Saya menjelaskan teknik menyeberang di zebra cross dengan cukup detail. Saya menulis bahwa ada siasatnya: berbarenganlah bersama penyeberang lain. Dalam hal ini pun ada tekniknya; ketika arah kendaraan melaju dari kanan, Saudara mesti berada di sebelah kiri rombongan. Ketika sampai di pertengahan jalan, segeralah berpindah ke sebelah kanan rombongan.
Lalu, bagaimana kalau cara-cara itu tak memungkinkan sementara Saudara harus segera menyeberang? Saat itu Saudara dituntut berani. Jangan menyeberang di tikungan, dan terakhir, berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Menyeberangkan!
Sungguh, saya merasa tulisan saya itu sangat bermanfaat, mengingat saya sendiri sebenarnya mengidap ketakutan menyeberang. Jika harus menyeberang, saya selalu dihantui beragam pikiran yang tumbuh cepat seperti jamur di musim penghujan. Pertanyaan-pertanyaan muncul susul-menyusul: Apakah pengendara melihat saya? Apakah dia sedang lepas kendali? Mungkinkah dia sedang mabuk? Atau jangan-jangan dia sedang latihan uji coba membunuh di jalanan?
Bagi saya, menyeberang adalah persoalan besar yang mengecamuk di kepala. Namun, keberanian saya biasanya makin tebal setelah membaca ulang tulisan "sakti" saya sendiri. Saya merasa, jika Saudara ingin menjadi penyeberang yang profesional, tulisan saya itu wajib dibaca seperti kitab Jurumiyah bagi pencinta ilmu nahwu.
Tapi, sebuah ironi terjadi beberapa hari lalu. Saya terlanggar sepeda motor di lampu merah jalan Kramat Raya, persimpangan Raden Saleh. Benar-benar ironis!
Begini ceritanya. Waktu itu hampir magrib. Saya bersama beberapa orang teman merasa sangat kelaparan. Sebagai orang-orang yang ingin menyambung napas, kami mencari makan. Entah atas inisiatif siapa, kami memutuskan mencari makan di seberang jalan.
Lampu merah menyala. Tiga teman saya langsung menyeberang duluan. Saya dan seorang teman lainnya agak belakangan. Kesalahan kami adalah tidak menyeberang di zebra cross, melainkan di sela-sela kendaraan yang sedang berhenti tapi mesinnya masih menggeram. Karena takut lampu hijau segera menyala, saya berlari.
Tapi malang tak dapat ditolak. Di sela kendaraan yang agak lega, sebuah motor melaju agak kencang. Pengendaranya tidak melihat saya karena terhalang mobil. Saya yang sedang kelaparan itu akhirnya menubruk motor tersebut. Saya terlempar ke belakang beberapa meter. Pengendara itu pun terjatuh.
Beberapa saat saya tertelentang di jalanan. Dalam keadaan panik, saya hampir tak merasakan sakit di perut, pinggul, atau betis. Tapi tak lama kemudian, perut saya terasa sangat mual karena beradu dengan setang motor; mualnya persis seperti diterjang bola yang ditendang dengan tenaga penuh.
Samar-samar, si pengendara motor itu marah-marah. Mulutnya meracaukan segala macam makian. Saya tidak menanggapi. Selain karena merasa salah, saya memang tidak suka adu mulut. Lebih baik bungkam sambil menahan sakit. Teman saya kemudian datang membantu saya berdiri, tapi dia pun tak berani membela saya dari makian itu.
Justru seorang sopir taksi yang baru turun dari kendaraannya yang berhasil membungkam si pengendara motor. Sopir itu gantian memaki si pemotor karena bodi taksinya tergores. Saat mereka berdua sibuk adu mulut dengan sengit, itulah kesempatan saya dan teman saya untuk "ngeloyor" pergi. Kami pun menyeberang dengan sangat hati-hati, mempraktikkan kembali apa yang pernah saya tuliskan di blog.
Dari kejadian ironis ini, saya menemukan resep tambahan: jangan sekali-kali menyeberang di sela-sela kendaraan, tetaplah di zebra cross.
Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan belasungkawa kepada diri saya sendiri atas kejadian tersebut. Bagi Saudara-saudara pembaca, jika bertemu dengan saya, panggillah saya: Penulis Siasat Menyebrang Jalan Ironis, atau singkat saja: PSMJI.
Dan jika kebetulan melihat saya hendak menyeberang, bantulah saya sesuai dengan apa yang saya tuliskan. Yakinlah, menolong saya adalah bagian dari ibadah karena menyangkut keselamatan makhluk Tuhan.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar