Jumat, 22 Mei 2026

Menipu Tuhan dan Setan

Soal tipu-menipu dengan ragam modusnya yang dilakukan pejabat kepada rakyat adalah hal yang biasa saja. Misalnya dengan mengoplos pertamax dengan pertalite yang merugikan negara sekian triliun. Sudah bukan isu lagi. Sungguh hal yang demikian terlalu sering sehingga semua orang menganggap angin lalu sambil mengutuk sih. 

Namun, sebagaimana lumrahnya kasus tipu-menipu yang lain, beberapa minggu kemudian lenyap informasinya. Sebab apa? Ada tipu-menipu yang baru oleh pejabat lain. Rakyat mengutuknya pula, kemudian melupakannya.

Jadi, soal tipu-menipu yang dilakukan pejabat sudah tidak menarik lagi bagi saya. Justru ulah seorang kawan yang membuat saya terbengong-bengong karena menipu kepada dua pihak sekaligus. Dua pihak yang tak bisa dibayangkan kekuatannya.

Karena itulah, sepertinya tuhan harus menciptakan neraka khusus untuk kawan saya yang satu ini. Neraka tingkat delapan yang statusnya khusus dihuni dirinya sendiri. Dia mesti diganjar dengan segala kreasi siksaan yang tiada taranya. Dosanya lain dari yang lain soalnya. Menipu dua pihak, tuhan sekaligus setan. Begini:

Meski seminggu sekali, teman saya satu ini paling malas sembahyang Jumat. Padahal sehari-harinya juga belang-bentong. Menurutnya, sembahyang jenis itu harus dilakukan bareng-bareng sehingga ukuran waktunya tergantung orang lain. Juga ada khotbahnya. Berbeda dengan di kampungnya, di kota bisa dilakukan setengah jam. Khotib jumat seolah ketemu kekasih yang lama di rantau orang. Menumpahkan kerinduan dari A sampai Z dari Alif hingga Ya.

“Dan Saudara barangkali pernah dengar pomeo kurang ajar, ‘jika ingin mengantuk, dengarkanlah khotbah Jumat’,” katanya.

Menurut dia, uzurnya sembahyang karena dua hal. Pertama, karena gila. Kedua, karena tidur.

Nah, dari keterangan ini, muncul keisengannya setiap hari Jumat. Kira-kira pukul 11.00-11.30, dia berusaha tidur. Dalam tidur, mimpinya bisa ke Makkah untuk sembahyang di Tanah Suci. Tapi mimpi tak bisa diformat, seringnya yang keluar dari jalur syariah. Kemudian terbangun selepas Jumatan jauh berlalu.

“Wah, elu kurang ajar! Ibadah kok diakali. Tuhan kok disiasati!” komentar saya. “Diving itu namanya! Menipu! Kartu merah!”

Kalau yang pertama ulah kawan saya berkaitan dengan Jumat, kali ini dengan Subuh. Sembahyang yang satu ini terberat ditunaikan bagi siapa pun, terutama untuk dirinya. Ya, dirinya sendiri.

Dulu ketika kecil, saat subuh ia mesti berkali-kali ditendang bapaknya yang kakinya lebar dengan jempol kaki cantengan yang sehari-hari tukang bikin pematang sawah. Kawan saya ini cuma menggeliat saja. Ibunya yang tukang menyapu halaman dan tandur di sawah, mencuci piring, dan pakaian dengan tenaga yang segar, pukulannya hanya mampu membuat matanya melek beberapa detik saja. Kemudian ingatan kawan saya terbetot lagi ke alam tidur.

Hal yang demikian berlangsung sampai remaja dan tentu saja hingga dewasa. Berakar dalam tubuh dan jiwanya. Entah bagaimana ceritanya, kawan saya ini lain dari kakak adiknya dan tentu saja dengan kedua orangnya.

“Kamu sudah dewasa, dosa tanggung sendiri ya! Jangan seret-seret orang tua kelak!” seru ibunya. Barulah setelah keduanya billing begitu justru kawan saya agak terbangun. Agak! Itu artinya dia masih antara tidur dan jaga.

Pihak setan merasa waswas. Tugasnya yang hampir selesai bisa gagal. Setan menyimak kawan saya yang belum berniat mengambil air wudlu. Lalu bertepuk tangan karena kawan saya menarik selimut.

Namun, di dalam selimut itu, kawan saya malah iseng sendiri.

“Saya akan menipu setan. Saya akan pura-pura tidur. Nanti setelah dia merasa tertipu, saya akan bangun dan sembahyang,” bisik kawan saya. Lalu, di balik selimut, kawan saya membangun dalil. Setan kan penggoda kelas wahid sehingga kalau menipu mereka ia akan memiliki kebanggaan tersendiri. Mungkin juga dapat kucuran pahala. Menipu kepada penggoda kawakan malah dapat pahala. Logika matematisnya min kali min sama dengan plus.


26 Februari 2025

Pernah dimuat di Arina dengan judul yang sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar