Waktu itu saya hanya mengiyakan, malas berdebat karena memang tak punya data terkait dampak sistemik jasa pencucian kepada pelanggannya. Diam saya mungkin diartikan sepakat, padahal aslinya belum terpikir untuk menyerahkan urusan daleman kepada orang asing, apalagi harus bayar. Bagi saya yang waktu itu masih mahasiswa, masalahnya bukan soal candu, tapi soal pengeluaran.
Namun, itu dulu.
Keadaan berubah saat saya mulai sedikit punya pekerjaan yang kadang mengharuskan kaki ini melangkah ke luar kota. Perlahan, prinsip saya goyah.
Dulu, saya mencuci pakaian sendiri, meski seringnya cucian hanya berakhir direndam deterjen sampai berhari-hari, bahkan seminggu hingga warnanya berubah dengan paket bau tak sedap. Reaksi kimia daki yang dicampur deterjen dan pewarna kain memang menghasilkan aroma luar biasa yang khas.
Jika sudah terjadi reaksi kimia seperti itu, barulah saya memaksakan diri untuk mencuci. Hukum mau tidak mau plus apa boleh buat berlaku karena tak ada pihak mana pun yang menawarkan diri sebagai relawan. Memaksakan diri karena sudah tak sehelai pun pakaian yang bisa dikenanakan.
Bahkan pernah saya sampai pada titik nadir mengenaskan, pertahanan terakhir, celana dalam, sudah tak ada lagi yang bersih. Jika sudah sampai pada titik itu, biasanya menggunakan jurus celana dalam terbalik.
Saya diberkahi kesadaran mengantisipasi. Untuk menghindari ketiadaan pakaian bersih, sementara membeli baru ke toko tak mampu—saya belum sampai pada taraf cukong atau koruptor yang bebas merogoh kocek—maka hukum 'apa boleh buat' berlaku, memaksa saya menggunakan jasa pihak lain.
Akhirnya saya sowan ke tukang laundry dengan enggan.
Satu-dua kali saya masih sanggup menahan diri untuk tidak keterusan. Namun, sejak kali kesepuluh, frekuensinya melesat cepat menjadi dua puluh, tiga puluh, hingga malas menghitungnya. Frekuensi itu tentu saja tidak berlangsung sebulan, tapi memakan tahun.
Barulah saya menyadari apa yang dikatakan teman saya. Sepertinya saya benar-benar sudah dan akan ketagihan karena ketika tak ada jadwal bepergian pun, tetap saja sowan ke tukang laundry.
Sebagai catatan penting: dalam intensitas sowan ke laundry itu, saya hanya menyerahkan baju dan celana saja. Sementara celana dalam tetap saya cuci sendiri. Itu pertahanan terakhir privasi saya yang mesti dijaga mati-matian dalam segala cuaca dan kondisi.
Namun, suatu kali pertahanan itu jebol juga. Saya kecolongan. Karena kurang teliti memeriksa tumpukan cucian, satu celana dalam terselip dan jatuh ke tangan tukang laundry. Saya membayangkan, entah bagaimana dia mengambil benda itu—mungkin dengan sarung tangan khusus atau paling tidak dilapisi plastik.
Saya membayangkan, di dalam perut mesin laundry, segalanya diaduk menjadi satu. Rinso dan air bercampur, berpelukan erat, saling melilit, Lalu, diperas, dikeringkan, disetrika, dikemas.
Pernah muncul pertanyaan serampangan, apakah mungkin pakaian saya disatukan dengan pakaian orang lain yang tak dikenal dengan riwayat ragam penyakit dan persoalan. Saya diganggu pertanyaan filosofis, apakah celana dalam saya diperlakukan sama dengan pakaian lain, dipegang-pegang begitu saat disetrika?
Pikiran dalam bentuk pertanyaan semacam itu kemudian lambat-laun menghilang seiring intensitas saya sowan ke tukang laundry semakin sering.
Dan, cucian celana dalam yang dulu dipertahankan mati-matian agar tidak jatuh ke pihak lain itu, kini bukan lagi kecolongan, tapi diserahkan. Pasrah bongkokan Menyerah tanpa syarat.
Setelah benar-benar ketagihan, saya tak punya pertanyaan dan pikiran apa pun tentang hubungan pakaian, cucian, dan tukang laundry. Semuanya terasa natural saja.
Ciputat 2011, diperbaiki 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar