Sabtu, 11 April 2026

Pertahanan Terakhir: Celana Dalam. Itu Pun Kini Jebol Juga

Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah memperingatkan saya dengan sungguh-sungguh: jangan sekali-kali mencoba jasa tukang laundry. Katanya, daya ketagihannya luar biasa. Sekali mencoba, kau bisa sakau. Candu.

Waktu itu saya hanya mengiyakan, malas berdebat karena memang tak punya data terkait dampak sistemik jasa pencucian kepada pelanggannya. Diam saya mungkin diartikan sepakat, padahal aslinya belum terpikir untuk menyerahkan urusan daleman kepada orang asing, apalagi harus bayar. Bagi saya yang waktu itu masih mahasiswa, masalahnya bukan soal candu, tapi soal pengeluaran.

Namun, itu dulu. 

Keadaan berubah saat saya mulai punya pekerjaan yang mengharuskan kaki ini melangkah ke luar kota. Perlahan, prinsip saya goyah. Dulu, saya sanggup mencuci sendiri, meski seringnya pakaian hanya berakhir direndam deterjen sampai seminggu hingga warnanya berubah. Ada kalanya saya baru mencuci saat sudah tak punya lagi helai pakaian yang bisa dipakai, termasuk celana dalam yang sudah mencapai memakai kembali yang dikenakan dengan jurus dibalik.

Keadaan itulah yang memaksa saya menyerahkan urusan cuci-mencuci kepada orang tak dikenal dan harus bayar pula. Memang harus bayar. 

Satu-dua kali saya masih sanggup menahan diri. Tapi sejak kali keempat, frekuensinya melesat cepat menjadi sepuluh, dua puluh, hingga tak terhitung lagi. Sebagai catatan penting: dalam intensitas laundry itu, saya hanya menyerahkan baju dan celana saja. Celana dalam tetap saya cuci sendiri. Itu pertahanan terakhir privasi saya.

Namun, suatu kali pertahanan itu jebol juga. Saya kecolongan. Karena kurang teliti memeriksa tumpukan cucian, satu celana dalam terselip dan jatuh ke tangan tukang laundry. Saya membayangkan, entah bagaimana dia mengambil benda itu—mungkin dengan sarung tangan khusus atau paling tidak dilapisi plastik.

Di dalam perut mesin laundry, segalanya diaduk menjadi satu. Rinso dan air bercampur, memeras segala kotoran dalam putaran menit yang ajek. Pakaian dipindah dari satu ruangan ke ruangan lain, diperas, lalu dikeringkan, disetrika, dikemas. 

Sebelum menggunakan jasa laundry, saya sempat membayangkan, pakaian saya dicampur aduk, berpelukan erat, saling melilit dengan pakaian orang lain yang tak dikenal dengan riwayat ragam penyakit dan persoalan. 

Lalu, saat awal ketagihan, saya diganggu pertanyaan teologis, apakah celana dalam saya diperlakukan sama dipegang-pegang begitu saat disetrika?

Setelah benar-benar ketagihan, saya hanya geli menjawab pertanyaan teologis sendiri. Hal-hal yang tidak diketahui sebaiknya jangan terlalu dipikirkan.  


Ciputat 2011, diperbaiki 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar