sabtu yang pernah kutempuhi. 

“Bujangan..., bujangan…, Bujangan..., bujangan...” 

Suara itu meluncur dari pita suara seorang pria, kutaksir usianya 50 tahun, yang berjalan di pinggir jalan Legoso, Ciputat. Pakaiannya serba hitam dengan kepala ditutup belitan kain hitam juga. Selintas kulihat mukanya dibaluri keringat. Di perutnya tergantung sound berwarna hitam dengan panjang 2 jengkal orang dewasa kali satu setengah jengkal. Di belakangnya, seorang gadis kecil berkerudung kecil, dengan jari tangan menjepit plastik bekas wadah permen.

Aku dan seorang teman takjub suara pria itu. 

”Bagus juga ya suaranya,” komentarku. 

”Iya,” katanya dengan ragu seolah ada yang tak beres dengan pendengarannya atau mungkin dari sumber suaranya. Tak heran, beberapa detik kemudian, dia meralat omongannya. ”Wah, itu suara Rhoma Irama,” katanya.  

”Yang bener?” tanyaku sambil memasang telinga kuat-kuat. 

”Iya, coba dengerin!”  

”Bajingan!” seruku. Ya, tak syak lagi. Itu suara Bang Haji. Hampir saja aku terkelabui. ”Bajingan lipsing juga rupanya pengamen ini,” umpatan meluncur mulus dari bibirku. 

”Hahaha,” temanku ketawa mendengar umptan itu, di bawah terik matahai pukul sebelas, di hari Sabtu. Sebuah Sabtu yang lain dari ribuan Sabtu yang pernah kutempuhi. 

”Tak ada salahnya memang lipsing itu,” ungkapku dalam hati. Aku tidak sedang menghardik profesinya. Tapi cara dia melakukannya. Maksudnya, kalau karaoke, ya karaoke. Kalau cuma memutar musik, ya diputar saja, jangan pura-pura dia yang menyanyi. Barangkali pria itu memang mengikuti trend yang marak akhir-akhir ini di bajingan televisi! 

Maaf, aku tidak bermaksud bilang bajingan. Lupakan saja!

Beberapa waktu sebelum peristiwa itu, aku lewat sebuah mol pertigaan Lebak Bulus. Di situ sedang ada keramaian. Aku turun dari bus karena memang harus turun. Rupanya sebuah pertunjukan musik yang diliput sebuah stasiun televisi.

Di pentas, seorang penyanyi menari dan bernyanyi. Di belakangnya, dua orang pemetik gitar, dan penabuh drum. Mereka dikelilingi penari latar yang mengenakan kaos kuning tegas, dan celan jeans. Di bawah, ratusan orang berkeringat, bergoyang, menari, melonjak, melepas penat yang menguap di udara. 

Tapi, ketika kuperhatikan, gitaris dan penyaninya jauh panggang dari api. Mereka hanya bergerak tanpa menimbulkan suara. Bunyi-bunyian itu keluar sound, dari suara yang telah direkam.

Mereka sedang merayakan seolah-olah, seolah-olah bernyanyi, seolah-olah bermain musik, seolah-olah menonton. Dan tentu saja hanya mendapatkan seolah-olah. 

”Bajingan lipsing!” makiku sambil pergi.

Maaf, aku tidak bilang bajingan. Lupakan saja! 

Judul tulisan ini pun tidak diawali dengan bajingan. Kalau penglihatan Saudara masih mendapatkan kata bajingan, itu bukan kesalahanku. Itu penglihatan Saudara saja. Aku sarankan, kucek-kucek mata, kemudian cuci muka. Kalau kemudian Saudara mendapati kata bajingan itu masih tertera, segeralah periksa ke dokter mata. Dan itu di luar tanggung jawabku.  

Ciputat, 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar