Jumat, 22 Mei 2026

Tuhan Maha Jomblo

Sebagaimana tertera di dalam kitab suci yang sering dibaca sebagian umat di malam Jumat, “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36].

Tidak cukup sekali rupanya Tuhan mengatakannya. Cek saja di ayat lain, “Dan Dia telah menurunkan dari langit air, maka Kami keluarkan dengannya berpasang-pasangan dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam (warna dan rasa) (Thaahaa: 53). Saya temukan juga di ayat-ayat lain di surat berbeda. Tapi tak perlulah diseret semuanya ke sini, bukan?

Namun, tentu saja saya harus menyertakan satu lagi ayat yang paling ngetop karena kerap dikutip pada surat undangan pernikahan. Tak sah sepertinya mengundang tanpa ayat itu. Begini: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenis mu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21).

Jadi jelas, segenap makhluk, termasuk manusia dan undur-undur, bangsat dan biri-biri, keledai dan lain-lain, hidup berpasang-pasangan. Sekali lagi berpasangan! Lalu, bagaimana pasang-pasangannya makhluk hermaprodit? Pasti ada penjelasannya itu, tapi saya tidak tahu. Karena saya manusia, mari bicara manusia saja.

Apa yang dimaksud berpasangan dalam alam manusia? Ya jodoh. Mungkin status sebelumnya, pacar, juga termasuk ini. Cuma memang nasib mendapatkan pasangan tiap manusia berbeda-beda. Seseorang bisa saja susah menemukan pasangan. Pergi ke utara, selatan, timur, dan barat, susah benar ditemukan. Terbang ke atas awan, tak ada. Menelusup ke dasar laut, suwung. Jungkir balik mencari ke goa-goa juga nihil.

Dia meringis di tiap Senin, goncang saat Selasa, kelabu malam Rabu, merinding hari Kamis, sengsara saban Jumat, membeku masuk Sabtu, dan oh, meraung dan terpukul di malam Minggu. Karenanya ia kadang bertanya saat sepi sambil mengasah belati, “Ah berada di liang mana Tuhan sembunyikan pasanganku?”

Sesekali manusia jenis ini sedikit menggugat Tuhan karena merasa tak adil terhadap dirinya. Fasilitas doa pun dimanfaatkan sebaik mungkin di setiap helaan napasnya. Juga termasuk jalan lain dengan datang ke dukun atau tukang ramal jempolan. Singkat kata, statusnya sebagai lajang sampai mendekati klimaks minta ampun dan kadaluarsa tak terperikan.

Sementara manusia lain ada yang begitu mudahnya mendapatkan pasangan. Manusia ini mendapatkannya secepat kilat, seolah pasangan keluar dari lemari kamarnya sendiri. Didapat dengan gampang semudah ia meludahkan air liurnya. Bahkan sampai kelelahan bikin kepanitiaan ad hoc untuk memilah dan memilih sebetulnya mana yang betul-betul pasangannya sebab kiri-kanan, depan-belakang, bisa diajak ke tempat paling sepi di dunia.

Perlu dihitung juga golongan ketiga, mereka yang mendapatkan pasangan dengan status tidak-tidak, yaitu tidak susah, tapi juga tidak mudah. Atau lebih tepatnya sedang-sedang saja. Ini mazhab poros tengah. Setiap usaha, daptlah ia. Tanpa usaha, tidak dapatlah ia. Begitu kira-kira. Kira-kira begitu.

Sementara pencipta makhluk yang berpasang-pasangan, Tuhan, tak memiliki pasangan sama sekali. Dia Maha Penyendiri. Dalam sifat dua puluh yang dihafal masa kecil, ada yang dinamakan Al-Wahid (Wahdaniyah) atau Maha Tunggal. Dalam surat Al-Ikhlas disebutkan, Ia Maha Satu tak beranak dan diperanakkan, tak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Atau dengan bahasa ekstremnya, Maha Jomblo. Ia lain sendiri pokoknya.

Hal-hal yang berkaitan dengan zat Tuhan tentu tidak main-main. Jika mencipta, dia maha pencipta dari segala maha dan sejati. Sebagai kekal, dia maha kekal yang sejati. Dan sebagai jomblo tentu saja begitu. Dia jomblo sejati. Sempurna. Tak ada jomblo sesejati dan sesempurna Dia.

Sementara jomblo yang dialami makhluknya hanya main-main, nisbi, afkiran, ecek-ecek dan semu atau jomblo kadang-kadang. Maksudnya, sekali waktu dia pernah memiliki pasangan kemudian dalam waktu yang lama menjomblo telak sampai dia hendak gila memikulnya.

Kalau ada orang jomblo menahun seumur hidup atau dalam waktu yang sukar dilukiskan penulis mana pun, apa ia disebut jomblo sejati dan sempurna? Oh, tidak bisa, ia tetap saja jomblo nisbi dan ecek-ecek karena paling tidak, di pikirannya tak ingin jomblo.

Lalu, bagaimana kalau ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan jomblo seumur hidup dan tak pernah memikirkan sama sekali untuk berpasangan dengan siapa pun atau benda tertentu? Saya cuma mengelus dengkul kalau begitu. Terserah dia sajalah.


Jakarta, 17 Februari 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar