Sabtu, 11 April 2026

Riwayat Saya Punya Dompet dan Sabuk

Selepas Isya, saya nongkrong di warkop tak jauh dari tempat tinggal. Tempat duduknya kursi panjang mengilap licin. Entah berapa pantat pernah bergesekan dengannya kemudian diam-diam kentut yang didesain tanpa bunyi. Hanya si pemilik kentut dan Tuhan yang tahu. 

Kursi macam itu mengingatkan bangku madrasah diniyah di kampung saya. Mungkin juga madrasah-madrasah lain, belasan tahun lalu. 

Empat orang sudah duduk di bangku itu. Mereka asyik ngobrol. Sesekali mengganyang bala-bala atau gehu yang sudah tidak aktual lagi. Kemudian meneguk kopi perlahan, seolah menghayati daya magisnya kopi, seolah itu minum kopi terakhirnya karena besok dijemput paksa Izrail. 

Kebetulan bahasa pengantar obrolan mereka adalah Sunda. Sebab sesama ras, sejauh apa pun omongan mereka, saya paham juga. Dari cara ngobrol, saya simpulkan, mereka saling kenal. Setidaknya pernah beradu batang hidung. 

Saya duduk di samping orang yang di hadapannya tergeletak sabuk berjuntai-juntai aneka warna. Supaya tidak bercerai-berai seperti politikus sekarang, leher sabuk-sabuk itu diikat. Di sampingnya beragam jenis dompet dengan aneka warna pula. Bahannya entah kulit ular, cecak, katak, atau jangan-jangan kulit manusia.  

Di hadapan tiga orang lainnya adalah gelas kopi. 

Sebagai  pendatang baru, saya membuat terobosan baru, memesan segalas susu putih, tanpa kopi sebutir pun. Untuk kesehatan. Sesekali. 

Kemudian entah muncul dari mana, seorang waria hadir. Bernyanyilah dia. Pinggulnya loncer berputar sebagaimana penari India. Berhambur dari mulutnya Cinta Satu Malam-nya Melinda. 

Cinta satu malam, oh, indahnya 

Cinta satu malam akan selalu kukenang 

Sebagai jenis penghargaan terhadap penyanyi tersebut, semua hadirin, bungkam. Tapi tak ada yang menilik sumber suara.  

"Eh, gagaro wae (eh, garuk-garuk aja)!" seru si penyanyi itu kepada si tukang sabuk dan dompet, sambil mencubit lehernya yang berkeringat. Rupanya dia satu ras juga. Mungkin juga bukan. Bisa jadi terampil bahasa Sunda karena pergaulan. 

Orang yang dicubit menunduk seperti pemuda yang dilamar janda muda. Dia pun merogoh sakunya, mengulurakan beberapa receh, tanpa melihat. Setelah si penyanyi berlalu, suasana kembali seperti biasa, yang minum kopi, diangkatlah gelasnya; yang merokok, diisaplah asapnya; yang masih lapar, dikunyahalah bala-bala dan gehu. 

Perlu diketahui, saya adalah orang tunasabuk jenis apa pun. Pernah punya memang saat sekolah. Namun, setelah lulus, lulus juga sabuk saya. Tak pernah lagi punya benda itu. 

Sementara dompet, tak pernah punya seumur-umur. Jadi, tak pernah kehilangan dompet. Adalah mustahil kehilangan benda yang tak pernah dimiliki, bukan?

Timbul pertanyaan, mungkinkah ini waktunya memiliki dua benda itu. Bukankah anak SD, bahkan anak PAUD saja bersabuk dan berdompet? Hanya makhluk di zaman batulah yang tak memilikinya. Bukankah sekarang berada di zaman dompet dan sabuk?  

Itulah pergulatan pemikiran saya di warkop saat itu. Lalu mengingat, menimang, menperhatikan, menghitung uang di saku celana. Setelah diperkirakan cukup, saya mempertimbangkan untuk membeli.  

Mulailah bertanya made in mana benda-benda itu? Bagaimana kualitasnya? Berapa harganya?

Tentu saja dia menjawab dengan semangat, sebagaimana jurkam partai atau calon anggota DPR ditanya programnya.  

Setelah ditawar-tawar dan cocok harganya, saya beli dua-duanya. Sabuk cokelat, dompet hitam.

Berhubung saya ingin langsung mencobanya, saya pun pulang. Langsung celana dibelit sabuk baru. Mungkin malam itu, sayalah satu-satunya yang memakai sabuk baru se-Kecamatan Ciputat.  

”Celana lo gengsinya akan melesat,” komentar kawan sekamar. ”Meski isinya kempes, lo bisa taro potret perempuan di dompet. Kalaupun tak ada, setidaknya lo punya dompet. Lo udah sederajat dengan gua,” tambahnya. 

Saya tertawa. Entah kenapa hidup terasa lengkap seperti bertahun-tahun menjomblo, seketika menemukan orang yang rela disebut kekasih. Tapi tiba-tiba saya diam. Ada kecemasan menyergap. Pasalnya, ke depan, entah kapan, akan terbuka kehilangan. Kehilangan dompet! Jika sebelumnya saya tak tertarik dengan pengumuman kehilangan di pamflet, di kemudian hari, mungkin besok atau lusa, saya harus mengindahkannya. Tambah-tambah kerjaan saja. 

Tapi ya sudahlah, itu urusan belakangan. Hidup memang demikian. Hari ini punya, besok tiada. Yang jelas sekarang, menikmati kesetaraan derajat dengan taman sekamar. Setidaknya celana saya tak beda dengan celana cukong dalam arti berdompet. 

Melalui tulisan ini, saya imbau seimbau-imbaunya; kepada Saudara-Saudari dan sembarang pihak yang tidak bisa diabsen satu per satu, jika menemukan dompet di jalanan, toilet terminal, di pasar, atau dimana saja, saya adalah pihak yang termasuk layak ditanya. 

Terima kasih atas perhatiannya.

Legoso, Ciputat, 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar