Minggu, 05 April 2026

Magnet Hamid Jabbar

Penyair Hamid Jabbar (Foto: sepenuhnya.com/)
Pada 29 Mei 2004, penyair berambut gondrong ditutup kopiah hitam membacakan puisi di hadapan ratusan orang. Gerak-gerik tangan yang menjepit secarik kertas, perawakan mungilnya semacam puyuh dijangkit berahi. Ke sana ke mari, mengitar panggung, sesekali berdiri di podium. 

Adalah Hamid Jabbar.

Saya terjepit di antara ratusan hadirin di halaman parkir kampus UIN Ciputat. Hanya melongo menyimak atraksinya seraya bulu kuduk tiba-tiba teracung. Bulu-bulu itu seperti berubah jadi serbuk besi disedot medan magnet berbentuk suara dari bait-bait puisi. Sepanjang ingatan saya, baru kali ini meyimak pembacaan puisi yang membangunkan bulu kuduk. 

Adalah Hamid Jabbar. 

Magnet di atas panggung itu kemudian menuju klimaksnya. Dan, gudubrak! Dia jatuh di lantai panggung. Dia kini menggerakkan ratusan tangan untuk bertepuk. Termasuk tangan saya.

Magnet itu kembali membaca puisi. Sambil menengok ke arah pemain musik yang dari tadi termangu, dia meminta blues. 

“Coba..., coba..., minta diiringi blues! Blues!” serunya sambari terengah.  

Kemudian sajak-sajaknya mengalir di antara melodi meliuk-liuk, timbul-tenggelam. Kadang menjerit! Tapi beberapa menit kemudian, magnet itu kembali terjungkir kembali ke lantai pentas. Tidak seperti sebelumnya, kini dia tak bangkit lagi. Sementara ia terkapar, tepuk tangan berhamburan tak henti-hentinya. 

Entah apa yang terjadi, seseorang naik pentas, tergesa untuk menghampiri magnet yang masih terkapar. Beberapa orang menyusul. Kemudian mereka membopong magnet itu turun. 

Saya yang terjepit di antara ratusan penonton cuma melongo dengan pertanyaan, “Apa ini bagian dari atraksi baca puisi?” 

Belum bisa menjawab pertanyaan itu, orang-orang kemudian berkerumun ke pentas. Sesorang mengambil mikropon sembari mengatakan, magnet itu dilarikan ke klinik. Sementara napasnya tak bisa dihela dan diembuskan lagi untuk baca puisi selamanya.  


Ciputat, 29 Mei 2004


Tidak ada komentar:

Posting Komentar